Kuntilanak

Kuntilanak
Tolong kembalikan anak ku


__ADS_3

"Eh jangan ke sana, di sana itu kuburan, lebih baik kita kembali aja, percuma kita ke sana karena di sana gak akan ada ibu kamu, di sana itu sepi" cegah bu Jamilah yang tak siap untuk melewati jalanan suram yang memang terkenal angker sejak dulu.


"Tante di sana ada ibu aku, ayo kita ke sana, kita temui ibu, tante harus bujuk ibu biar pulang ke rumah lagi, tante udah janji mau bantuin aku, tante gak boleh berkhianat" gadis kecil itu yakin seratus persen bahwa di sana memang terdapat sang ibu.


Mulut bu Jamilah bungkam, ia mau tidak mau harus tetap mengikuti gadis kecil itu yang akan segera masuk ke dalam jalanan suram yang paling ia takuti, ia sudah berjanji akan membantunya dan dia harus menepati janjinya tersebut.


Bu Jamilah menatap ke kanan dan kirinya yang sepi dan sangat mencekam, rasanya ia tak mau masuk ke dalam jalanan itu, namun kakinya terus saja melangkah.


Dalam ketakutan yang menyerang tubuhnya bu Jamilah terus berjalan memasuki jalanan suram yang benar-benar gelap, kegelapannya dua kali lipat dari gelapnya malam biasa.


"Gelap banget jalanan ini, gak ada penerangannya lagi, jalanan ini benar-benar menakutkan, nyesel aku janji sama anak kecil ini, kalau begini kan aku gak bisa berkutik" batin bu Jamilah yang di serang rasa takut.


Kaki bu Jamilah terus melangkah memasuki jalanan suram yang tak terlalu panjang namun seramnya tiada tanding.


Kukk


Suara burung hantu terdengar nyaring, bu Jamilah memucat, penyesalan yang mendalam terbesit di hatinya, ingin rasanya ia lari, namun anak kecil itu tidak akan membiarkan dia pergi.


"Seram banget bunyinya, gak tahan aku berada di sini lama-lama, aku harus pergi dari sini secepatnya, aku gak mau mati kutu di sini, tapi gimana caranya, anak ini gak bakal izinin aku pergi, nyesel deh aku ikutin dia sampai ke sini" batin bu Jamilah berdecak kesal namun kakinya masih terus berjalan tanpa henti.


"Tante jangan takut, itu cuman burung hantu biasa kok, dia gak akan ngapa-ngapain kita, tante jangan khawatir" anak kecil itu berusaha menenangkan bu Jamilah, ia menyadari bahwa bu Jamilah takut dengan suara seram milik burung hantu.


Bu Jamilah tak mengucapkan sepatah katapun, dalam keadaan tubuh yang di kelilingi rasa takut ia terus melihat-lihat ke kanan dan kiri inti berjaga-jaga supaya tidak ada sesuatu yang tidak di inginkan terjadi.


"Di mana tempat ibu kamu berada, cepat tunjukan, karena habis ini tante ada urusan, tante gak bisa lama-lama lagi" ujar bu Jamilah berasalan supaya dia bisa pergi dari tempat ini secepatnya.


"Ibu aku ada di tengah-tengah tante" tunjuk anak kecil itu ke tengah kuburan sebelah barat yang angker dan serem.


"Kok ibu kamu ada di sana, ngapain dia ada di sana?" merasa aneh bu Jamilah.

__ADS_1


"Ibu maunya ada di sana, dia gak mau pulang, tolong bujuk ibu aku pulang tante, aku ingin berkumpul lagi sama ibu" mohon gadis kecil itu dengan menahan air mata yang hendak jatuh.


Bu Jamilah tak tega melihatnya seperti ini, hatinya terenyuh dan mau menuruti keinginan anak kecil yang tak tau anaknya siapa itu.


"Iya tante akan bantu ibu kamu, sekarang cepat bawa tante ke sana, tante yang akan bujuk ibu kamu buat kembali lagi ke rumah, kamu tidak perlu khawatir, tante tidak akan pergi sebelum ibu kamu pulang" janji bu Jamilah.


Seulas senyum terukir di wajah gadis kecil itu yang senang karena ada yang mau membantunya membujuk ibunya yang tengah merajuk.


Anak kecil itu berjalan melewati kuburan-kuburan yang terletak di sebelah barat, dalam tubuh yang di selimuti rasa takut dan merinding bu Jamilah berjalan mengikutinya dari belakang.


Bu Jamilah mengangkat bahunya bergidik ngeri saat matanya menatap batu-batu nisan orang-orang yang sudah berpulang, sungguh ia sangat takut berada di kuburan malam-malam seperti ini, namun hanya untuk membantu gadis kecil itu ia pun mau keluar rumah.


"Apa masih jauh lagi, tolong cepat tunjukkan di mana ibu kamu berada, tante ada urusan habis ini, tante gak bisa lama-lama" bu Jamilah sudah tak bisa tahan dengan keadaan ini, ia ingin segera pulang, di sini bukan tempatnya.


Gadis kecil itu tak menjawab, ia terus berjalan lurus ke barat dengan melewati banyaknya kuburan-kuburan orang.


"Menakutkan sekali tempat ini, sebenernya dia akan membawa ku kemana, apa yang dia inginkan sebenarnya, aku ingin pulang, aku gak mau di sini" batin bu Jamilah yang sudah tidak bisa tahan lagi.


"Nah di sini tante tempat ibu ku berada" anak kecil itu berhenti di salah satu makam yang terletak di tengah-tengah kuburan.


Bu Jamilah tercekat setelah tau ibu dari anak kecil itu.


"I-ini ibu kamu?" gadis kecil itu menganggukkan kepalanya cepat.


"Maaf tante gak bisa bantu kamu buat bujukin ibu kamu agar dia mau pulang lagi" ujar bu Jamilah yang gemetar.


"Kenapa tante, kenapa tante tiba-tiba gak bisa, tante kan bilang gak mau pergi sebelum bisa bujuk ibu kembali" air mata mengenang di pelupuk mata gadis kecil itu saat mendengar penuturan bu Jamilah yang malah tak jadi membantunya.


"Bagaimana aku bisa minta dia kembali, dia sudah meninggal, mustahil aku bisa hidupkan dia lagi, aku bukan tuhan aku manusia biasa" batin bu Jamilah yang bergetar.

__ADS_1


"Apa karena tante takut sama ibu?" ujar gadis kecil itu menatap dengan seksama bu Jamilah yang mulai memucat.


"E-enggak, tante gak takut kok" elak bu Jamilah.


Gadis kecil itu menyunggingkan senyuman manisnya yang pelan-pelan berubah menjadi senyuman sinis.


Tubuhnya yang kecil dan wajahnya yang terlihat sangat cantik berubah menjadi seorang kuntilanak yang menyeramkan, wajahnya hancur dan tubuhnya bersimbah darah.


"Aaaaaaaaahhhhh!" histeris bu Jamilah yang terkaget-kaget saat anak kecil itu berubah menjadi musuh bebuyutannya.


"Kembalikan anak ku, jangan bunuh anak ku, kau pembunuh, kembali anak ku!" teriak Sekar yang histeris, ia tak rela anak yang ia kandung dengan susah payah selama 9 bulan meninggal di tangan bu Jamilah.


Bu Jamilah dengan tubuh yang gemetaran menggelengkan kepalanya."Aku bukan pembunuh, aku bukan pembunuh, jangan sebut aku pembunuh, jangan!"


Bu Jamilah tanpa pikir panjang berlari dari sana, ia tidak mau berlama-lama berada di sana, malam ini ia berhasil tertipu kembali oleh tipu muslihat Sekar yang menyamar menjadi seorang anak kecil untuk membalaskan dendamnya.


"Kau pembunuh, pembunuh, jangan pergi, kau harus mati!" pekik Sekar terbang mengikuti bu Jamilah dari atas.


"Enggaaak, aku bukan pembunuh, bukan aku, tolong jangan hakimi aku!" jerit bu Jamilah dengan berlari terbirit-birit.


"Kau pembunuhnya, berhenti, jangan pergi kau!"


Bu Jamilah yang di teriaki seperti itu berlari tanpa kenal arah, ia tidak peduli lagi tempat apa saja yang ia injak-injak.


Saking gilanya berlari bu Jamilah menabrak pohon beringin yang berukuran besar dan membuatnya jatuh tak sadarkan diri di sana.


Sekar berhenti mengejar bu Jamilah, ia menatap tubuh bu Jamilah yang sudah tak sadarkan diri.


"Suruh siapa kau bermain-main dengan ku, sekarang aku akan buat kau menderita sampai kau benci dengan dunia ini" pertegas Sekar tak main-main.

__ADS_1


__ADS_2