
Di sisi lain.
Para ibu-ibu yang tadi berdemo di rumah pak RT kini berkumpul di gazebo kembali.
"Apa iya ya pak RT akan bisa usir Sekar dari sini, saya gak yakin" bu Naima merasa tidak yakin bahwa pak RT bisa mengusir Sekar yang gentayangan itu.
"Walaupun seumpamanya dia gak berhasil, kita bisa ancam dia, kita bilang aja kalau dia memang gak berhasil usir Sekar dia bukan lagi RT di desa ini" sahut bu Maimun.
"Saya yakin banget bu, pak RT pasti akan mikir panjang masalah ini, dia pasti bisa usir Sekar, serahkan saja sama pak RT, semoga saja dia biar usir Sekar" tambah bu Nining.
Semua ibu-ibu pada berdoa semoga Sekar yang seram dan menakutkan itu segera minggat dari desa ini, mereka sudah tidak sanggup dengan teror-teror menakutkan yang Sekar layangkan itu.
"Kita tinggal tunggu kabar aja dari pak RT gimana hasilnya, gak perlu repot-repot berurusan langsung sama Sekar, selagi ada pak RT, semuanya aman terkendali" bu Salamah menyerahkan segalanya pada pak RT, ia teramat yakin kalau pak RT bisa menyelesaikan persolaan yang sedikit rumit yang ada di desa anggrek ini.
"Iya, semoga secepatnya pak RT bertindak dan desa kita kembali seperti semula" timpal bu Lela.
"Amiiiiin" sahut ibu-ibu lainnya yang berharap bahwa bencana ini cepat kelar.
"Saya permisi dulu bu, saya mau pulang dulu, takut di cariin sama suami dan anak" pamit bu Hamiddeh.
"Iya, saya juga bu, saya tadi yang datang kemari gak pamit sama suami, saya takut suami nyariin, ayo bu kita pulang bareng" tawar bu Nining.
"Ayo bu" jawab bu Hamiddeh.
Keduanya pulang ke rumah bersama-sama, kebetulan arah rumah mereka sama.
Ibu-ibu lainnya yang berada di gazebo satu persatu pulang ke rumah masing-masing, sebagai seorang emak-emak mereka harus menyelesaikan semua tugas rumah baru bisa melakukan apa yang mereka mau.
Bu Salamah yang sudah letih karena semalam tidak bisa tidur nyenyak meskipun itu di dalam masjid pulang berjalan kaki ke rumahnya.
Setibanya di rumah bu Salamah langsung masuk ke dalam, ia melihat suaminya berbaring di sofa dengan helm yang masih belum di lepas.
__ADS_1
Bu Salamah terkejut melihat suaminya yang seperti baru pulang dari perang besar hingga tak sanggup untuk tidur di dalam kamar.
"Pak, bangun pak, ini sudah pagi, kenapa bapak jam segini masih molor, liat tuh jam udah mau jam 8, bapak harus kerja, jangan molor terus" bu Salamah membangunkan suaminya dengan nada yang sangat tinggi agar suaminya segera bangun.
Pak Behry langsung terperanjat, dengan gelagapan ia menatap sekitarnya."Di mana ini?"
"Di kuburan, gak liat apa kalau ini di dalam rumah!" ketus bu Salamah.
Pak Behry menatap sekelilingnya, dan benar saja kalau ia berada di rumah.
"Bapak kenapa jam segini masih molor, biasanya jam 6 udah bangun, kesiangan kan jadinya" marah bu Salamah yang melihat keteledoran suaminya.
"Bu tadi malam itu bapak di ganggu sama Sekar saat melintasi jalanan suram, bapak sampai lari terbirit-birit sambil dorong motor kemari, mangkanya hari ini bapak bisa kesiangan bangunnya" jelas pak Behry yang masih ingat betul kejadian tadi malam yang telah menimpanya.
"Bapak di ganggu sama Sekar?" terkaget-kaget bu Salamah, ia kira hanya dirinya seorang yang di ganggu tapi suaminya juga.
"Iya bu, tadi malam bapak di ganggu sama Sekar, sampai-sampai bapak pulang terbirit-birit ke rumah, siapnya motor bapak malah mogok di tengah jalan" ujar pak Behry.
Pak Behry yang sadar bahwa di kepalanya masih terdapat helm langsung melepasnya, tadi malam ketika ia sampai di rumah, ia langsung merebahkan tubuh karena letih namun naasnya ia malah terlelap sampai pagi.
"Ibu dari mana aja, kenapa baru pulang, tadi malam kok kayaknya gak ada di ibu di rumah?" heran pak Behry.
"Ibu baru pulang dari rumah pak RT, ibu dan para ibu-ibu lainnya demo di sana, kami minta pak RT untuk usir Sekar dari desa ini, kami sudah gak tahan terus menerus di ganggu sama Sekar" jelas bu Salamah.
Bu Salamah tidak menjelaskan bahwa dirinya tadi malam telah di ganggu oleh Sekar, saking takutnya dia sampai bersembunyi di dalam masjid yang tak ada satupun orang yang datang.
"Gimana tanggapan pak RT bu, dia mau kan usir Sekar dari sini?" penasaran pak Behry, di ganggu sekali saja sama Sekar dia sudah trauma, dia juga ingin pulang dengan selamat dan tanpa gangguan kayak dulu lagi.
"Pak RT lagi berusaha buat singkirin Sekar dari desa ini, kalau dia gak berhasil usir Sekar, para ibu-ibu sepakat untuk minta ganti RT baru" sahut bu Salamah.
"Bapak yakin sekali bu kalau pak RT pasti akan berusaha keras untuk usir Sekar, dia gak mungkin mau kehilangan pekerjaannya gara-gara gak bisa usir Sekar" firasat pak Behry.
__ADS_1
Bu Salamah hanya membalasnya dengan dehaman saja.
"Udah sana bapak mandi, habis itu berangkat kerja, cari uang yang banyak, biar kalau nantinya pak RT gak bisa usir Sekar, kita aja yang pindah dari sini" suruh bu Salamah.
"Iya-iya" pak Behry melangkah menuju kamar untuk mengambil handuk, lalu kemudian masuk ke dalam toilet untuk membersihkan tubuhnya.
Bu Salamah berjalan mendekati kamar Shila, ia tanpa mengetuk pintu langsung masuk ke dalam kamar Shila yang kebetulan tidak di kunci.
Shila memang tidak pernah mengunci kamarnya meski ada apapun itu.
"Shila bangun nak, ini udah siang, kamu harus berangkat kerja, nanti kamu telat lagi" suruh bu Salamah.
Shila membuka matanya dengan terkaget-kaget, ia langsung memeluk tubuh ibunya yang bisa langsung menenangkan dirinya.
"Shila kamu kenapa, kenapa wajah kamu pucat banget?" kaget bu Salamah dengan perubahan dari diri anaknya.
"Ibu, tadi malam ada pocong yang gangguin Shila, gak cuman pocong tadi malam ada hantu yang tidur di kamar ini, Shila takut bu hiks hiks hiks" tangis Shila mengadukan segalanya pada bu Salamah.
"Apa kamu bilang, ada pocong sama hantu yang ganggu kamu!" kaget bu Salamah.
Shila dengan deraian air mata mengangguk."Iya bu, tadi malam ada hantu di sini, ibu sih gak ada di rumah, Shila kan gak tau harus apa"
"Maafin ibu nak, tadi malam itu ibu bukannya gak mau ada di rumah, tapi ibu di ganggu sama Sekar, ibu sembunyi di masjid dan paginya ibu langsung pulang" bu Salamah menghapus air mata yang mengalir di wajah Shila.
"Tolong ibu usir si Sekar itu, dia udah ganggu Shila, Shila takut ketemu lagi sama dia" titah Shila.
"Iya, ibu pasti akan usir dia, sekarang ini pak RT lagi berusaha untuk usir Sekar, kamu doain aja semoga usaha pak RT di mudahkan" kepala Shila mengangguk cepat, ia berharap usaha yang di lakukan pak RT membuahkan hasil.
Bu Salamah menyentuh kening Shila yang panas."Shila kamu gak usah kerja aja hari ini, kamu istirahat aja hari ini, ibu yang akan telpon bos kamu"
Shila mengangguk, ia kembali merebahkan tubuh, ia memang butuh banget istirahat untuk memulihkan keadaannya.
__ADS_1