
Malam harinya.
Semua insan masuk ke dalam rumah masing-masing, keheningan terjadi di desa ini, ketika di malam hari jarang ada orang yang keluar rumah, mereka memilih mengurung diri di dalam rumah.
Sekar yang memiliki dendam pribadi pada warga desa dan juga orang yang membuatnya seperti ini berjalan ke rumah juragan Doni, langkah pertama dia akan melancarkan aksinya di sana, karena di sana ada musuh bebuyutannya.
Bu Jamilah masuk ke dalam kamarnya, dia merasa pegal-pegal karena telah mencambuk Sekar tanpa henti.
"Aduh pegal banget, untung wanita rubah itu mati, gak akan ada yang ganggu aku lagi setelah ini!"
Bu Jamilah merebahkan tubuhnya di kasur, Sekar menatap tajam ke arahnya, Sekar akan buat bu Jamilah hidup tidak tenang.
Ketika bu Jamilah baru memejamkan mata, Sekar menarik selimut yang menutupi tubuhnya.
Bu Jamilah sontak langsung bangun, dia terkejut karena selimut yang dia kenakan terlepas begitu saja seperti ada orang yang menariknya.
"Kok kayak ada orang yang narik selimut aku, perasaan di sini gak ada orang lain lagi, apa ini cuman perasaan aku saja ya?" heran bu Jamilah dengan apa yang barusan terjadi.
Bu Jamilah menatap penjuru kamarnya, namun tetap saja tidak ada orang yang dia temukan.
"Palingan ini memang perasaan aku aja, di sini gak ada siapapun, mana mungkin selimut ku bisa terlepas begitu saja" bu Jamilah mencoba berpikir positif.
Bu Jamilah kembali merebahkan tubuhnya, dia tidak menanggapi serius kejadian barusan.
Sekar kembali menarik selimut itu biar bu Jamilah menjadi kesal.
"Iiih ini siapa sih yang narik-narik selimut aku, gak tau orang lagi mau tidur apa, kenapa pake gangguin aku segala!" omel bu Jamilah yang waktu tidurnya di usik.
"Ini bukan lagi sebuah kebetulan, ini pasti ada orang yang iseng gangguin aku, aku harus beri dia pelajaran!"
Bu Jamilah bangkit dari duduk, dia tengkurap di lantai untuk melihat siapa yang ada di dalam kolom tempat tidur.
Bu Jamilah tercekat, tubuhnya langsung bergetar hebat ketika melihat ada seorang wanita berpakaian putih, wajahnya penuh dengan luka lebam, di baju putih wanita itu penuh dengan darah, saat ini matanya tengah melotot tajam ke arah bu Jamilah.
"H-HANTU" teriak bu Jamilah histeris ketika melihat hantu yang seseram itu.
Bu Jamilah berlari terbirit-birit dari kamarnya, bu Jamilah ketakutan ketika melihat hantu yang seram dan kini berada di dalam kolom tempat tidur, dia tidak pernah berpikir kalau hantu yang melakukan itu semua.
__ADS_1
"Huaaaa hantu, tolong ada hantu" teriak bu Jamilah yang ketakutan.
Semua orang yang ada di dalam rumah itu langsung keluar, mereka terkejut mendengar teriakan bu Jamilah.
"Hantu, ada hantu, tolong ada hantu, di sana hantu" teriak bu Jamilah berlari ke ruang tamu.
"Ada apa bu" bodyguard bu Jamilah langsung menghampiri bu Jamilah yang ketakutan, ia terkejut ketika mendengar teriakan bu Jamilah.
"Di kamar ada hantu, wajahnya seram, dia menakutkan, tolong kamu usir dia dari sana" jelas bu Jamilah dengan bergetar hebat, wajah pucat pasi, bu Jamilah benar-benar takut pada hantu itu.
"Apa hantunya pake baju putih bu?" salah satu satpam ingin tau seperti apa hantu yang mengganggu bu Jamilah.
"Iya, dia pake baju putih, dia sereem banget!" bergidik bu Jamilah kala teringat kembali pada hantu yang sudah mengganggunya.
"Bu dia itu Sekar, dia lagi gentayangan di desa ini"
Bu Jamilah langsung tercekat, mana mungkin orang yang sudah dia bunuh yang telah melakukan ini semua padanya.
"Gak mungkin, gak mungkin Sekar gentayangan, itu pasti orang lain!" bantah keras bu Jamilah.
"Bu percaya sama saya, yang gentayangan itu pasti Sekar, ibu itu di datangin sama dia!" yakin satpam itu.
"Karena Sekar itu meninggalnya tidak wajar, pasti dia gentayangan dan ibu adalah orang pertama yang dia datangin!"
Bu Jamilah tercekat, dia kembali resah, membuat Sekar mati bukan berati dia bisa bebas tetapi dia malah semakin kena masalah besar.
"Masa iya Sekar gentayangan, gak mungkin, Sekar gak mungkin gentayangan, dia pasti sudah mati, dia gak mungkin ganggu aku lagi, aku gak percaya dia jadi hantu" batin bu Jamilah menolak fakta itu mentah-mentah, ia tidak mau mati ketakutan karena terus menerus di ganggu oleh hantu Sekar.
Mereka semua masih diam di tempat, bu Jamilah terlihat sangat tegang dan ketakutan, itu semua terlihat jelas di wajah bu Jamilah.
"Kalian semua masuk ke dalam kamar masing-masing, tidak ada hantu yang akan ganggu kalian, hantu tadi itu bukan Sekar, dia pasti hantu lain" perintah bu Jamilah yang ketakutan namun dia ingin mereka semua tau kalau dia takut pada hantu itu.
Mereka tanpa bicara masuk ke dalam kamar masing-masing, kini di ruang tamu hanya tersisa bu Jamilah seorang, bu Jamilah menatap sekeliling ruangan itu yang sepi dan hening, di telinganya hanya terdengar dentingan jam yang berbunyi dan membuat suasana semakin tambah mencekam.
"Apa iya Sekar jadi hantu, kenapa aku gak percaya kalau dia jadi hantu, dia pasti gak akan gentayangan" bantah bu Jamilah yang tidak mau semakin ketakutan.
"Pasti tadi hantu yang gangguin aku itu hantu orang lain, tapi siapa yang meninggal baru-baru ini di desa ini, setau ku hanya Sekar seorang, gak ada siapapun lagi"
__ADS_1
"Masa iya dia yang jadi hantu" mulai bergidik ngeri bu Jamilah, ia tidak pernah berpikir kalau ulahnya akan membuatnya semakin sengsara.
Bu Jamilah terus menatap sekeliling, wajahnya ketakutan ketika teringat pada hantu yang baru dia temui di kolom tempat tidur.
"Di sini gak ada orang, mas Doni ada di ladang, apa aku kembali saja ke dalam kamar, tapi gimana kalau nanti di sana ada hantu Sekar lagi" bu Jamilah gelisah tanpa sebab, ia gemetaran hebat ketika teringat wajah hantu yang sudah mengganggunya.
"Aku gak mau kembali ke sana lagi, aku mau di sini aja, gak mungkin hantu itu akan ganggu aku lagi, dia pasti masih ada di dalam kamar aku"
Bu Jamilah duduk di sofa, dia terus melihat sekelilingnya untuk jaga-jaga.
Tubuh bu Jamilah merasakan hembusan angin yang sangat pelan namun mampu membuat bulu kuduknya berdiri semua.
Bu Jamilah menelan ludah pahit, ia dengan pelan-pelan menyentuh tengkuknya yang terasa merinding.
"Kok aku jadi merinding gini, gak mungkin kan hantu itu ganggu aku lagi" tampak tegang bu Jamilah, pikiran-pikiran buruk terus berputar-putar di benaknya, ia sangat takut kembali melihat wajah hantu itu.
Tiba-tiba bu Jamilah merasakan ada sebuah tangan yang menyentuh pundaknya, seketika bu Jamilah menjadi tegang, ia berubah menjadi patung yang tidak bisa bergerak sedikitpun.
Bu Jamilah semakin gemetaran kala merasa tangan orang itu dingin seperti es batu.
"Bu Jamilah" panggilan lirih terdengar di telinga bu Jamilah.
Bu Jamilah tercekat, ia kenal betul dengan pemilik suara yang tengah memanggilnya.
"Bu Jamilah"
Bu Jamilah langsung tak bergerak, ia ketakutan hebat, ia sangat yakin di belakang tubuhnya ada orang.
Dengan sangat penasaran bu Jamilah menoleh ke arah siapa yang berada di belakangnya.
Seorang wanita yang tubuhnya penuh dengan darah, wajahnya pucat pasi dan banyak sekali luka lebam di wajahnya menatap tajam ke arah bu Jamilah.
"Aaaaaaaaaaaaaaaahhhhhh!" teriak histeris bu Jamilah dan langsung jatuh pingsan kala melihat Sekar yang berubah menjadi sangat menakutkan.
Sekar merubah wajahnya seperti biasa saat target sudah berhasil dia buat ketakutan.
"Rasain itu, suruh siapa anda buat aku seperti ini, aku akan balas semuanya, ini masih permulaan, tunggu pembalasan ku yang lainnya" dendam berkobar di hati Sekar, dia akan membuat bu Jamilah hidup sengsara habis ini.
__ADS_1
Sekar langsung menghilang dari sana, ia meninggalkan bu Jamilah yang pingsan ketika melihatnya.