
Kuntilanak itu terbang mencari mangsa kembali, tak puas baginya jika hanya mengganggu satu atau dua warga, dia inginnya semua warga desa ketakutan malam ini.
"Hihihihihihihi"
Kuntilanak itu mencari warga yang masih belum tidur di jam segini, ia akan bikin warga tersebut ketakutan sepanjang malam.
Bu Rohani berjalan keluar dari area rumahnya, di jalanan yang sepi bu Rohani melangkahkan kakinya, tak ada rasa takut sedikitpun di hati bu Rohani meskipun ia tidak menemukan satu orangpun di jalanan.
"Bu Siti jam segini udah tidur gak ya, aku masih belum balikin rantangnya, aku kepikiran banget kalau belum balikin barangnya, aku harus ke rumahnya, gak akan ada apa-apa yang terjadi sama aku, aku yakin itu"
Dengan keyakinan penuh bu Rohani berjalan dengan tenang meskipun di kanan dan kirinya kosong, tidak ada seorangpun yang terlihat namun ia tak gentar sama sekali, ia tidak merasa takut sedikitpun.
Lama kelamaan bu Rohani mulai menjauh dari rumahnya sendiri, ia berniat ingin mendatangi rumah bu Siti untuk mengembalikan rantang milik bu Siti, ia rela keluar malam demi mengembalikan barang tersebut.
Wussshhhh
Angin kencang tiba-tiba datang membuat semua daun-daun pepohonan bergerak, langkah bu Rohani langsung terhenti, ia menatap sekelilingnya yang berubah menjadi angker, seumur hidup baru kali ini merasakan hawa tak nyaman di desanya.
"Kok perasaan aku gak enak banget ya, apa aku kembali aja ke rumah, tapi aku sudah setengah jalan, tanggung kalau aku balik lagi ke rumah, lebih baik aku jalan lagi, gak akan ada apa-apa kok, ini cuman angin doang, biasa itu mah" bu Rohani masih sempat berpikir positif, meskipun bulu kuduknya mulai berdiri.
Kaki bu Rohani kembali melangkah, jarak rumah bu Siti dari rumahnya lumayan jauh, namun tak menyulitkan niatnya sama sekali, ia yakin bisa sampai di sana dengan selamat.
Pandangan bu Rohani menatap ke kanan dan kiri, semua pintu-pintu rumah tertutup dengan rapat, tak ada satupun orang yang terlihat di matanya, mereka benar-benar mengurung diri di dalam rumah.
"Kenapa semua orang pada gak ada yang keluaran rumah, ini masih setengah 8, masa jam segini mereka udah pada tidur, biasanya kan mereka tidur jam 11 atau 12 malam!" bu Rohani keheranan ketika tak ada satupun orang yang terlihat di matanya.
__ADS_1
"Apa jangan-jangan mereka semua takut pada Sekar, sehingga mereka memilih untuk berada di dalam rumah ketimbang di luar?" dugaan bu Rohani, sebab berita Sekar sudah menyebar luas ke seluruh desa anggrek bahkan sampai ke desa sebelah.
"Kata orang-orang Sekar lagi gentayangan, tapi gak mungkin dia gangguin orang jam segini, pasti dia akan mulai mengganggu orang-orang sekitar jam 12 malam, gak mungkin jam segini" yakin bu Rohani.
Nyali bu Rohani masih kuat, ia terus melangkah meskipun desanya berubah menjadi desa hantu yang tak berpenghuni sama sekali.
"Hihihihihihihi"
Telinga bu Rohani mendengar suara kuntilanak namun suaranya terdengar jauh, bu Rohani langsung tegang.
"S-suara apa itu?" panik bu Rohani di tengah jalan.
"Hihihihihihihi"
"Itu kayaknya suara kuntilanak, aku harus pergi dari sini, jangan sampai dia lihat aku, aku gak mau di ganggu sama dia"
Seorang kuntilanak mendarat tepat di jalanan yang sepi, ia celingukan mencari keberadaan warga yang keluyuran di jam segini.
Bu Rohani yang tengah bersembunyi di semak-semak menutup mulut dengan tak percaya saat matanya menangkap dengan jelas wajah kuntilanak yang seram dan menakutkan.
"A-apa dia Sekar, jadi seseram itu Sekar rupanya, pantas saja semua orang ketakutan melihatnya, aku harus pergi dari sini sebelum dia sadar kalau aku ada di sekitarnya, aku gak mau di ganggu sama dia kayak orang-orang lainnya" pelan bu Rohani yang panik.
Bu Rohani dengan sepelan mungkin keluar dari dalam semak-semak, ia berlari mencari tempat yang aman baginya, ia tidak mungkin berada di dalam semak-semak itu, ia khawatir kuntilanak seram itu tau kalau di dalam semak-semak ada dirinya.
Dengan panik bu Rohani pergi dari sana, ia sampai lupa tujuan awal ia keluar rumah, ia sudah tidak peduli lagi tentang apapun, yang penting dia bisa pergi dari sini dan selamat dari kuntilanak itu.
__ADS_1
"Aku harus bisa pergi dari sini, kuntilanak itu gak boleh ikutin aku, aku harus bisa pulang lagi ke rumah, aku gak mau berada di sini lebih lama lagi!"
Dalam keadaan yang panik dan tegang bu Rohani berlari menuju rumahnya, ia melintasi jalanan setapak yang lebih dekat ketimbang melintasi jalanan raya, namun sayangnya jalanan tersebut di kanan dan kiri banyak semak-semak belukar.
Bu Rohani sesekali menghadap ke belakang melihat apakah di belakang ada kuntilanak itu atau tidak.
"Aku harus bisa pergi dari sini, aku harus pergi yang jauh"
Kaki bu Rohani berlari dengan tergesa-gesa, panik, tegang dan cemas terus terpancar di wajahnya, kekhawatiran terus menjadi-jadi, seluruh tubuhnya di selimuti rasa takut yang tiada tanding.
Bruk
Bu Rohani terjatuh, ia tak sengaja menabrak sesuatu sehingga menyebabkan dia jatuh.
Bu Rohani tercekat, ia melihat kain panjang berwarna putih di depannya, bersamaan dengan itu bau busuk tiba-tiba datang menyeruak, bu Rohani langsung gemetar.
"Siapa yang aku tabrak, seumur-umur aku gak pernah lihat ada pohon berwarna putih" batin bu Rohani masih takut untuk melihat siapa yang sudah ia tabrak, ia berpikir kalau yang ia tabrak adalah pohon.
Tubuh bu Rohani terus di selimuti rasa takut, dengan ketakutan yang tiada tanding bu Rohani mendongakkan kepalanya menatap siapa yang ada di depannya.
"Huaaaaaaaaa!" menjerit keras bu Rohani saat melihat dengan jelas mata melotot milik kuntilanak yang tadi ia jumpai di jalanan.
Bu Rohani langsung jatuh pingsan, kuntilanak itu sungguh begitu menyeramkan, bahkan sampai detik ini tak ada yang bisa tegar melihat seram dan menakutkannya wajah kuntilanak itu.
Tatapan tajam kuntilanak terus tertuju pada bu Rohani yang tergeletak tak sadarkan diri ketika melihat wajahnya yang seram dan menakutkan.
__ADS_1
"Suruh siapa sok jagoan pake keluar rumah malam-malam segala, dia masih belum percaya kali kalau desanya ini lagi di teror sama hantu, sekarang dia tau rasa kan!" geram kuntilanak itu pada warga desa, meskipun ia tidak di apa-apain sama warga, namun di hatinya ia mempunyai rasa senasib pada Sekar yang merupakan teman sebangsanya.
Kuntilanak itu menghilang dari sana, ia tidak peduli lagi dengan bu Rohani yang jatuh pingsan akibat ulahnya.