
Pak Anton hanya menatap kepergian mereka, dia beralih menatap ke arah Sekar yang terus menangis.
"Sekar kamu kenapa, siapa yang sudah bikin kamu nangis, bilang sama saya, biar saya yang kasih mereka pelajaran!"
Sekar masih diam, dia terus menangis, pak Anton menjadi panik karena Sekar yang ia lihat tegar kini menjadi gadis yang cengeng.
"Sekar beri tau sama saya siapa yang sudah bikin kamu nangis, apa tadi mereka semua yang sudah bikin kamu nangis?"
Sekar menganggukkan kepalanya."Mereka apain kamu, apa mereka buat kamu luka, mana yang luka"
"Enggak pak, mereka gak celakain saya, mereka cuman nuduh saya yang macem-macem, mereka bilang saya pelet bapak, saya sakit hati pak hiks hiks hiks" Sekar menjelaskan itu semua dengan air mata yang terus mengalir.
"Sudah kamu jangan nangis, mereka juga sudah pergi, sekarang kamu berhenti nangis, nanti kalau saya ketemu sama mereka, saya akan buat mereka bungkam biar mereka gak hina kamu lagi"
Sekar menghentikan tangisannya, dia menyeka air matanya.
"Udah kamu nangis lagi, ayo saya antar kamu pulang"
Sekar mengangguk, ia dan pak Anton berjalan pulang ke rumahnya yang sudah tidak seberapa jauh lagi.
Sepanjang perjalanan Sekar masih teringat dengan kata-kata menyakitkan itu, dia heran mengapa semua orang sebegitunya membencinya, padahal dia tidak pernah mengganggu mereka sama sekali, apalagi menghina mereka.
"Sekar juragan Doni sedang pergi keluar kota dalam waktu yang lama, kamu bisa bebas beberapa hari ke depan, kamu tidak akan di siksa oleh juragan Doni lagi"
Sekar langsung menghentikan langkahnya dan menatap ke arah pak Anton dengan gembira, berita yang pak Anton berikan padanya sungguh membuatnya sangat gembira.
"Yang bener pak juragan Doni pergi?" Sekar masih tidak percaya pada apa yang dia dengar.
"Iya, juragan Doni pergi, tadi pagi beliau pamit sama saya, saya di suruh jaga kamu selama beliau pergi"
"Sampai kapan juragan Doni perginya pak?" penasaran Sekar, dia berharap juragan Doni pergi yang lama agar dia bisa bebas tanpa harus di sakiti lagi oleh juragan Doni.
"Saya kurang tau, tapi beliau bilang kalau beliau akan pergi dalam waktu yang cukup lama, mungkin sekitar 1-2 bulan ke depan, kamu bisa bebas beberapa bulan itu selama tidak ada juragan Doni di sini"
__ADS_1
Sekar girang, berapa senangnya dia saat monster mengerikan itu pergi dari hidupnya meskipun tidak begitu lama juga.
"Yes yes yes, akhirnya dia pergi juga, aku harus capek-capek hindarin dia" girang Sekar, dia bisa menjadi Sekar seperti pada umumnya saat juragan Doni di kabarkan pergi dari desa ini.
Pak Anton merasa senang melihat Sekar yang gembira, pak Anton tau kalau Sekar pasti hidup tertekan dengan juragan Doni yang kejam.
"Pak saya boleh tinggal di rumah saya gak pak selama juragan Doni pergi?"
"Boleh, kamu boleh tinggal di rumah kamu, kalau kamu butuh apa-apa, kamu bilang sama saya saja, saya akan penuhi semua kebutuhan kamu"
"Tidak perlu pak, saya bisa penuhi kebutuhan saya sendiri, yang saya inginkan saat ini saya hanya ingin tinggal di rumah saya, saya tidak mau tinggal di rumah juragan Doni"
"Terserah kamu, kamu mulai hari boleh tinggal di rumah kamu sendiri, nanti kalau juragan Doni sudah pulang, saya akan kasih tau kamu"
"Baik pak, semoga saja juragan Doni perginya lama, kalau bisa jangan pulang-pulang lagi, saya ingin hidup bebas tanpa dia" doa Sekar.
Pak Anton mengaminkan doa yang barusan Sekar lantunkan dalam hati, dia senang melihat orang yang dia cintai tersenyum.
Sekar mengangguk, dia dan pak Anton terus berjalan menuju rumah Sekar, sepanjang perjalanan Sekar tersenyum senang karena tau kalau suaminya pergi ke luar kota.
Sekar tidak lagi sedih meskipun orang-orang kampung menyebutnya wanita hina, dia masih terus berusaha untuk tegar, sebenarnya kata-kata itu tidak terlalu sakit, namun Sekar terlalu banyak pikiran sehingga dia langsung nangis saat ada orang yang menghancurkan hatinya lagi.
"Assalamualaikum ibu" salam Sekar ketika sudah sampai di rumahnya.
"Ibu, bu ada pak Anton, ibu keluarlah" teriak Sekar namun tidak ada sahutan sama sekali.
"Kok gak yang nyaut ya" mulai tidak tenang Sekar saat tidak ada suara ibunya yang ia dengar.
"Palingan ibu kamu lagi tidur di dalam, mangkanya gak jawab" pikir pak Anton.
"Bapak tunggu di sini sebentar, Sekar mau masuk dulu ke dalam"
Pak Anton setuju, Sekar melangkah masuk ke rumah dan mendekati kamar ibunya yang begitu ia rindukan, ia ingin bilang semuanya pada ibunya terkait juragan Doni yang pergi dari desa ini.
__ADS_1
"Bu, ibu" Sekar mengetuk pintu kamar ibunya dengan senang.
"Bu ini Sekar, Sekar pulang bu, apa ibu lagi tidur?"
Tak ada balasan sama sekali, rumah ini seperti rumah kosong yang sudah tidak berpenghuni.
"Kemana ibu, kenapa gak jawab, apa benar ibu lagi tidur, tapi masa iya ibu tidur jam segini, biasanya ibu gak pernah tidur jam segini" mulai penasaran Sekar sekaligus merasa aneh.
"Coba deh aku masuk ke dalam"
Sekar masuk ke dalam kamar ibunya, dia melihat jika ibunya tertidur di tempat tidur.
Dengan pelan-pelan Sekar mendekati ibunya, dia berjalan dengan langkah yang pelan agar ibunya tidak bangun.
Sekar duduk di dekat ibunya yang tengah memejamkan mata, Sekar melihat bibir ibunya yang pucat dan kering, dia rasanya sakit yang ibunya derita semakin parah, dia ingin sekali membawa sang ibu ke rumah sakit besar, namun dia tidak punya uang sepeserpun.
"Bu, ibu sakit, ibu mau Sekar beliin obat apa?"
Tidak ada pergerakan, Mirna tetap memejamkan mata tanpa ada keinginan untuk membuka matanya sama sekali, meskipun saat ini di kamarnya ada Sekar.
"Bu, om di mana bu, apa om sudah pulang ke negara M lagi?"
Tidak ada sahutan, Mirna tidak bangun sama sekali meskipun Sekar terus berusaha untuk mengajaknya bicara.
Sekar mengerutkan alis, dia merasa ada yang aneh dari ibunya, tidak biasanya ibunya sulit untuk di bangunkan.
"Bu, ibu bangun, kenapa ibu gak bangun, ibu bilang apa yang sakit, Sekar akan beliin obat buat ibu"
Sekar menggoyangkan tubuh Mirna untuk membangunkannya, tiba-tiba tangan Mirna terjatuh ke kasur dengan lemas.
"Bu, ibu" Sekar menjadi panik, dia melihat ada yang tidak wajar dengan ibunya.
"Bu, bangun bu, ibu, ibu bangun!" Sekar terus berusaha membangunkan sang ibu, Mirna terus memejamkan mata, meskipun Sekar menggoyangkan tubuhnya dia tidak kunjung bangun.
__ADS_1