Kuntilanak

Kuntilanak
Kalah telak


__ADS_3

Sekar ternganga dengan jawaban bu Salamah yang benar-benar ngawur dan sangat hina itu.


"Maaf ya ibu-ibu, saya tidak pernah di porortin sama Sekar, saya dan dia hanyalah sebatas atasan dan bawahan, tidak ada apapun di antara kami, kami tidak punya hubungan khusus, ibu jangan membuat berita-berita tidak benar, itu tidak baik bu" pak Anton langsung membantah keras tudingan dari bu Salamah agar berita bohong itu tidak terus berkembang biak.


Bu Salamah langsung kena mental, dia langsung kalah telak saat pak Anton mengatakan itu semua di hadapan semua orang.


"Pak Anton harus percaya sama kami, kami itu mengatakan yang sebenarnya, apa yang kami katakan saat ini akan terbukti nantinya, ayo ibu-ibu kita pulang, di sini panas" ajak bu Salamah yang tidak mau lebih lama lagi menanggung malu.


Mereka bertiga pergi dari sana, para pekerja yang berada di sana bersorak pada mereka bertiga yang kedatangannya hanya bisa menghambat pekerjaan mereka saja.


Pak Anton melihat pipi Sekar yang merah, ujung bibir Sekar mengaliri darah segar.


"Sudah kamu jangan pikiran ucapan mereka, mereka itu cuman orang sirik yang mau jatuhkan kamu, ayo ikut saya ke kantor, akan saya obati luka kamu"


"Tidak usah pak, ini luka kecil saja, tidak perlu di obati, nanti akan sembuh sendiri kok" tolak Sekar dengan halus.


"Udah ikut saya saja, kamu jangan banyak ngebantah, walaupun luka kecil harus di obati biar cepat sembuh!"


Sekar menghembusakan nafas, mau tidak mau dia ikut pak Anton ke kantor untuk mengobati lukanya.


Dengan hati-hati pak Anton membersihkan wajah Sekar yang luka akibat tindakan bu Salamah.


"Kamu gak usah pikirin ucapan bu Salamah, biar gak jadi beban pikiran kamu"


"Tapi pak kenapa ada orang yang segitunya sama saya, salah saya di mana, kenapa mereka terus menerus lakukan ini semua sama saya, padahal saya tidak pernah sedikitpun mencari gara-gara sama mereka"


"Namanya juga orang sirik, kamu gak usah pikirin mereka, mereka itu cuman gak suka saja sama kamu dan mereka lagi berusaha jatuhin kamu"


"Iya saya tau pak, tapi mereka tega banget nuduh saya seperti itu, salah apa saya sama mereka, kenapa mereka sampai segitunya"

__ADS_1


"Sudah kamu jangan sedih terus, kamu istirahat di sini aja, di dalam kantor ini ada kamar, kamu bisa gunakan kamar itu untuk istirahat"


"Enggak mau pak, saya takut mau nimbulin fitnah kalau berduaan sama bapak di sini, saya lebih baik balik kerja aja"


"Ya sudah terserah kamu"


"Saya permisi dulu pak, tetima kasih sudah ngobatin luka saya"


"Sama-sama"


Sekar kembali berkerja seperti biasa, para pekerja lainnya tidak ada yang membicarakan dia dengan pak Anton karena mereka sudah tau kalau ketiga ibu-ibu itu adalah ibu-ibu yang suka membuat fitnah-fitnah keji, bukan Sekar saja yang sudah jadi korbannya namun banyak warga yang juga kena.


Sementara itu ketiga ibu-ibu itu mampir ke gazebo dengan raut wajah yang masih marah campur kesal pada Sekar karena dia berhasil selamat hari ini.


"Iih kenapa pak Anton pake belain si Sekar, dia kan sudah jelas-jelas pake guna-guna agar bisa buat dia tidak berkutik, kenapa pak Anton gak percaya sama sekali dengan ucapan kita!" tak terima bu Salamah karena kembali tanpa membawa hasil sedikitpun.


"Tau, kenapa pak Anton bisa gak sadar padahal kita sudah berusaha untuk buat dia sadar, pelet apa yang sudah Sekar gunakan, kenapa tidak luntur sama sekali!" heran bu Toya.


"Di sini ada dukun gak ya?" bu Salamah mikir keras.


"Ada, itu loh mbah Gamik, dia kan dukun terkenal di sini" jawab bu Toya.


"Aduh iya, kenapa kita lupa sama dia, pasti si Sekar datangin mbah Gamik untuk bisa lelet pak Anton" firasat bu Salamah.


"Itu pasti, sumpah si Sekar gak tau diri banget, dia gak ngaca apa kalau dia itu dari kalangan bawah, sok-sokan mau dapatin pak Anton yang ganteng dan baik itu!" sangat tidak suka bu Toya.


"Saya gak terima bu pak Anton jadi milik Sekar, dia itu gak pentas buat pak Anton" ujar bu Salamah.


"Saya juga pada gak terima bu, saya maunya pak Anton itu jadi suami anak saya, hidup anak saya pasti akan terjamin kalau nikah sama pak Anton, seraya kan pak Anton adalah orang kepercayaannya juragan Doni, pasti hidup anak saya bahagia" menghayal bu Nilem.

__ADS_1


Bu Salamah diam mendengarkan ucapan bu Nilem, dia rasanya tidak terima pak Anton jadi milik anak bu Nilem meskipun bu Nilem adalah temannya sendiri.


"Eh enak aja, pak Anton itu cocoknya nikah sama anak saya, gak cocok kalau sama anak kamu!" teriak bu Salamah.


"Cocok kok bu, anak saya kan cantik, cocok bersanding dengan pak Anton yang ganteng"


"Tentu saja tidak, dia tidak pantes sama anak kamu, anak kamu itu bukan seleranya pak Anton, anak saya yang pas untuk jadi istirnya pak Anton, gak kayak anak kamu yang jerawatan parah itu, pak Anton jijik kali nikahin orang kayak dia!" hina bu Salamah.


Bu Nilem langsung meledak, dia langsung berubah menjadi bom atom yang akan meledak saat bu Salamah menghina anaknya yang wajahnya berjerawat.


"EH KAMU JANGAN NIHA ANAK SAYA YA!" hardik bu Nilem yang langsung bangkit dari duduknya dan memberikan tatapan tajam ke arah bu Salamah yang barusan menghina anaknya.


Bu Salamah tidak mau kalah, dia bangkit dan memberikan tatapan tajam pada bu Nilem.


"Emangnya kenapa, saya kan bilang fakta, anak mu itu memang jerawatan, seperti gunung berapi yang akan meledak-ledak!"


"Apa kamu bilang!"


"APA, kamu mau apa hah!"


"Bu Salamah saya tidak tinggal diam saat kamu hina anak saya, saya tidak terima!"


"Saya bilang fakta, kenapa kamu tidak terima, terimalah kenyataan kalau anak kamu itu memang wanita menjijikan, semenjak dia berjerawat parah, dia gak pernah tuh keluaran rumah, apa mungkin dia malu ya jadi gadis menjijikan yang sudah merusak nama baik desa ini"


Plakk!


Bu Nilem menampar keras pipi bu Salamah yang terus menerus menghina anaknya.


Bu Salamah melototkan matanya pada bu Nilem."Berani-beraninya kamu nampar saya, kamu tidak tau saya siapa hah!"

__ADS_1


"Saya tau, anda adalah wanita yang tukang ghibah, yang selama ini terus ngomongin dan nyebarin fitnah-fitnah yang tidak-tidak pada semua orang, anda tadi bilang anak saya menjijikan bukan, sementara anda tidak kalah menjijikan!"


__ADS_2