
"Mau pergi kemana kalian, tidak akan aku biarkan kalian lolos gitu aja, kalian sudah mencari gara-gara sama aku, aku gak akan tinggal diam, kalian harus tau rasanya berurusan dengan ku" kecam Sekar dengan mengejar bu Salamah dan juga pak Behry dari belakang.
"Hantu, tolong ada hantu"
"Tolong kami"
"Tolooong"
Teriakan mereka begitu nyaring, warga sekitar memang mendengarnya namun mereka tidak ada yang berani keluaran rumah, mereka memilih mengurung diri, mereka tidak ingin ikut campur karena posisinya mereka juga sama-sama takut pada yang namanya hantu.
"Mau pergi kemana kalian, berhenti, menyerahlah pada ku" titah Sekar dengan nada yang begitu menyeramkan.
Mereka tidak akan sebodoh itu menyerah pada Sekar yang jelas-jelas adalah hantu yang paling mereka takuti.
Selama ini mereka ingin berusaha untuk menghindar dari Sekar, mereka tidak akan semudah itu menyerah pada Sekar.
Mereka dengan secepat kilat berlari menghindari Sekar yang terus mengejar mereka dari belakang, mereka akan menuju masjid desa tempat terbaik untuk mereka berlindung saat ini.
"Toloooong!"
"Tolooong ada hantu, tolong kami, kami mohon tolonglah kami" teriak bu Salamah yang ketakutan hebat namun kakinya tak berhenti berlari.
Sekar tak berhenti, ia sudah menaruh dendam yang menggebu-gebu pada kedua pasangan suami istri itu, ia tidak akan membiarkan mereka lolos hari ini.
Sekar akan pastikan bahwa mereka berhasil ia celakai, kemarin malam ia gagal, ia tidak mau gagal lagi.
"Jangan pergi, berhentilah, jika kalian tidak mau mati!" teriak Sekar dengan makna tersirat di dalamnya.
Mereka sekalian ketakutan, mereka tidak berani menoleh ke belakang, mereka terus saja berlari dengan kencang, mereka akan berusaha sekeras mungkin untuk menghindar dari Sekar.
"Berhenti Sekar, tolong berhentilah, jangan ganggu kami, kami mohon, ampunilah kami, berikan kami kebebasan, kami tidak akan ganggu kamu lagi" titah bu Salamah dengan sangat memohon.
__ADS_1
Untuk menyelamatkan dirinya dari terkaman maut Sekar ia harus mengeluarkan akting terbagusnya agar bisa lolos dari kejaran Sekar.
Bu Salamah berharap bahwa Sekar akan berhenti dan mengampuninya.
"TIDAK, aku tidak akan mengampuni kalian, kalian sudah sangat keterlaluan, kalian sudah buat aku seperti ini selama ini, jangan harap kalian bisa hidup tenang!" tutur Sekar yang berhasil membuat tubuh mereka semakin di selimuti rasa merinding.
Dengan panik dan tegang pasangan suami istri itu terus berlari menuju masjid yang masih lumayan jauh dari sana.
"Sekar tolong kasihanilah kami, kami tau kami salah, tapi apakah kamu tidak bisa memanfaatkan kami, kami mohon berilah kami pintu maaf mu" ujar bu Salamah dengan harapan bisa mengetuk pintu hati Sekar yang sekeras batu.
"Tidak mungkin aku mau memaafkan kalian, kalian sudah banyak menebarkan kebencian dan juga penderitaan pada ku semenjak aku masih hidup, kini giliran ku melakukan balas dendam, kalian kira aku tidak akan balas dendam suatu saat nanti hah?"
"Kalian salah besar, aku akan terus balas dendam sampai kalian bisa merasakan penderitaan yang selama ini aku rasakan!" penuh penekanan Sekar.
Dendam masih membara, Sekar tidak akan berhenti begitu saja, selama ini bu Salamah terus mengganggu ketenangannya, sudah waktunya ia membalas dendam.
Mereka berdua terguncang hebat, mereka semakin gemetaran saat mendengar kalimat demi kalimat ancaman yang keluar dari bibir Sekar.
Suara tawa seram itu berhasil membangkitkan ribuan rasa merinding, mereka tampak panik, peluh-peluh dingin bercucuran sepanjang perjalanan.
"Mau pergi kemana kalian, kalian tidak akan bisa lolos dari ku malam ini, walaupun kalian berlari ke kemanapun aku akan tetap kejar kalian" ujar Sekar yang membuat mereka semakin tidak tenang.
Yang bisa mereka lakukan saat ini hanya berlari, mereka tidak punya akal lagi untuk bisa membuat Sekar yang gentayangan dan hatinya di penuhi dendam itu pergi.
"Sekar apa yang menjadi alasan mu melakukan ini pada kami, kami sudah tidak mengusik hidup mu lagi, lantas mengapa kamu masih tetap melakukan hal ini pada kami" heran pak Behry.
"Iya Sekar, kami sudah gak mencari gara-gara sama kamu, kenapa kamu masih tetap hukum kami sampai seperti ini, kami akui bahwa kami pernah bikin kamu menderita, kamu juga pernah buat hidup kamu di selimuti rasa takut, tapi itu dulu Sekar, sekarang kami tidak seperti itu, tapi mengapa kamu tetap saja memiliki dendam pada kami yang gak punya dosa ini" sambung bu Salamah.
"Kalian bilang dulu? hanya dulu kalian ngusik hidup aku?"
"Hei aku punya telinga, aku bisa sangat semua apa yang kalian katakan, kalian masih sempat-sempatnya mengumbar kebencian, kalian juga selalu menjelek-jelekkan nama ku, aku bisa mendengar dan melihat hal itu dengan jelas, tapi kalian yang tidak bisa melihatnya, jadi jangan beranggapan kalau di sini akulah yang memulai peperangan, ketahuilah satu hal, tidak akan ada asap kalau tidak ada api!" pertegas Sekar yang berhasil membuat mereka menegak ludah pahit.
__ADS_1
Mereka mengira bahwa apa yang mereka katakan selama ini tidak akan di ketahui oleh Sekar, mereka cuma berpikir bahwa Sekar hanya ada ketika di malam hari, mereka tidak tau bahwa meskipun di siang hari Sekar dapat mendengar apa yang mereka bicarakan.
"Gawat ternyata Sekar dengar semuanya, bahaya ini, aku harus jaga lisan untuk kedepannya, kalau aku tetap benci sama dia, dia gak akan berhenti buat ganggu aku, liat sekarang aja dia neror aku sampai kayak gini, aku yakin dia gak akan berhenti sampai kapanpun itu" batin bu Salamah yang menyadari segala kesalahannya.
"Sekar tolong maafkan kami, kami minta maaf pada mu" mohon pak Behry, ia berharap ucapannya barusan dapat melunakkan hati Sekar yang sekeras baja.
"Basi, kata-kata maaf yang keluar dari bibir kalian itu basi, sampai kapan aku tidak akan pernah mau maafin kalian, ingat itu baik-baik!" Sekar yang hatinya di penuhi dendam tidak akan dengan mudah memaafkan orang yang sudah membuat hidupnya hancur sedalam samudera.
Mereka berdua berlari ke jalanan yang berhasil membuat Sekar panik.
"Jangan ke sana, ku mohon jangan pergi ke sana, kembalilah kalian, kalian jangan pergi ke sana" heboh Sekar yang tau arah tujuan mereka.
Mereka semakin kencang berlari, mereka tidak mendengarkan ucapan Sekar sama sekali, mereka tidak peduli Sekar berteriak-teriak seperti apa yang penting mereka sampai di tempat yang mereka mau.
"Woy ku bilang berhenti ya berhenti, kalian jangan keras kepala!" amarah Sekar semakin menjadi-jadi saat kedua pasangan suami istri itu tidak ada yang mau mendengar keinginan.
"Bu ayo lebih cepat lagi, sebentar lagi kita akan segera sampai di sana" ajak pak Behry yang sudah melihat masjid dari kejauhan.
Bu Salamah mengangguk, ia berlari mengejar pak Behry dengan sangat kencang.
"Tidaaaakkkkk!" pekik keras Sekar saat kedua pasangan itu telah masuk ke dalam tempat yang tidak bisa ia masuki.
Sekar meraung keras di luar, ia kesal karena sekali lagi ia kembali gagal mengganggu kedua pasangan suami istri itu.
"Aaaaahhh!"
"Kenapa mereka pake datang kemari segala, gagalkan jadinya" kesel Sekar yang benci dengan tempat itu.
Ia bisa saja masuk ke dalam masjid untuk mengejar mereka, namun ia tidak mau mengambil resiko, lantaran di dalam masjid itu terdapat Al-Qur'an, salah satu ayat Al-Qur'an akan bisa membuatnya kepanasan.
Sekar tidak mau kepanasan hanya karena dendam pada mereka.
__ADS_1