Kuntilanak

Kuntilanak
Melaporkan sesuatu yang tidak benar


__ADS_3

Sekar dan pak Anton berangkat ke desa sebelah dengan menggunakan mobil juragan Doni yang ada di rumah.


Pak Anton membawa mobil itu dengan santai, dia tidak terburu-buru, sementara Sekar menatap keluar jendela dengan senyuman yang sesekali terbit, dia tampak bahagia, tidak seperti kemarin-kemarin yang terus menerus bersedih karena kehilangan sang ibu.


"Bapak ke desa sebelah mau ngapain?"


"Saya mau mendatangi adik bu Jamilah yang ada di sana, saya ingin menanyakan terkait masalah gaji karyawan, tadi ada karyawan yang datang ke rumah bilang kalau dia kerja di proyek selama 9 bulan gak di gaji, saya datang ke sana hanya ingin nanya siapa yang megang keuangan saat ini, saya takut ada karyawan lain lagi yang di perlakukan seperti itu, kasihan kan mereka sudah kerja capek-capek malah gak di gaji"


"Kenapa bapak harus datang ke adiknya bu Jamilah, kenapa gak ke juragan Doni saja?"


"Karena bu Jamilah orang yang memiliki semua aset itu, juragan Doni hanyalah orang yang mengelolanya saja, mangkanya juragan Doni diam-diam nikahin kamu, dia takut istrinya tau kalau dia nikah lagi, dia pasti tidak mau di tendang dari sisi bu Jamilah, tak heran dia melakukan ini semua!"


"Oh gitu, Sekar kira yang kaya juragan Doni, ternyata bu Jamilah"


"Iya, yang kaya itu bu Jamilah, juragan Doni cuman numpang saja, juragan Doni tidak bisa berkutik, karena bu Jamilah tidak akan segan-segan buat hempaskan dia dari sisinya, saya sekarang ingin nanya pada adiknya, percuma saya nanya sama juragan Doni, dia tidak akan ngaku membawa kemana semua uang itu"


"Proyek apa yang sedang di kerjakan pak, kenapa Sekar baru tau"


"Hotel, bu Jamilah ingin membangun hotel di luar kota, mangkanya kamu gak tau prihal proyek itu"


"Oh pantesan saja Sekar gak tau, tapi pak bagaimana seandainya Sekar ketahuan sama bu Jamilah kalau ternyata Sekar istri kedua juragan Doni yang dia nikahi secara diam-diam, dia pasti akan marah besar dong!" mulai risau Sekar.


"Saya ada di sini, tidak akan saya biarkan kamu di apa-apain sama juragan Doni, kamu tidak perlu khawatir, lagian sekarang bu Jamilah gak ada di desa ini, dia lagi healing-healing menghabiskan uangnya yang sudah bertumpukan, dia biasanya kalau sekali keluar bisa sampai 1 tahun gak pulang lagi, gak pernah dia keluar cuman 1 bulan"


"Baguslah kalau seperti itu pak, Sekar bisa sedikit merasa lega"


Pak Anton terus fokus mengemudikan mobil, Sekar terus diam dengan menatap jendela, dia melihat banyak sekali sawah-sawah yang di lewati.


Tak berselang lama dari itu mobil sampai di depan rumah besar dan mewah yang ada di desa sebelah dan terletak di pinggir jalan, rumah itu adalah salah satu rumah terbesar di desa tersebut.


"Kita sudah sampai, ayo turun!"

__ADS_1


Sekar mengangguk, dia turun dari mobil dan menatap ke arah rumah besar itu dengan tatapan takjub.


"Besar banget rumahnya, ini beneran rumahnya adiknya bu Jamilah?" setengah tidak percaya Sekar.


"Rumah ini milik bu Jamilah, cuman di tempati sama adiknya, karena bu Jamilah ada di luar kota, biasanya bu Jamilah lebih sering berada di desa ini ketimbang di desa anggrek, jarang dia ada di desa anggrek sebelum-sebelumnya"


"Oh gitu" Sekar masih terus takjub melihat rumah yang sebesar itu, besarnya dua kali lipat dari rumah yang juragan Doni tempati.


"Ayo kita masuk ke dalam"


Sekar mengangguk, dia dan pak Anton berdiri di depan pintu rumah itu.


tok


tok


tok


"Permisi" pak Anton mengetuk pintu rumah itu.


"Anton" wanita itu langsung mengenali pak Anton.


"Iya ini saya bu" jawab pak Anton dengan ramah dan di sertai senyuman.


Pandangan wanita itu tertuju pada Sekar yang menurutnya sangat asing.


"Siapa dia Anton?"


"Dia calon istri saya bu"


Sekar langsung menatap ke arah pak Anton dengan tidak percaya.

__ADS_1


"Kenapa pak Anton bilang gitu" batin Sekar sangat terkejut.


"Oh gitu, ayo-ayo masuk ke dalam" wanita itu mempersilahkan pak Anton dan Sekar masuk ke dalam rumahnya.


Mereka berdua masuk dan duduk di ruang tamu.


"Kenapa kamu kemari Anton, apa ada masalah di perkebunan?" wanita bernama Erna itu bertanya pada pak Anton.


"Begini bu barusan ada seorang bapak-bapak tua yang datang ke rumah juragan Doni, dia bilang selama 9 bulan dia bekerja tidak di gaji sepeserpun sama juragan Doni"


"APA, gak di gaji!" kaget bu Erna mendengar penuturan pak Anton.


"Benar bu, bapak-bapak itu gak di gaji oleh juragan Doni, mangkanya saya datang kemari untuk bertanya siapa yang megang keuangan sehingga ada karyawan yang tidak di beri upah selama itu"


"Yang megang keuangan itu kakak ipar, dulu saya megang, tapi kakak ipar gantiin karena waktu itu saya sedang melahirkan, anak saya masih kecil saya tidak bisa ngurus, tapi masa iya Anton ada karyawan yang tidak di gaji sama kakak ipar, emangnya dia kerja di mana, apa dia kerja di ladang?" beragam pertanyaan di ajukan oleh bu Erna.


"Dia tidak kerja di ladang bu, dia kerja di proyek yang ada di luar kota, saya juga terkejut ketika tau kalau ada karyawan yang di perlakuan seperti itu sama juragan Doni"


"Kalau seperti itu nanti saya akan hubungi kak Jamilah, biar dia yang meluruskan masalah ini, saya juga akan bilang kalau keuangan lebih baik kembali di pegang sama saya, kalau sama kakak ipar, takutnya kejadian ini terjadi kembali"


"Baik bu, saya mohon jangan biarkan kerja keras karyawan selama ini tidak di bayar sama sekali, kasihan mereka"


"Iya, saya tidak akan biarkan hal itu terjadi, oh ya kamu akan nikah kapan, kenapa kamu gak bilang-bilang sebelumnya kalau kamu akan nikah"


Sekar mendadak menjadi tak nyaman, dia menjadi panas dingin saat di tanya seperti itu oleh bu Erna, tapi beda halnya dengan pak Anton yang tetap tenang dengan kebohongan ini.


"Secepatnya bu, kami akan menikah secepatnya, saya pamit undur diri dulu, saya tidak bisa berlama-lama di sini"


"Ya silahkan, kalau ada apa-apa yang tidak benar di ladang kamu laporkan sama saya, gak usah takut kalau kakak ipar yang ngancem kamu yang bukan-bukan, karena di sini saya yang bayar kamu, bukan dia!"


"Baik bu, saya permisi dulu, assalamualaikum"

__ADS_1


"Wa'alaikum salam"


Mereka berdua undur dari sana, pak Anton melajukan mobil menuju ke desa kembali setelah selesai melaporkan hal yang tidak benar itu.


__ADS_2