
Malam harinya.
Suasana desa menjadi senyap, tidak ada satupun orang yang keluaran rumah, mereka semua memilih mengurung diri karena takut pada hantu Sekar yang sedang di perbincangkan oleh warga-warga.
Bu Salamah berada di depan tv sendirian, suami dan anaknya tidak ada di rumah, mereka lagi kerja dan akan pulang jam 10 malam atau paling larut jam 00.
Bu Salamah menonton tv dengan tenang, tidak ada gangguan apapun yang terjadi.
"Orang-orang bilang Sekar jadi hantu, kok aku penasaran ya kayak apa hantu Sekar yang katanya seram banget" bu Salamah tiba-tiba teringat keresahan warga.
"Coba deh aku keluar cari dia, mudah-mudahan di sana ada dia, tapi sebelumnya aku belum nyuci piring, aku beresin itu dulu baru keluar nyari hantu Sekar"
Bu Salamah mematikan tv, ia bangkit dari duduk dan berjalan ke dapur.
Bu Salamah menghidupkan kran, ia langsung tercekat ketika melihat keanehan di rumahnya.
"Aaaaaaaaaahhhh" teriak bu Salamah memundurkan tubuh tercekat melihat apa yang ada di depannya.
"D-darah, kenapa air ini berubah menjadi darah?" terbata-bata bu Salamah saat air kran yang mengalir berwarna merah semerah darah.
"Ini pasti ada kesalahan, gak mungkin ini darah" tak percaya bu Salamah padahal jelas-jelas air di rumahnya berwarna merah dan terus mengalir dengan lancar.
Bu Salamah berlari ke kamar mandi, betapa terkejutnya ia kalau air di dalam kamar mandi berubah menjadi merah seperti di dapur.
"A-apa ini, kenapa semua air di rumah ku berubah menjadi darah, siapa yang sudah mencemari air di sini"
"Ini pasti ada warga yang jahat dan lakuin ini pada ku, awas saja akan aku balas mereka semua" dalam keadaan seperti ini bu Salamah masih overthinking pada warga yang tidak tau menahu tentang hal ini.
Bu Salamah kembali ke dapur, air kran masih terus mengalir darah, bu Salamah tak percaya dengan apa yang dia lihat saat ini.
"Masa iya air di rumah ku berubah menjadi darah, kemarin-kemarin gak kayak gini, semuanya baik-baik aja, kenapa sekarang malah semua berubah" heran bu Salamah dengan terus memperhatikan kran air yang mengalirkan air berwarna merah.
__ADS_1
Bu Salamah dengan ragu-ragu mendekati wastafel, dia dengan gemetaran mengambil sedikit air itu untuk memastikan apakah itu beneran darah atau tidak.
Bu Salamah mendekatkan noda merah yang ada di tangannya, dengan cepat bu Salamah langsung mengelap tangannya dengan sapu tangan.
"Hueek baunya amis banget, darah siapa yang sebenarnya mengalir seperti ini!"
"Apa jangan-jangan ini darahnya Sekar, air ini memang berasal dari sumur yang di dalamnya ada tubuh Sekar, iiiih kenapa aku harus nyentuh darah wanita sialan itu!" jijik bu Salamah terus menerus mengelap tangannya.
"Pantesan aja air kran berubah jadi merah ternyata dia biang keroknya, udah mati masih aja buat aku jengkel!" maki bu Salamah yang benci berat pada Sekar.
Brakkk!
"Aaaaaahh!" teriak bu Salamah kaget ketika mendengar suara benda jatuh di rumahnya.
"Suara apaan itu, kok kayak ada barang yang jatuh, aku harus lihat apa yang barusan jatuh"
Dengan rasa penasaran yang semakin menjadi-jadi bu Salamah berjalan mendekati ruang tamu, ia yakin suara itu berasal dari sana.
Bu Salamah menatap sekelilingnya yang kosong, tidak ada satupun benda yang pecah ataupun jatuh di lantai, lantai tampak bersih, bu Salamah merasa aneh dengan kejadian ini.
Bu Salamah mengamati dengan teliti semua penjuru ruang tamu, tiba-tiba sesuatu menarik perhatiannya.
Bu Salamah berjalan mendekati lantai yang penuh dengan darah.
"D-darah sebanyak ini?" tercekat bu Salamah melihat banyak darah yang tertinggal di lantai.
"Darah siapa ini, kok bisa ada di sini, apa ada orang yang terluka dan darahnya tertinggal di sini?" pikir bu Salamah.
"Bisa jadi, tapi siapa yang luka, di sini hanya ada aku seorang, bapak lagi kerja, Shila juga masih ada di tempat kerja, lalu darah ini milik siapa" mulai gelisah bu Salamah ketika menjumpai darah yang sebanyak itu di rumahnya.
"Aku harus telpon mereka, aku harus tanyakan sama mereka"
__ADS_1
Bu Salamah dengan cepat mengambil hpnya di sofa, orang pertama yang dia hubungi adalah Shila, dia khawatir pada putri semata wayangnya.
"Halo Shila, kamu udah pulang nak, kamu baik-baik aja kan, gak ada yang terjadi sama kamu kan?" khawatir bu Salamah menanyakan beragam pertanyaan pada putrinya ketika panggilan terhubung.
"Shila, kenapa kamu diam saja, jawab nak, jangan bikin ibu khawatir" cemas bu Salamah saat tidak ada jawaban yang ia dengar.
"Bu Salamah" akhirnya setelah sekian lama ada jawaban dari panggilan itu.
Bu Salamah langsung melihat nomor siapa yang dia hubungi.
"Benar ini nomor Shila, kenapa bukan suara Shila yang aku dengar, siapa dia sebenarnya" heran bu Salamah ketika ada orang lain yang menjawab pertanyaannya.
"Kamu siapa, di mana anak saya, kenapa kamu yang jawab, kamu siapanya, kamu orang jahat kan, kamu jangan macem-macem ya, saya tidak akan segan-segan laporkan kamu ke kantor polisi kalau kamu apa-apain anak saya!" hardik bu Salamah yang langsung naik pitam.
"Bu Salamah ini saya, masa bu Salamah gak kenal saya"
"Kamu siapa, saya tidak kenal kamu, jangan ganggu saya"
"Hahahaha"
Orang di balik sebrang telpon itu tertawa terbahak-bahak, bu Salamah semakin merasa aneh pada orang yang berada di seberang telpon.
"Kamu bilang aku jangan gangguin kamu? maaf selama ini anda yang sudah ganggu hidup saya, anda maki-maki saya dan juga anda adalah orang yang sudah fitnah-fitnah saya yang bukan-bukan, apakah anda benar-benar lupa dengan saya hmm"
Bu Salamah tercekat, dia menjatuhkan hpnya ketika menyadari siapa yang ada di seberang telepon.
"Sekar" kaget bu Salamah dengan menutup mulut tidak percaya kalau sedari tadi dia bicara dengan Sekar yang sudah tiada.
"B-bagaimana ini semua bisa terjadi, Sekar sudah meninggal, kenapa aku bisa dengar suaranya lagi, ini gak wajar, ini pasti ada kesalahan" bu Salamah masih tidak percaya apa yang barusan terjadi padanya.
Bu Salamah memegang erat sofa dengan tubuhnya yang mulai bergetar.
__ADS_1
"Ada apa ini sebenarnya, kenapa aku bisa dengar suara Sekar, Sekar kan sudah mati, mana mungkin orang mati hidup lagi"
Jantung bu Salamah semakin tidak tenang, ia kini gelisah tak karuan, posisinya dia lagi ada di rumah sendirian, tidak ada satupun orang yang ada di rumahnya.