Kuntilanak

Kuntilanak
Kemarahan bu Jamilah


__ADS_3

"Tapi kenapa sekarang juragan mau mengakui anak ini, dulu juragan bilang kalau anak yang saya kandung adalah anak haram, juragan tidak lupa dengan semua ucapan juragan waktu itu!"


Juragan Doni diam, dia tau, dia ingat semuanya bagaimana dia menolak anak itu dan malah memfitnah Sekar yang bukan-bukan.


"Iya saya tau, saya ingat semuanya, tapi sekarang saya sadar, saya menginginkan anak itu, saya mohon berikan anak itu pada saya"


"Menginginkan anak ini? jangan harap, ini bukan anak juragan, ini adalah anak pak Anton, juragan tidak punya anak, jangan mimpi mau ngambil anak kami" tegas Sekar tidak main-main, ia geram pada orang yang ada di depannya.


"Sekar kamu jangan menghukum saya seperti ini, saya tau saya salah, saya ingin menebus semua kesalahan saya dengan cara merawat anak itu, saya mohon berikan anak itu pada saya"


"Tidak, saya tidak sudi memberikan anak ini pada juragan, ini adalah anak saya, jangan harap juragan bisa bertemu dengannya ketika dia lahir karena juragan tidak pantas di sebut ayah!"


Juragan Doni menarik pinggang Sekar untuk mendekat padanya, dia memeluk erat pinggang Sekar.


Sekar memberontak, dia tidak mau di perlakuan seperti itu sama juragan, namun tenaganya tidak sekuat juragan Doni, walaupun dia berusaha sekeras mungkin untuk terlepas dari juragan, tetap saja dia tidak bisa.


Juragan Doni membenamkan wajahnya pada perut Sekar yang besar, dia juga sesekali mencium perut Sekar.


Sekar merasa jijik, dia tidak mau di giniin sama juragan Doni.


"Kapan dia akan lahir?"


"Lepasin saya juragan, saya mau pulang, juragan jangan kurang ajar, saya sama juragan sudah gak punya hubungan apapun, jadi stop ganggu hidup saya!" marah besar Sekar pada mantan suaminya.


Juragan Doni masih diam tidak bergerak, dia terus memeluk erat pinggang Sekar sambil mencium anak yang ada di dalam kandungan Sekar.


"Jawab, kapan dia lahir!"


Dengan berat hati Sekar menghembuskan nafas, dia sebenarnya tidak ingin bilang apapun tentang anaknya pada juragan Doni, tapi jika dia masih tidak kunjung menjawab, juragan Doni tidak akan pernah berhenti memaksanya.


"Sebentar lagi, kurang beberapa hari lagi dia akan lahir"


Terbit senyuman di wajah juragan Doni, juragan Doni mengelus perut Sekar, ia terlihat tak sabar menantikan kelahiran anak itu.

__ADS_1


"Saya sudah tidak sabar menanti kelahirannya, saya akan merawat anak ini dengan penuh kasih sayang" dengan wajah yang penuh dengan senyuman juragan Doni mengelus lembut perut Sekar yang besar.


"APA!" seseorang kaget melihat adegan series yang terjadi di depan matanya sendiri.


Mereka berdua menatap ke arah siapa yang berteriak, sontak mereka langsung terkejut, juragan Doni melepas pelukannya, dia menjadi panas dingin ketika melihat orang itu.


"Anak? kalian akan punya anak!" tercekat bu Jamilah saat menangkap basah mereka berdua yang ternyata punya hubungan khusus di belakangnya semenjak dia pergi.


"Sayang aku bisa jelasin, ini semua gak kayak apa yang kamu lihat" juragan Doni berusaha menjelaskan semuanya agar bu Jamilah tidak salah paham.


"Gak usah di jelaskan lagi, semuanya sudah jelas!" bu Jamilah yang terluka ketika tau bahwa suaminya selingkuh tidak mau mendengar penjelasan juragan Doni sama sekali.


Bu Jamilah mengeluarkan tatapan tajamnya, tatapan tajam itu jatuh pada Sekar yang gugup, lidahnya terasa keluh, dia sulit untuk menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi di antara dia dan juragan Doni.


Hal yang paling Sekar takutkan selama ini terjadi, ia menjadi sangat takut saat ini.


"DASAR ******!"


Dengan sangat keras bu Jamilah menampar pipi Sekar hingga mengeluarkan darah di ujung bibirnya.


Sekar memegang pipinya yang panas, air mata langsung meluncur deras.


"Kenapa kamu ambil suami saya, apa kamu sudah tidak punya harga diri lagi sehingga mau melayani suami orang!" maki bu Jamilah yang tengah meluap-luap.


"S-saya tidak melakukan itu semua bu, ibu salah paham" Sekar berusaha menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.


"SALAH PAHAM KAMU BILANG, saya itu punya mata, saya bisa melihat apa yang telah terjadi sama kalian berdua, kamu kira saya sebodoh itu, tidak!" teriak bu Jamilah keras dan berhasil membuat Sekar tersentak kaget.


"Saya tidak bodoh, saya bisa melihat dengan jelas bagaimana kalian berdua selingkuh di depan saya" teriak bu Jamilah yang terbakar api ketika mengetahui suaminya selingkuh di belakangnya.


Juragan Doni tampak diam, apa yang dia takutkan terjadi, dia tidak pernah berpikir kalau bu Jamilah akan kembali dan memergokinya yang tengah berduaan dengan Sekar.


"T-tapi ini semua gak sama seperti apa yang ibu bayangkan, kita itu cuman...."

__ADS_1


"Cuman apa? cuman selingkuh di belakang saya sampai mau punya anak hah!" teriak bu Jamilah dengan terus melototkan matanya.


Sekar diam, dia tau dia salah, namun dia sulit untuk menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi di antara mereka.


"Sudah berapa lama kalian selingkuh hah, kenapa kamu mau selingkuh sama suami saya, sampai-sampai kamu rela mengandung anaknya, apa kamu tidak mikirin perasaan saya, pasti kamu tau kan kalau dia ini sudah punya istri, tapi mengapa kamu masih mau sama laki-laki yang sudah beristri" bu Jamilah sangat kecewa dengan Sekar.


Sekar menangis, di hakimi seperti itu membuat hatinya terasa sakit, seandainya ada cara lain mungkin waktu dia tidak memilih untuk menikah dengan juraga Doni.


"Sungguh kamu memang pantas di sebut pelakor, kamu sudah mengambil suami saya, saya gak akan biarkan kamu hidup, akan saya bunuh kamu, sini kamu!" bu Jamilah berusaha mencekik Sekar.


Juragan Doni langsung menghentikan bu Jamilah, dia sekuat tenaga menahan bu Jamilah yang akan mencelakai Sekar.


"Lepasin aku, aku akan bikin pelakor ini mati, jangan halangi aku, aku tidak akan biarkan dia hidup, dia wanita hina, dia tidak pantas hidup, dia hinaaaaa!" teriak bu Jamilah yang berusaha untuk melepas tangan juragan Doni yang menghalangi tindakannya.


"Sekar, pergilah, saya yang akan urus!" suruh juragan Doni dengan terus menghalangi bu Jamilah yang kemarahannya tengah meluap-luap.


Sekar dengan cepat keluar dari dalam kantor, dengan tertatih-tatih dia pulang ke rumahnya, hamil besar seperti itu membuatnya sulit untuk berjalan.


Sesekali Sekar berhenti, dia memegangi perutnya yang sakit, tubuhnya masih bergetar hebat


"Aduh, perut aku sakit banget" meringis Sekar memegangi perut besarnya yang tiba-tiba mules.


"Jangan lari kamu!" teriakan bu Jamilah terdengar di telinga Sekar.


"Kamu harus mati, tidak akan saya biarkan kamu hidup!"


"Jangan biarkan Sekar hidup, bunuh dia!"


"Dia harus mati!"


Teriak bu Jamilah dan juga warga-warga yang tengah berlari mengejar Sekar.


Sekar langsung panik, dia kembali berlari meskipun perutnya tengah sakit, Sekar berlari pulang ke rumahnya.

__ADS_1


__ADS_2