
Sementara itu.
Bu Nining yang berada di dalam rumah ketakutan, meskipun suaminya ada di sampingnya, ia benar-benar ketakutan, ia tidak bisa tenang, kejadian tadi malam yang menimpanya benar-benar membuatnya trauma berat.
"Pak bu takut, ibu takut sama hantu, apa yang harus kita perbuat pak, apa yang harus kita lakukan, kita gak bisa diem aja, kita gak bisa gini terus, ibu sungguh takut sama hantu itu, ibu gak tahan dengan dia, dia semakin lama makin jadi aja, ibu sungguh gak kuat" keluh bu Nining yang merasa tak sanggup dengan teror-teror yang mendatanginya.
"Udah ibu jangan takut, ada bapak di sini, bapak gak akan biarkan ibu di ganggu sama hantu, bapak akan pastikan hantu itu gak berani ngincer rumah kita lagi, dia pasti akan takut sama kita, karena bapak gak akan tinggal diam, bapak akan coba untuk lawan dia" pak Bardi berusaha untuk memenangkan bu Nining yang tak bisa diam.
"Tapi pak walaupun begitu ibu tetap takut, dia itu hantu, ibu takut di ganggu sama dia" tutur bu Nining yang tetap tidak bisa tenang sama sekali.
"Udah ibu jangan takut, ibu diam aja, bapak yakin gak akan ada hantu yang bakal datangin kita" yakin pak Bardi.
Bu Nining pun hanya bisa berdoa semoga apa yang dia katakan oleh suaminya benar adanya, ia sudah tak sanggup di ganggu oleh makhluk halus lagi, ia tidak memiliki nyali yang besar, ia takut berhadapan langsung dengan hantu lagi.
"Hihihihihihihi"
Belum apa-apa telinganya mereka sudah mendengar suara cekikikan kuntilanak yang dekat.
"Pak dia datang pak, gimana ini pak, apa yang harus kita lakukan, liat dia sekarang udah datang, apa yang harus kita perbuat, ibu takut pak" heboh bu Nining berlindung pada suaminya, tubuhnya gemetaran hebat, suara itu berhasil membangkitkan seluruh bulu kuduknya.
Pak Bardi tiba-tiba diam, suara itu benar-benar membuatnya menjadi tidak tenang, ia tadi mengira bahwa tidak akan ada hantu yang mendatangi rumahnya, namun siapa sangka hantu malah datang duluan.
"Ibu tenanglah, semuanya akan baik-baik saja, kita pasrahkan saja sama yang di atas, kita berdoa semoga dia gak ganggu kita malam ini" tutur pak Bardi yang juga merasakan takut yang sama seperti yang bu Nining rasakan namun pak Bardi harus bisa menahannya, ia tidak mungkin memperlihatkan bahwa dirinya juga ketakutan.
Bu Nining dalam ketakutan yang menjadi-jadi hanya bisa berdoa semoga hantu itu tidak masuk ke dalam rumah dan mengganggunya.
__ADS_1
"Hihihihihihihi"
Suara itu kembali terdengar, lama kelamaan suara itu semakin menyeramkan dan membuat mereka berdua ketakutan hebat di dalam rumah.
"Kenapa dia kembali, apa yang ingin dia lakukan, kenapa dia tidak habis-habisnya mengganggu ku, apa yang harus ku perbuat, kenapa dia tidak berhenti sama sekali, aku sudah tidak mengganggunya lagi, kenapa dia masih dendam sama aku" batin bu Nining yang rasanya tak bisa bertahan hidup di dalam keadaan seperti ini.
Di dalam rumah keduanya semakin ketakutan, suara tawa kuntilanak itu terus saja terdengar di telinga mereka, namun mereka tidak ada yang berani untuk menghadapi secara langsung kuntilanak yang terus mengganggu mereka sejak kemarin-kemarin.
"Bu Nining hihihihihihihi" panggilan itu membuat tubuh bu Nining semakin berat karena takut.
"Pak, bapak dia manggil nama ibu, ibu takut pak, usir dia dari sini, ibu gak mau dia ada di sini" titah bu Nining yang ketakutan hebat.
Apa yang di lakukan oleh kuntilanak itu berhasil membuat kepalanya cenat-cenut.
"Udah ibu diam aja, kita jangan lakuin apapun, nanti dia juga akan pergi" jawab pak Bardi, kali ini ia tidak memiliki nyali untuk berharaan langsung dengan kuntilanak yang sedang menjadi-jadi.
"Ibu ini di bilang ngeyel, udah ibu diam aja, ibu jangan banyak omong, nanti kalau ibu ngomong terus dia akan tau kalau di dalam rumah ini ada orang dan dia akan masuk lalu mengganggu ibu habis-habisan, apa ibu mau?" kepala bu Nining menggelar, ia tidak mau hal itu terjadi, mendengar suaranya saja ia sudah tidak sanggup apalagi di ganggu habis-habisan oleh yang namanya hantu.
"Enggak mau pak, ibu gak mau, ibu gak mau dia masuk dan ganggu ibu" jawab bu Nining.
"Ya sudah sekarang ibu diam aja, bapak yakin dia akan pergi setelah gak ada tanggapan sama sekali" ujar pak Bardi.
Bu Nining pun diam, ia tidak mengatakan apapun, keringat-keringat dingin terus berjatuhan membasahi wajahnya, ia tidak bisa tenang meskipun di sampingnya terdapat suaminya.
"Hihihihihihihi"
__ADS_1
Suara kuntilanak itu terus saja terdengar menggelegar, keadaan desa yang sepi membuat suaranya menjadi lantang.
"Hihihihihihihi"
Sekar di luar rumah terus mengitari rumah bu Nining dengan terus mengeluarkan suara jahanamnya.
"Hihihihihihihi bu Nining, apakah kau merindukan ku" teriak Sekar.
Di dalam bu Nining berkeringat dingin, apa yang saat ini Sekar lakukan benar-benar membuatnya resah dan terus gelisah.
"Apa yang ingin dia lakukan coba, kenapa dia tak henti-hentinya mengganggu ku, apa lagi yang dia mau dari ku, aku tidak memiliki apapun, lantas mengapa dia terus mengganggu ku terus menerus" batin bu Nining yang tak bisa tenang dalam keadaan ini.
"Bu Nining, bu Nining ini saya, keluarkan bu, saya sudah lama tidak bertemu dengan ibu, saya begitu merindukan ibu" ujar Sekar yang terus mengitari rumah bu Nining.
Bu Nining tak bisa diam, ia resah dan terus gelisah, apa yang Sekar lakukan padanya saat ini benar-benar membuat jantungnya tidak aman.
"Bu Nining, aaah bu Nining ini tidak seru, seharusnya dia keluar bisa aku bisa berhasil gangguin dia hihihihihihihi" ujar Sekar yang begitu senang mengganggu warga-warga selama ini.
Tiba-tiba tawa Sekar terhenti."Ck lelah aku gangguin orang yang begini, lebih baik aku gangguin orang di tempat lain aja"
Sekar terbang dan meninggalkan rumah bu Nining.
"Kayaknya dia udah pergi deh pak" ujar bu Nining yang merasa bahwa Sekar sudah pergi.
"Tuh kan apa bapak bilang, kalau kita diam aja, dia gak akan ganggu kita lama-lama, tapi kalau kita berontak, dia pasti akan bikin kita makin ketakutan" jawab pak Bardi.
__ADS_1
"Iya pak, sekarang ibu percaya sama ucapan bapak" sahut bu Nining.
Mereka berdua pun kini sudah lega karena Sekar sudah pergi dan tidak mengganggu mereka lagi.