Kuntilanak

Kuntilanak
Menunggu dengan tidak tenang


__ADS_3

Mobil yang membawa bu Toya dan Salsa terus melaju meninggalkan desa anggrek, sekitar 1 jam akhirnya mereka sampai di rumah sakit yang terletak di kota.


Bu Toya berlari masuk ke dalam rumah sakit dan mencari tempat di mana suaminya berada seperti yang telah suster bagian administrasi bilang.


"Dokter bagaimana keadaan suami saya, dia baik-baik saja kan dok" bu Toya bertanya pada dokter yang baru keluar dari ruangan UGD.


"Maaf bu, suami ibu sudah tidak dapat di selamatkan, beliau menghembusakan nafas 10 menit yang lalu" jelas dokter dengan raut wajah sedih karena tak bisa menyelamatkan pak Harun.


Tubuh bu Toya langsung terguncang hebat, berita prihal kematian suaminya berhasil membuat jantungnya berhenti berdetak.


Tangis bu Toya langsung pecah, hari ini merupakan hari terburuk sepanjang masa, di tinggal oleh suaminya sangat-sangat membuatnya hancur.


Pihak rumah sakit hanya bisa memberikan ucapan bela sungkawa, mereka sudah melakukan yang terbaik namun takdir berkata lain, mereka tidak bisa apa-apa karena di sini mereka juga manusia.


Bu Toya melihat jenazah suaminya yang di tutupi oleh kain berwarna putih, sebagai kain berganti menjadi warna merah karena darah dari luka pak Harun terus mengalir.


"Mas apa yang sudah terjadi sama kamu, kenapa kamu ninggalin aku mas, gimana nasib anak kita mas" isakan tangis bu Toya terdengar memilukan.


Pak Harun di dalam keluarga menjadi tulang punggung, ia bekerja keras demi anak dan istrinya agar mendapatkan kehidupan yang layak, namun takdir malah merenggutnya di saat Salsa masih sangat kecil.


Salsa yang tau ayahnya telah tiada menangis kejer, pahlawannya telah gugur di saat dia masih belia.


Jenazah pak Harun di bawa ke kampung halamannya yang berlokasi di desa Merak, pihak keluarga akan memakamkan jenazah pak Harun di sana, bu Toya dan Salsa ikut ke dalam mobil ambulance yang akan membawa mereka ke desa Merak.


...•••...


Di desa anggrek.


Bu Jamilah masih belum tidur meskipun ini sudah larut malam, ia menunggu suaminya datang, sebenarnya dia malas berjumpa dengan suaminya, namun karena takut dia rela menunggunya.


"Mana mas Doni, kenapa belum nyampe di rumah juga, dia sebenarnya ada di mana, kenapa belum datang-datang juga, padahal jarak ladang kemari gak begitu jauh" gelisah bu Jamilah, sudah dua hari dia di datangin Sekar, maka malam ini ia tidak mau lagi di ganggu sama Sekar, mungkin dengan keberadaan suaminya bisa mengurangi rasa takutnya.

__ADS_1


Bu Jamilah mondar mandir ke sana kemari, matanya terus melirik ke arah jam yang terpampang di dinding, ia tidak bisa diam sama sekali sebelum suaminya datang.


"Jam 12 dia gak datang, aku akan kelola ladang sendiri, tidak akan aku biarkan dia kelola ladang lagi!" pertegas bu Jamilah yang geram lantaran sejak tadi ia menunggu tetapi juragan Doni tak kunjung menampakkan batang hidungnya.


tok


tok


tok


Suara ketukan pintu terdengar di telinga bu Jamilah.


"Itu pasti mas Doni" bu Jamilah berlari mendekati pintu, dengan gembira ia membuka pintu.


"Mas kenapa lama banget, aku nungguin kamu dari tadi, kamu dari mana aja, kenapa baru datang sekarang?" dengan bertubi-tubi bu Jamilah melempar pertanyaan.


"Aku ada urusan di luar tadi, ayo kita masuk ke dalam, ini sudah malam" bu Jamilah mengangguk, ia mempersilahkan juragan Doni masuk ke dalam rumah, bu Jamilah menutup pintu rapat-rapat agar tidak ada orang yang masuk ke dalam rumahnya.


Bu Jamilah kembali ke kamar, wajah bu Jamilah terlihat langsung terkejut.


"Kemana mas Doni, kenapa gak ada di kamar, apa dia ada di depan?" di setiap penjuru kamar bu Jamilah tak menemukan keberadaan suaminya, kamarnya benar-benar kosong.


Juragan Doni benar-benar tidak ada di kamar, padahal sudah jelas-jelas kalau tadi juragan Doni berjalan menuju kamar ini.


Bu Jamilah tidak terlalu mempermasalahkan hal itu, ia melangkah mendekati nakas, bu Jamilah meletakkan gelas yang berisi air itu di sana.


Brakk!


Pintu tiba-tiba tertutup dengan rapat, bu Jamilah tersentak hebat, dengan terkejut bu Jamilah berbalik menatap pintu yang tertutup rapat dengan sempurna.


Sontak bu Jamilah langsung gemetaran hebat, kakinya melangkah mundur sampai mentok ke dinding, bu Jamilah langsung menjadi gagap ketika menatap dengan jelas seorang wanita berambut panjang yang mengenakan pakaian berwarna putih, wajahnya hancur dan mengalir darah-darah yang bau amis.

__ADS_1


Tatapan mata wanita tersebut menatap tajam ke arah bu Jamilah yang tremor.


"K-ka-u, kenapa kau ada di sini, pergi kau dari sini!" usir bu Jamilah dengan gemetaran hebat, sekali lagi ia di datangi oleh musuh bebuyutannya, sejak pagi ia berusaha mencari cara agar tidak kembali bertemu dengan dia lagi, namun sayangnya takdir tidak berpihak.


"Kau yang sudah membunuh anak ku, kembalikan anak kuuuu!" jerit keras Sekar dengan mata melotot tajam, urat-urat merah di matanya terlihat dengan jelas.


Bu Jamilah semakin bergetar hebat, malam ini dia dapat melihat bagaimana kebencian Sekar terhadap dirinya.


"S-sekar kamu jangan ganggu aku, pergi kau dari sini" titah bu Jamilah, ia sudah tak sanggup hidup dalam ketakutan seperti ini.


"Aku tidak akan pergi, selamanya aku tidak akan pergi, aku akan terus ganggu kamu sampai kamu berubah menjadi gila!" pertegas Sekar tak main-main.


Bu Jamilah menelan ludah pahit, tubuhnya gemetar hebat, keringat membanjiri wajahnya.


"Sekar aku mohon berhentilah, jangan ganggu aku, aku minta maaf pada mu, aku tau aku salah, tolong berilah aku pengampunan mu" bu Jamilah berusaha mengajak damai Sekar, mudah-mudahan Sekar mau memaafkannya dan berhenti mengganggunya.


"Kalau kau mau aku maafkan, kembalikan aku seperti dulu lagi, aku mau menjadi manusia, aku tidak mau menjadi seperti ini!" permintaan Sekar amat berat untuk di lakukan oleh bu Jamilah, mana mungkin orang yang sudah meninggal bisa hidup kembali.


"T-tapi Sekar itu sangat tidak mungkin"


"Kalau itu tidak mungkin, jadi aku juga tidak akan mungkin memaafkan mu!" bu Jamilah bungkam, rasanya sulit berdamai dengan Sekar yang di penuhi dendam yang menggebu-gebu.


Sekar melangkah mendekati bu Jamilah dengan tangan yang siap mencekiknya, bu Jamilah panik, ia takut Sekar mencekiknya.


"Berhenti Sekar, jangan dekatin aku, pergi kau dari sini!" jerit bu Jamilah panik.


Sekar tidak berhenti, ia terus berjalan mendekati bu Jamilah, bu Jamilah berteriak-teriak namun tidak ada orang yang mendengarnya.


Sekar dengan tega mencekik leher bu Jamilah sampai bu Jamilah jatuh pingsan.


"Makan itu, suruh siapa main-main dengan ku!" dendam Sekar pada bu Jamilah.

__ADS_1


Sekar menghilang dari sana saat mangsanya sudah ia buat pingsan.


__ADS_2