Kuntilanak

Kuntilanak
Ingin mengusirnya


__ADS_3

"Lalu apa yang harus kita lakukan pa, kita gak bisa diam aja, dia akan bikin kita ketakutan terus menerus" kekhawatiran bu Jamilah.


"Udah kita diamkan saja dulu, dia pasti akan pergi sendiri dari desa ini, mama gak usah khawatir, semuanya akan baik-baik saja"


Meskipun juragan Doni telah berusaha menenangkan bu Jamilah itu semua tak sama sekali membuat bu Jamilah merasa tenang.


Bu Jamilah terlihat sangat gelisah, ia takut hantu Sekar kembali mendatanginya, ia memang bisa beran dengan manusia tapi tidak dengan masalah hantu-hantuan.


"Pa gimana kalau Sekar datangin mama lagi nanti malam?" cemas bu Jamilah berlebihan, pikiran buruk terus menghantuinya.


"Itu resiko ma, suruh siapa mama bikin Sekar kayak gitu, mama harus tanggung sendiri" juragan Doni yang marah karena bu Jamilah membunuh Sekar dan anaknya melakukan ini semua agar bu Jamilah menyesali perbuatannya.


Bu Jamilah bukannya malah tenang malah semakin gelisah dan marah, juragan Doni benar-benar tidak memberikan solusi sama sekali, percuma dia cerita pada juragan Doni, semuanya sia-sia.


"Tau ah pa, males mama cerita sama papa, papa gak ngerti sama sekali maksud mama, udah ah mama mau pergi dari sini, di sini pengap!"


"Ya sudah pergi saja sana" usir juragan Doni yang sudah lelah mendengar ocehan bu Jamilah.


Bu Jamilah pergi dari sana, dia tidak mau berada di ladang yang akan semakin membuat pikirannya kacau, dia akan menenangkan dirinya dengan cara belanja menghabiskan uangnya.


Juragan Doni menjadi gelisah setelah mendengar berita tentang Sekar dari bu Jamilah, dia kira hanya dia seorang yang di datangin Sekar ternyata bu Jamilah juga kena.


"Ini bahaya, Sekar gentayangan, aku gak bisa diamin dia begitu saja, aku harus cari cara agar si Sekar gak ganggu aku lagi" mulai memutar akal juragan Doni.

__ADS_1


"Tapi cara apa yang harus aku lakukan, aku gak punya cara apapun lagi, Sekar itu hantu, mana bisa aku usir dia, dia bukannya malah pergi tapi malah akan gangguin aku!" bingung juragan Doni yang sama-sama merasa kekhawatiran seperti yang bu Jamilah alami.


Ketika ada bu Jamilah di sana juragan Doni tampak tenang, ia tidak gelisah sama sekali namun setelah bu Jamilah pergi juragan Doni berubah menjadi orang yang gelisah kalang kabut memikirkan masalah Sekar yang gentayangan ini.


"Apa yang harus aku lakukan, aku gak bisa diamin si Sekar gitu aja, dia akan bunuh aku pelan-pelan kalau aku biarkan dia bergerak bebas di desa ini"


Wajah juragan Doni di penuhi kegelisahan, ketika ia teringat kejadian tadi malam sungguh dia benci dengan yang namanya malam hari, biasanya ketika malam dia bisa tenang dan tentram kini telah berubah total semenjak Sekar di kabarkan gentayangan di desa ini.


"Aku coba keluar dengarin cerita-cerita warga, mama bilang kalau ada warga yang juga di gangguin sama Sekar, aku coba pura-pura keliling biar tau pergerakan Sekar"


Juragan Doni bangkit dari duduk, juragan Doni keluar dari dalam kantor dan berjalan mengelilingi ladangnya sambil mendengarkan gosib-gosib terbaru yang ada di sana.


"Gak nyangka ya kalau Sekar gentayangan, saya kira dia gak akan bikin onar, ternyata dia masih sempat-sempatnya bikin onar padahal dia kan sudah mati!" tak di sangka-sangka bu Hamiddeh dengan Sekar.


"Desa kita makin gak aman kalau kayak gini!" tambah bu Nining.


"Kita harus bikin si Sekar itu pergi, jangan sampai dia terus gangguin kita, kita akan hidup dalam ketakutan kalau dia di biarkan gitu aja" sahut bu Hamiddeh.


"Emang benar-benar si Sekar itu, sudah mati masih aja nyusahin" benci bu Maimun yang ikutan tak suka pada Sekar.


"Kalian pada ngomongin apa?" bu Robi'ah menghampiri mereka yang tengah bergosib, dia ingin tau apa yang mereka bicarakan sejak tadi.


"Ini loh bu si Sekar, dia itu lagi gentayangan di desa ini, kita lagi benci banget sama dia, dia kan sudah mati, tapi masih aja bikin warga kesel" jelas bu Hamiddeh.

__ADS_1


"Yang benar saja kalian, masa Sekar gentayangan, ada-ada aja kalian" tak percaya bu Robi'ah yang baru mendengar berita hangat ini.


"Beneran bu, Sekar beneran gentayangan, tadi malam saya di ganggu sama dia" bu Naima berusaha menyakinkan bu Robi'ah agar mau percaya dengan berita ini.


Di ladang ini hanya bu Robi'ah satu-satunya orang yang sangat peduli sama Sekar, tak seperti yang lain yang selalu menghina, merendahkan dan memaki-maki Sekar yang bukan-bukan.


"Masa ibu di ganggu sama Sekar, saya gak percaya" bantah keras bu Robi'ah, dia masih yakin kalau Sekar tidak akan ganggu warga-warga di desa ini, apalagi sampai neror mereka.


"Beneran bu, tadi malam saya di ganggu sama hantu Sekar, selain saya bu Nilem juga sudah di ganggu sama dia, bu Nilem sampai terluka parah gara-gara di ganggu sama Sekar, dia sampai gak bisa ngapa-ngapain dan cuman istirahat di rumah saja" jelas bu Naima agar bu Robi'ah makin percaya kalau Sekar memang berubah menjadi arwah yang penasaran.


Bu Robi'ah sontak diam, dia masih setengah tidak percaya kalau Sekar yang dia kenal baik gentayangan dan mengganggu warga-warga.


"Masa iya Sekar gentayangan, kok aku gak percaya ya" batin bu Robi'ah.


Mereka semua merasa kalau bu Robi'ah tidak percaya sama apa yang barusan mereka katakan.


"Ibu harus percaya sama kami, kami itu bicara yang sebenernya, kalau ibu gak percaya, ibu hanya saja sama bu Nilem, selain saya dia juga sudah si ganggu sama Sekar" suruh bu Naima.


Bu Robi'ah diam, dia tidak mau menyahuti mereka, dia masih tidak percaya dengan apa yang mereka katakan.


"Jadi benar Sekar gentayangan, bahaya ini, Sekar pasti akan kembali ganggu aku dan penduduk desa, aku harus cari cara agar dia pergi dari sini" batin juragan Doni yang mendengar ucapan mereka semua.


Juragan Doni kembali ke dalam kantor setelah dia mendengar langsung bahwa Sekar lagi menjadi ancaman bagi desa ini, di kantor juga Doni sedang mencari cara untuk mengusir Sekar dari desa ini.

__ADS_1


__ADS_2