Kuntilanak

Kuntilanak
Keanehan dari diri Sri


__ADS_3

Bu Rohani merasa aneh mengapa anaknya tiba-tiba menjadi pendiam, biasanya dia sangat cerewet, tak pernah dia seperti ini.


"Kenapa Sri tiba-tiba menjadi pendiam, apa yang dia pikirin, kenapa dia gak jawab pertanyaan aku, apa jangan-jangan dia lagi kepikiran sama masalah yang menimpanya di kantor sehingga membuatnya berubah draktis kayak gini" batin bu Rohani berpikir positif, ia tidak mau berburuk sangka pada sesuatu yang masih belum di ketahui kebenarannya.


"Sepertinya iya, dia lagi kepikiran sama masalah itu, benar-benar kurang ajar mereka, mereka sudah membuat anak ku berubah draktis kayak gini, liat aja apa yang akan aku lakukan pada mereka nantinya" batin bu Rohani yang semakin kesal dan murka pada mereka.


Bu Rohani diam, ia tidak lagi melempar pertanyaan, melihat anaknya yang tiba-tiba menjadi pendiam ia merasa hal itu terjadi gara-gara masalah yang sudah menimpanya, ia memutuskan untuk diam agar Sri bisa fokus mengendari motornya.


Motor terus melaju dengan kencang, motor itu kini masuk ke jalan yang berhasil membuat mulut bu Rohani terbuka dengan lebarnya.


"Sri kamu mau bawa ibu kemana, kenapa ke sini, ini bukan jalanan yang biasa kita lewati" ujar bu Rohani yang mulai panik saat jalanan yang kini ia lewati berbeda dengan jalanan utama yang biasanya warga lintasi.


"Ini adalah jalanan singkat bu, kalau lewat jalanan ini kita akan bisa segera sampai di tempat kerja aku, udah ibu diam aja, semuanya akan baik-baik aja kok, percaya deh sama aku" Sri menenangkan ibunya yang panik tak karuan, pandangannya masih terus menatap lurus ke depan, ia ingin segera sampai ke tempat yang menjadi tujuannya.


Bu Rohani pun diam, ia kembali duduk dengan tenang, ia pasrahkan semuanya pada anaknya, ia yakin anaknya tidak akan mencelakainya, ia percayakan semuanya pada anaknya.


Sepanjang perjalanan bu Rohani menatap ke kanan dan kiri yang benar-benar asing, ia sebelumnya tidak pernah sekalipun melintasi jalanan tersebut.


Jalanan itu begitu aneh, tidak ada penerangan sama sekali, semuanya gelap gulita.


"Serem banget jalanan ini, kenapa Sri pake lewat jalanan ini segala, walaupun katanya ini jalanan yang mempersingkat, tapi aku lebih baik lewat jalanan biasa meskipun lama, yang penting aman dan nyaman" batin bu Rohani terus menatap sekelilingnya yang sangat-sangat menyeramkan.


Sri terus melajukan motor dengan kecepatan tinggi, bu Rohani makin tidak tenang, ia merasakan hawa tak nyaman yang di timbulkan tempat ini, perasaannya tiba-tiba tidak enak karena di sepanjang perjalanan yang ia jumpai hanyalah semak-semak belukar dan pohon-pohon yang menjulang tinggi.


"Sri kamu mau bawa ibu kemana sebenernya, kenapa jalanan ini serem banget, ayo Sri kita pulang aja, lewat jalanan yang biasa aja, jangan lewat jalanan ini, jalanan ini angker Sri ibu takut ada apa-apa yang terjadi sama kita" mulai tidak tenang bu Rohani, ia sudah tidak tahan berada di jalanan yang angker dan gelap ini.

__ADS_1


Sedari tadi ia berusaha untuk diam, namun lama kelamaan ia tidak bisa bertahan lagi, perasaannya semakin lama semakin tidak enak, ia merasa ada yang janggal dari tempat ini.


"Udah ibu diem aja, jalanan ini itu jalanan yang bisa mempersingkat waktu, aku itu harus cepat-cepat sampai di tempat kerja sebelum bos keburu pulang, mangkanya aku lewat jalanan ini" sekali lagi Sri kembali menenangkan bu Rohani yang cemas tak karuan.


"Tapi Sri jalanan ini itu angker, gak ada orang juga yang berkeliaran, ibu merasa takut, gimana kalau kita datang ke tempat kerja kamu besok pagi aja, ibu pasti akan labrak teman-teman kamu yang gak guna itu, bos kamu juga akan percaya lagi sama kamu, sekarang ayo kita pulang lagi ke rumah, kita selesain masalah ini besok aja" saran bu Rohani berharap anaknya menyetujuinya.


Perasaan bu Rohani masih tetap tidak enak, ia tak ingin berlama-lama berada di tempat ini, ia merasakan sesuatu yang aneh sehingga dia memutuskan untuk mengajak anaknya kembali.


"Ibu apaan sih, udah diem aja, jangan banyak bicara, ibu mau bantuin aku apa enggak sih!" bentak Sri yang mulai kesal dengan ibunya sendiri.


Bu Rohani terperangah, baru kali ini anaknya berani membentaknya, sebelumnya Sri tidak pernah begini pada ibunya sendiri walaupun dia sangat cerewet.


"Sri kamu kenapa berubah, kenapa kamu jadi pemarah, kamu kerasukan setan mana, kenapa kamu sekarang ngelawan sama orang tua!" hardik bu Rohani yang tak suka dengan sikap Sri yang benar-benar tak sopan itu.


Walaupun bu Rohani salah satu ibu-ibu tukang gosib tapi ia akan memastikan bahwa dirinya bisa mendidik anaknya dengan sebaik mungkin, ia sangat-sangat tidak suka bahwa anaknya melawan pada orang tua seperti ini.


"Enggak, ibu gak mau ke sana, sekarang anterin ibu pulang ke rumah lagi, perasaan ibu gak enak, ibu mau pulang aja, ibu mau minta bapak kamu pulang biar kita rembukin masalah ini dulu, kita jangan gegabah, gegabah itu gak baik, ayo sekarang anterin ibu pulang!" titah bu Rohani dengan tegasnya, ia tidak mau di perbudak oleh anaknya sendiri.


Kali ini bu Rohani tidak mau diam lagi, apa yang sudah terjadi saat ini membuat perasaannya semakin tidak nyaman, ia sangat khawatir ada sesuatu yang terjadi padanya kalau ia nekat meneruskan perjalanan.


"Ibu, ibu harus bantuin aku, aku akan segera di pecat kalau ibu gak bantuin aku, ibu gimana sih, ibu mau anak ibu jadi pengangguran, aku gak mau bu, mau di tarok di mana muka aku kalau orang-orang tau kalau aku udah gak punya pekerjaan lagi" Sri malu untuk menyandang status pengangguran.


"Sri lapangan pekerjaan itu masih banyak, kalau hari ini kamu benar-benar di pecat, kamu bisa cari pekerjaan di tempat lain lagi, pasti ada kok perusahan yang mau nerima kamu, ibu yakin itu" timpal bu Rohani dengan penuh keyakinan.


"Bu sekarang itu cari pekerjaan gak segampang itu, sekarang itu sulit buat dapatin pekerjaan, pekerjaan aku itu udah bagus, aku gak mau ninggalin pekerjaan ku yang sebagus itu, gajinya juga lumayan, ibu tolonglah aku, ibu jangan kayak gini, tadi ibu mau bantuin aku, kenapa sekarang ibu malah berubah pikiran" heran Sri dengan jalan pikiran ibunya yang berubah-ubah.

__ADS_1


"Sri setahu ibu itu jalanan ini itu buntu, tapi kenapa sekarang bisa selancar ini, seumur hidup ibu, ibu gak pernah melintasi jalanan ini, mangkanya ibu merasa jalanan ini jalanan aneh, lebih baik ayo kita pulang aja, kita jangan nerusin perjalanan, perasaan ibu gak enak, ibu takut ada apa-apa yang terjadi sama kita, kamu jangan bandel, kita harus mikirin keselamatan kita, uang bisa di cari tapi nyawa tidak!" pertegas bu Rohani dengan harapan bahwa Sri akan berubah pikiran.


"Ibu itu salah dengar, jalanan ini memang selancar ini, aku kalau pulang malam memang lewat di sini karena jalanan ini aman, gak akan ada rampok kok" bantah keras Sri.


Bu Rohani diam, apa yang ia dengar dengan apa yang Sri beritahukan padanya benar-benar bertolak belakang.


Bu Rohani tidak tau harus percaya pada yang mana.


"Tapi Sri apa yang orang-orang bilang itu memang benar, kamu jangan bandel napa, ayo anterin ibu pulang!" perintah bu Rohani yang tidak bisa di ganggu gugat.


Sri tiba-tiba diam, ia tidak mendengarkan ucapan ibunya sama sekali, ia malah terus melajukan motor itu tanpa henti.


"Sri kamu dengarkan apa yang ibu katakan, ayo kita pulang, jangan malah nerusin perjalanan!" sorak bu Rohani yang kesal karena anaknya tidak mendengarkan ucapannya sama sekali.


Sri tetap diam, ia tidak niatan sama sekali untuk mematuhi perintah sang ibu.


"Sri berhenti!" teriak bu Rohani.


"SRIIIiiiiii" pekik keras bu Rohani sekali lagi.


Sri menoleh ke belakang dengan wajahnya yang hancur, sorot matanya amat tajam, ujaran kebencian terlihat dengan jelas di wajahnya.


Bu Rohani melototkan matanya, ia tak pernah menyangka bahwa yang ada di depannya bukanlah anaknya, ia yang panik langsung melompat dari motor.


"H-HANTU....." teriak bu Rohani berlari terbirit-birit dari sana.

__ADS_1


Sekar yang melihat bu Rohani ketakutan tertawa bahagia, ia puas melihat bu Rohani menderita.


"Tadi kau menghina ku bukan, sekarang kau tau rasa itu, suruh siapa kau bermain-main dengan ku!" seulas senyuman sinis terukir di wajah Sekar saat memandang punggung bu Rohani yang berlari ketakutan meninggalkannya.


__ADS_2