Kuntilanak

Kuntilanak
Aib yang terbongkar


__ADS_3

Keesokan harinya.


Pak Anton pagi-pagi sekali bangun karena akan berangkat ke luar kota, Sekar menyiapkan bekal untuk suaminya yang akan pergi, Sekar tidak mau suaminya makan makanan sembarangan, ia tidak ingin suaminya sakit mangkanya dia menjaga pola makan pak Anton selama ini.


"Mas ini nanti kamu makan ya, jangan lupa di habisi, kalau udah sampai di sana kabarin aku, biar aku gak cemas sama kamu" suruh Sekar.


Pak Anton hanya terus memeluk erat Sekar dari belakang, dia rasanya tidak mau meninggalkan istrinya walaupun cuman 1 hari.


"Kamu dengar kan apa yang aku bilang?"


"Denger, aku akan lakuin apa yang kamu suruh"


Sekar memasukkan bekal itu ke tas pak Anton, dia juga sudah menyiapkan segalanya untuk suaminya yang akan pergi kerja.


"Sana kamu berangkat, semuanya sudah aku siapin, nanti kalau kamu butuh apa-apa tinggal ambil saja di tas"


Pak Anton masih tidak bergerak, dia hanya terus mengeratkan pelukannya, tak ingin ia melepaskannya walaupun sejenak.


"Gak mau, aku gak mau pergi ke sana, aku mau di sini sama kamu" rengek pak Anton yang tak ingin jauh-jauh dari istrinya.


"Mas ini sudah mau siang, kamu berangkat sana, nanti juragan Doni marah kalau tau kamu masih belum berangkat, lagi pula perjalanan ke sana itu membutuhkan waktu yang cukup lama, kalau kamu masih belum berangkat kamu akan lama sampai di sana, itu semua akan menghambat pekerjaan kamu lalu juragan Doni minta kamu buat ada di sana 1 bulan gimana, kamu enggak mau kan?"


"Gak maulah, 1 hari rasanya sudah mau 1 abad, apalagi satu bulan!" tolak pak Anton cepat.


"Mangkanya sekarang kamu berangkat ke sana, habis itu pulang, jangan lama-lama perginya, aku takut di sini sendirian"


"Iya, ya udah aku berangkat dulu, kamu hati-hati di sini, kalau ada apa-apa sama kamu langsung hubungi aku, jangan diam, ingat itu" perintah pak Anton yang masih khawatir meninggalkan Sekar sendirian di rumah.


"Iya mas, aku pasti akan langsung hubungi kamu, sana kamu berangkat, kalau udah sampai di sana telpon aku, biar aku gak cemas"


Pak Anton mengangguk, sebelum berangkat dia menciumi wajah istrinya dengan bertubi-tubi, tak lupa pula pak mencium perut Sekar yang sudah membesar.


"Alica tunggu papa pulang ya, nanti kalau kamu sudah lahir, kamu mau minta apapun akan papa kasih" pak Anton sangat menyayangi anak yang sudah jelas-jelas bukan anak kandungnya sendiri.

__ADS_1


Sekar tersenyum bahagia, dia begitu beruntung menjadi istri pak Anton yang sangat menyayanginya melebihi apapun.


"Aku pergi dulu, aku akan kembali secepatnya, aku usahakan besok pagi-pagi aku sudah berada di sini lagi"


"Iya sana kamu pergi, hati-hati di jalan, kalau udah sampai di sana kabarin aku"


"Iya, aku akan kabarin kamu"


Sekar menyalami punggung tangan suaminya, pak Anton terasa berat meninggalkan Sekar namun demi pekerjaan mau tidak mau dia harus pergi meninggalkan istri tercintanya.


"Aku pergi dulu, assalamualaikum"


"Wa'alaikum salam"


Pak Anton melangkah keluar meninggalkan istrinya sendiri di dalam rumah ini.


Sekar menutup pintu setelah suaminya berangkat, Sekar membereskan rumah yang berantakan, walaupun dirinya tengah hamil besar Sekar tidak mau diam dan tidur saja, dia mulai membersihkan rumahnya, baru setelah itu dia istirahat.


...•••...


Sore harinya.


Jam kini menunjukkan pukul 4 sore, Sekar baru bangun dari tidurnya, ia membersihkan tubuh sebentar lalu mendekati ponselnya.


"Mas Anton udah nyampe gak ya, kenapa dia gak ngabarin aku" mulai risau Sekar karena tidak ada panggilan yang masuk.


"Coba aku telpon dia, dia pasti lupa nelpon aku"


Sekar hendak menghubungi pak Anton, namun tiba-tiba ada panggilan masuk yang menghentikan niatnya.


"Halo sayang aku sudah sampai di sana, aku baik-baik saja di sini, semuanya aman terkendali, kamu di sana baik-baik aja kan?"


"Iya, aku di sini baik-baik saja, aku baru aja mau hubungin kamu"

__ADS_1


"Maaf ya aku baru bisa hubungi kamu, soalnya tadi di jalan macet banget"


"Iya gak apa-apa, aku di sini baik-baik saja, kamu gak usah cemas mikirin aku"


"Aku tutup dulu, besok aku akan segera pulang ke rumah lagi, kamu tunggu aku di sana"


Sekar mengangguk, pak Anton mematikan sambungan telpon, ia harus bekerja mengurus proyek yang ada di sana, ia tidak bisa berkomunikasi dengan istrinya lebih lama lagi.


Sekar merasa lega saat sudah mendengar kabar dari pak Anton.


Entah kenapa Sekar tiba-tiba merindukan bapak dan ibunya yang sudah berpulang, semenjak dia menikah dengan pak Anton Sekar tidak pernah lagi keluaran rumah, kanan dan kiri rumah itu hutan, dia takut bertemu dengan binatang buas yang akan memangsanya.


Namun kali ini Sekar memberikan diri untuk keluar rumah, dia ingin berziarah ke makam bapak dan ibunya.


Dengan berjalan kaki Sekar keluar dari rumah, dia berjalan ke pemakaman umum, orang-orang yang Sekar jumpai di jalan menatap aneh ke arah Sekar, tidak biasanya mereka menatap Sekar seperti itu.


Sekar menjadi risih di tatap oleh mereka."Ada apa ya sama aku, kenapa mereka natap aku kayak gini, apa ada yang salah sama aku" batin Sekar yang merasa gak nyaman.


Walaupun di tatap dengan tatapan aneh Sekar masih terus berjalan menuju pemakaman umum, karena tujuannya keluar rumah hanya untuk berziarah ke makam kedua orang tuanya.


Setibanya di sana Sekar berdoa di makam kedua bapak dan ibunya yang sudah berpulang.


"Pak bu Sekar sebentar lagi akan lahiran, doakan Sekar semoga Sekar bisa lahiran dengan normal" harapan Sekar.


Sekar mengusap batu nisan itu dengan sedih, dia begitu merindukan keluarganya, dia hanya bisa berharap semoga mereka di tempatkan di tempat terbaik di sisinya.


"Bapak ibu sekarang kehidupan Sekar sudah tidak menderita lagi, Sekar sekarang sudah bahagia, kalian istirahatlah yang tenang di sana, di sini Sekar baik-baik saja, kalian gak usah merasa bersalah lagi, kalian istirahatlah yang tenang di sana"


Sekar mengadukan semuanya pada kedua orang tuanya, sudah lama dia ingin bercerita secara langsung pada bapak dan ibunya.


Di pemakaman umum hanya ada Sekar seorang, tidak ada orang lain lagi di sana, Sekar bisa bebas bercerita tanpa takut ada orang yang mendengarnya.


Setelah puas bercerita Sekar kembali berjalan menuju rumah pak Anton yang jaraknya sangat jauh dari desa ini.

__ADS_1


__ADS_2