Kuntilanak

Kuntilanak
Masih sempat-sempatnya menghina


__ADS_3

Malam harinya.


Suasana desa kembali hening dan sunyi, setiap pintu-pintu rumah tertutup dengan rapat, tak ada seorangpun yang berani keluaran rumah jika ia mendengar bahwa di desa anggrek tengah ada arwah wanita hamil yang gentayangan.


Tak ada seorangpun yang berani keluaran rumah, berita Sekar yang gentayangan tersebar luaskan sampai ke desa-desa sebelah, orang-orang desa sebelah yang tau akan hal itu tak berani mendatangi desa anggrek ketika di malam hari.


Seorang pejuang sate kembali berkeliling menjual dagangannya meskipun tau bahwa desa anggrek sudah tidak aman, bukan maling yang menjadi ancaman bagi mereka namun hantu yang menjadi mala petaka yang paling berat bagi warga-warga kampung.


"Sate, sate, sate" teriak mang Karyo yang terus berkeliling dengan berteriak-teriak mencari pelanggan.


Semenjak Sekar meninggal dunia dagangan mang Karyo mulai sepi lantaran tidak ada orang yang keluaran rumah meskipun mereka lagi pengen makan sate buatan mang Karyo yang terkenal enak.


"Sate, sate, sate" teriak mang Karyo sekali lagi.


Di jalanan yang sepi mang Karyo tidak melihat siapapun yang melintas, semua tempat sepi.


Tempat yang biasanya di jadikan tongkrong baik oleh ibu-ibu maupun anak-anak muda kosong, tak satupun ada yang berani keluaran rumah seperti dulu lagi.


"Kok sepi banget ya, orang-orang benar-benar gak mau keluaran rumah apa gimana ini?" bingung mang Karyo yang tak kunjung menemukan pelanggan.


Mang Karyo masih terus berkeliling, ia yakin bahwa akan ada orang yang membeli dagangannya.


"Sate, sate, sate"


Mang Karyo masih belum patah semangat, ia terus berkeliling di jalanan yang semakin lama semakin sepi dan hening.

__ADS_1


"Fiks ini gak ada orang yang akan beli dagangan ku, aku harus jual kemana lagi dagangan ku, kalau begini terus aku akan kehilangan pekerjaan ku" menatap sedih mang Karyo yang dagangannya menjadi sulit untuk laku akhir-akhir ini.


Mang Karyo masih saja berkeliling, jika tak ada orang yang ia temukan di desa ini, ia akan pindah ke desa sebelah untuk menjual dagangannya.


"Mang, berhenti mang" teriak seseorang yang berhasil membuat seulas senyuman terukir di wajah mang Karyo.


Mang Karyo berhenti, seorang ibu-ibu berlari mendekati mang Karyo yang berada tak jauh dari rumahnya.


"Mang pesan satenya 3 porsi, gak pake lama" titah bu Rohani.


"Baik bu" mang Karyo dengan cepat membuat pesanan pelanggan pertamanya malam ini.


Bu Rohani duduk di kursi yang sudah mang Karyo bawa dengan tenang.


"Iya bu, tapi saya kadang gak keliling di sini, saya keliling di desa sebelah, kalau di sana keadaan normal, keadaan yang terjadi di sana aman, tidak seperti di sini yang sepi dan gak ada orang yang keluaran rumah" jelas mang Karyo sambil menyiapkan pesanan bu Rohani.


"Kalau di sini mang gak ada yang berani keluaran rumah, satupun warga masih takut buat keluyuran, saya ini keluar rumah karena tadi pagi warga-warga melaporkan masalah ini ke pak RT, kami yakin pak RT bisa mengurusnya" sahut bu Rohani.


"Semoga saja bu keadaan di desa ini kembali seperti dulu lagi" harapan besar mang Karyo.


"Amin mang, saya dan juga warga-warga lainnya sudah gak tahan dengan keadaan yang seperti ini, kami ingin segala penderitaan yang kami alami segera usai, kami sangat berharap bahwa pak RT bisa segera memperbaiki keadaan desa yang tengah kacau lantaran ada arwah Sekar yang gentayangan" timpal bu Rohani yang tidak mau suasana seperti ini semakin berlarut-larut.


"Oh ya mamang kalau keliling di desa ini gak pernah ketemu sama Sekar, dia itu hantu jadi-jadian, dia serem banget, kemarin malam udah ada banyak orang yang dia datangin sampai ada yang di celakain, separah itu dia gangguin orang" ujar bu Rohani.


"Saya waktu itu memang sempat liat kayak apa hantu Sekar itu, tapi alhamdulilahnya dia gak ganggu saya, dia cuma diam aja" jawab mang Karyo.

__ADS_1


"Mamang beruntung sekali gak di ganggu sama Sekar, orang-orang mang sampai gak bisa tidur nyenyak gara-gara Sekar, saya juga pernah di ganggu sama dia, sampai-sampai saya pingsan di tempat, saya gak kuat lihat dia yang sereem banget" bu Rohani merasa mang Karyo hebat lantaran tidak pernah di ganggu oleh Sekar.


Hampir seluruh warga di desa ini perlahan-lahan telah merasakan takutnya saat di ganggu sama Sekar.


"Saat Sekar masih hidup saya gak pernah ganggu Sekar bu, saya tidak pernah ikut-ikutan hina dia, karena saya tau berada di posisi Sekar itu sulit, saya bisa merasakan penderitaan yang dia alami walaupun saya tidak mengalaminya secara langsung, saya merasa dia hebat bisa bertahan, namun sayangnya dia harus menghembuskan nafas, padahal anaknya itu baik bu, saya heran mengapa semua orang benci pada dia, dia tidak pernah mengganggu orang-orang, dia selalu sopan kalau ketemu sama orang" mang Karyo tak habis pikir dengan jalan pikiran orang-orang yang selama ini menghina dan memaki-maki Sekar.


Bu Rohani tiba-tiba terbungkam, begini-begini juga ia sudah ikut-ikutan menghina Sekar, sekarang ia merasa malu melakukan tindakan itu, akibat tindakannya ia kini mendapatkan masalah yang besar.


"Ini bu pesanannya sudah selesai" mang Karyo memberikan pesanan bu Rohani.


"Terima kasih mang, ini uangnya" mang Karyo menerimanya dengan mengucap puji syukur pada sang ilahi karena malam ini dagangannya masih bisa laku walaupun gak banyak.


Mang Karyo putar arah, ia berkeliling di desa sebelah yang aman dan tentram, ia tidak bisa berlama-lama berada di desa ini lantaran desa ini sudah tidak aman lagi, ancaman hantu yang gentayangan itu membuatnya tak berani berada di sini, lagi pula dagangannya tidak akan laku kalau berkeliling di desa ini.


Sementara bu Rohani terus berjalan pulang ke rumahnya dengan membawa sate yang sudah ia beli di mang Karyo.


Sepanjang perjalanan bu Rohani memikirkan apa yang tadi mang Karyo ucapakan, ia sedikit tertampar dengan ucapan mang Karyo.


"Apa iya ya kalau Sekar itu baik, tapi kalau di pikir-pikir Sekar gak pernah ganggu orang, dia diam saat di hina dan di caci maki, tapi apa alasan bu Salamah hina-hina Sekar selama ini, apa yang sudah Sekar perbuat sehingga dia sangat benci pada Sekar" heran bu Rohani mencoba mencari tau kesalahan Sekar yang sekiranya fatal dan masuk akal orang-orang menghinanya.


"Kesalahan terbesar Sekar cuman mau jadi simpanan juragan Doni yang sudah jelas-jelas sudah beristri, kalau dia wanita baik-baik dia gak akan lakuin itu bukan" bu Rohani teringat masalah yang berhasil merenggut nyawa Sekar dan membuat pandangan semua ibu-ibu kampung berubah terhadapnya.


"Gilani Sekar itu, kok mau dia ya jadi simpanan juragan Doni, sampai hamil pula, benar-benar memalukan dia, dia benar-benar wanita hina, meski apapun yang terjadi aku akan tetap sebut dia wanita hina, murahan dan gak punya harga diri" tutur bu Rohani dengan tegas dan jijiknya.


Hanya sepatah kata membuat semua ibu-ibu kampung berbalik arah dan membenci Sekar, mereka menjadi tidak respek lagi kala tau bahwa Sekar yang terlihat polos dan baik mau menjadi simpanan juragan Doni.

__ADS_1


__ADS_2