
Juragan Doni melihat ke arah Sekar yang menjerit karena kesakitan, dia tak henti-hentinya menangis saat rasa sakit di punggungnya yang begitu sangat terasa.
"HENTIKAN TANGISAN MU!" teriak juragan Doni keras.
Sekar tidak berhenti, dia malah semakin mengeraskan tangisannya, mana bisa dia berhenti menangis di saat rasa sakit di punggungnya begitu terasa.
Sekar mengenakan baju putih dan baju itu sudah berganti warna menjadi merah, punggung Sekar yang terus menerus di cambuk mengeluarkan darah dan itu terasa sangat perih.
"Saya bilang diam ya diam!" teriak juragan Doni sekali lagi, dia benci suara tangisan, apalagi tangisan wanita.
Tak ada perubahan, Sekar terus menangis hebat, air matanya mengalir deras bagaikan air hujan, perih dan pedihnya rasa sakit di punggungnya membuatnya terus menerus menitihkan air mata.
Juragan Doni geram kala Sekar tidak mau menuruti keinginannya.
"Owh kamu tidak mau berhenti rupanya, sini kamu!" dengan paksa juragan Doni menarik Sekar keluar dari dalam kamar itu.
"Lepasin saya, lepasin" teriak Sekar yang tidak mau di bawa keluar.
Juragan Doni yang di selimuti emosi menarik paksa Sekar tak tau akan membawanya kemana, Sekar memberontak, dia berusaha melepaskan tangannya yang di cekal dengan kuat oleh juragan Doni.
"Sakit, lepasin saya juragan, tolong lepasin hiks hiks" tangis Sekar yang tangannya di tarik keras.
"Juragan lepasin, sakit hiks hiks hiks" tangis Sekar yang berusaha melepaskan tangannya.
Juragan Doni membuka pintu salah satu ruangan, dia mendorong tubuh Sekar ke dalam ruangan itu dengan kasar.
"Diam kamu di sini, ini adalah hukuman untuk mu karena kamu sudah berani bermain api sampai hamil di belakang saya!" teriak juragan Doni yang dengan tega-teganya menghukum Sekar padahal posisinya Sekar tengah hamil muda.
Sekar merasakan tubuhnya yang remuk, seluruh tubuhnya terasa sakit, mendapatkan kekerasan seperti itu membuat Sekar tak ingin merasakan kehidupan dunia lagi yang menurutnya sangat kejam.
__ADS_1
Di lantai Sekar hanya menangis, dia memegangi perutnya yang terasa sakit akibat benturan keras itu.
"Jangan berani-beraninya kamu keluar dari sini!"peringatan keras juragan Doni.
Juragan Doni menutup pintu itu dengan keras, lalu menguncinya agar Sekar tidak bisa keluar dari dalam ruangan itu.
Sekar di dalam langsung menangis hebat, dia dengan sangat susah mendekati pintu dan menggedor-gedornya.
"Juragan buka, jangan kurung saya di sini, saya tidak pernah berzina dengan laki-laki manapun, tolong percayalah hiks hiks hiks" dengan tangan yang lemas Sekar berusaha menggedor-gedor pintu.
"Juragan tolong saya, saya tidak mau di sini, buka pintunya, saya ingin keluar, di sini gelap, saya takut hiks hiks hiks"
Sekar di kurung di dalam gudang yang sudah lama tidak terpakai, banyak barang-barang tak terpakai di sana.
"Juragan tolong buka pintunya" Sekar terus berusaha menggedor-gedor pintu dan berteriak dengan terus berharap bahwa juragan Doni pasti akan membuka pintu itu.
Sekar menangis, segala perjuangannya untuk bisa keluar dari sana tetap tidak dia dapatkan, yang bisa dia lakukan saat ini hanya menangis, menikah dengan orang yang kejam dan tega adalah sesuatu yang tidak pernah Sekar bayangkan sebelumnya, dia tidak bisa berbuat apa-apa, satupun orang sampai detik ini tidak ada yang bisa membawa Sekar ke tempat yang lebih baik lagi ketimbang di neraka ini.
Tangisan Sekar terdengar lirih, dia sudah tidak punya tenaga yang banyak, dia hanya bisa diam dan terus menangis.
"Kenapa takdir hidup ku seburuk ini, kenapa semua kesialan datang menimpa ku, apa salah ku, kenapa semesta menghukum ku seperti ini, andai di sini ada bapak sama ibu, pasti mereka tidak akan biarkan aku terluka"
Dalam keadaan terpuruk seperti itu Sekar teringat pada ayah dan ibunya yang sudah tenang di alam sana, mereka meninggalkan Sekar dan seketika hidup Sekar berubah total, dunia menjadi gelap, sangat gelap.
"Bapak ibu tolong jemput Sekar, Sekar sudah tidak kuat berada di sini, Sekar gak mau merasakan sakitnya kehidupan lagi, Sekar mohon"
Sekar telah putus asa, hidup dengan seorang laki-laki yang kejam dan tega membuat semua harapan yang terdahulu Sekar impikan kandas, keinginannya saat ini hanya satu, yakni ingin bersama kedua orang tuanya.
Sekar terus menangis, dia diam di tempat tanpa pergerakan, percuma dia teriak-teriak juragan Doni tidak akan mengeluarkannya dari dalam tempat itu.
__ADS_1
Di luar juragan Doni mendekati art-nya yang ada di dapur.
"Kau jangan beri dia makan, biarkan dia mati!" perintah juragan Doni, dia sudah tidak peduli lagi Sekar mau hidup atau tidak di dalam gudang itu, dia adalah orang yang sangat benci dengan pengkhianatan.
"B-baik juragan" art itu gemetaran, dia tidak pernah melihat juragan Doni semarah ini sebelum-sebelumnya.
"Pastikan jangan sampai dia keluar dari dalam gudang itu, saya tidak mau dia sampai melarikan diri!" perintah juragan Doni yang sudah tidak mempunyai hati nurani lagi.
Art mengangguk ketakutan, juragan Doni langsung berangkat ke ladang, dia begitu emosi pada Sekar, dia menjadi malas berada di rumah yang di dalamnya ada Sekar.
Kala sampai di ladang juragan Doni langsung memantau perkembangan tanaman-tanaman yang sudah di tanam di ladangnya.
"Juragan" kaget pak Anton yang melihat juragan Doni di ladang, dia tadi berangkat pagi-pagi sekali ke ladang, dia tidak mengajak Sekar bersamanya karena dia membiarkan Sekar istirahat di rumah.
"Bagaimana perkembangan ladang selama saya pergi?"
"Semuanya aman terkendali, juragan kapan pulang?"
"Tadi pagi"
Pak Anton menjadi tidak tenang saat juragan Doni telah kembali, dia takut Sekar kenapa-napa saat dia datang.
"Juragan Sekar hamil" pak Anton memberi tau hal itu, dia berpikir kalau juragan Doni masih belum tau hal itu.
"Saya sudah tau, tapi saya yakin dia bukan hamil anak saya, pasti dia hamil anak laki-laki lain"
Pak Anton melototkan matanya karena terkejut, bagaimana mungkin itu terjadi, dia selama ini selalu bersama Sekar, dia bisa menjamin kalau Sekar hamil anak juragan Doni, bukan laki-laki manapun.
"Tapi juragan Sekar memang beneran hamil anak juragan, saya selama ini jaga dia, dia tidak berhubungan sama laki-laki manapun, bisa di pastikan anak itu darah daging juragan"
__ADS_1
"Tidak Anton, dia bukan anak ku, itu pasti anak laki-laki lain, Sekar itu rela menjual harga dirinya pada saya hanya karena ingin melunasi hutangnya, bisa saja dia menjual tubuhnya pada orang lain juga"
Pak Anton benar-benar terkejut, ia tau semuanya tentang Sekar, dia yakin Sekar tidak mungkin seperti itu.