
Sekar menangisi bapaknya, serasa hidupnya sekarang berubah menjadi sedikit gelap saat tidak ada bapaknya di hidupnya.
Tangisan masih terdengar jelas di sana, para warga laki-laki bergerak untuk memandikan jenazah Tono, setelah di mandikan di lanjut dengan di kafani, kemudian di sholatkan.
Sekitar jam 10 malam jenazah berangkat menuju kuburan, para wanita tidak ada yang ikut karena di larang oleh agama.
Sekar terus menangis, tak pernah terlintas di benaknya kalau ia akan mengalami kejadian yang seberat ini.
Orang-orang yang ada di rumah Sekar satu persatu mulai pulang ke rumah masing-masing karena hari sudah semakin malam.
Sekar yang baru saja kehilangan bapaknya masuk ke dalam kamarnya, ia duduk di pojokan dengan tatapan kosong.
"Kenapa semua ini harus terjadi, kenapa bapak harus pergi, aku tidak mungkin bisa bekerja di sana lagi, aku tidak mau ketemu lagi sama dia, namun kalau aku tidak bekerja di sana, aku tidak akan bisa makan, ibu sudah tidak bisa bekerja, dengan cara apa lagi aku mendapatkan uang"
Sekar terus memikirkan itu semua, ia menjadi bingung harus melakukan apa, alhasil ia hanya menangis di dalam kegelapan malam karena keadaannya yang semakin sulit saja.
Semalaman Sekar menangis di kamarnya, hingga matanya berubah menjadi sembab karena terus menerus menangis.
Ketika sinar matahari hari keluar, Sekar tidak berangkat untuk bekerja, dia masih ingin cuti dari pekerjaannya sampai 7 harian bapaknya yang baru saja meninggal dunia.
Orang-orang kampung khususnya perempuan datang ke rumah Sekar dengan memberi beras atau gula, mereka juga membantu memasak untuk acara tahlilan nanti malam.
Di tengah sibuknya mereka semua tiba-tiba ada mobil pick up berwarna hitam yang masuk ke dalam halaman rumah Sekar.
Mereka semua penasaran siapa yang datang ke rumah Sekar, pasalnya tidak ada kerabat jauh yang akan datang ke rumah Sekar.
Saat mobil pick up itu berhenti, tiba-tiba orang yang paling Sekar benci keluar dari dalam mobil itu.
"Pak tolong bantu turunkan" suruh juragan Doni pada bapak-bapak yang tengah berada di samping rumah Sekar.
Mereka semua mendekati juragan Doni, juragan Doni datang ke rumah Sekar karena memberikan sumbangan yakni bahan pokok agar meringankan beban keluarga Sekar yang baru terkena musibah.
Juragan Doni mendekati Sekar yang berada di dekat ibunya.
"Bu ini saya ada sedikit rezeki untuk ibu, mohon di terima" juragan Doni memberikan amplop yang berisikan uang pada Mirna.
__ADS_1
"Ya Allah juragan terima kasih sudah membantu meringankan beban kami, saya sangat bersyukur sekali masih ada orang baik yang membantu kami" Mirna yang tidak tau apa-apa hanya bisa bersyukur melihat kebaikan juragan Doni.
"Sama-sama bu, saya senang membantu ibu" juragan Doni melirik ke arah Sekar dengan tatapan penuh arti.
"Juragan Sekar tidak bisa bekerja beberapa hari ini, mungkin setelah 7 hari bapaknya, dia bisa kembali bekerja" Mirna meminta izin pada juragan Doni agar Sekar bisa cuti beberapa hari ini.
"Iya tidak apa-apa ibu, Sekar boleh saja cuti, nanti setelah 7 hariannya pak Tono selesai, Sekar boleh langsung masuk kerja"
"Terima kasih juragan sudah ngertiin keadaan kami"
"Sama-sama bu, maaf saya tidak bisa berlama-lama di sini, saya pamit pulang dulu, assalamualaikum"
"Wa'alaikum salam"
Juragan Doni pergi dari rumah Sekar, Sekar tak sama sekali menyunggingkan senyuman karena kebaikan juragan Doni, ia malah benci sekali padanya karena dia awal mula terbentuknya luka di hatinya.
"Apa maksudnya datang ke sini, apa lagi yang dia inginkan, tak puaskah dia menghancurkan hidup ku" batin Sekar yang sangat-sangat menyimpan benci pada juragan Doni.
Sekar tidak bisa berbuat banyak, ia memang marah dengan apa yang terjadi, namun ia tidak bisa memberontak karena pastinya dia juga yang akan kalah.
Hari-hari berlalu, tahlilan 7 hari di rumah Sekar sudah selesai, namun Sekar masih belum masuk kerja karena ia masih bingung harus bekerja di tempat di mana ia lecehkan atau mencari pekerjaan lain.
Hari sudah semakin larut, Sekar masuk ke dalam kamarnya untuk beristirahat.
Sekar membaringkan tubuhnya di kasur, ia memejamkan mata dan masuk ke dalam alam mimpi.
Baru beberapa menit ia memejamkan mata tiba-tiba Sekar merasakan tangan besar memeluk tubuhnya.
"Ya Allah" kaget Sekar saat di perlakukan seperti itu, ia seketika langsung terjaga dari tidurnya dan menatap siapa yang sudah berani memeluknya.
"Juragan Doni" kaget Sekar saat juragan Doni berada di sampingnya.
"Iya ini saya, kenapa kamu kaget saat melihat saya"
"Juragan kenapa ke sini, apa yang ingin juragan lakukan?" Sekar shock saat orang yang ingin ia hindari tiba-tiba tidur di sampingnya.
__ADS_1
"Apalagi kalau bukan menemui kamu" dengan polosnya juragan Doni mengatakan hal itu.
"Juragan pergi dari sini, jangan pernah juragan datang ke sini lagi" Sekar langsung mengusir juragan Doni, ia tidak mau ibunya tau kalau di dalam kamarnya ada juragan Doni.
"Tidak, saya tidak mau pergi, kamu jangan coba-coba usir saya dari sini karena itu semua percuma"
Sekar mengepal kuat tangannya, ia geram namun ia tak bisa berkutik.
"Kenapa kamu tidak masuk kerja, saya kan sudah bilang kalau tahlilan di rumah kamu selesai kamu langsung masuk kerja, apa kamu ingin berhenti kerja?"
Sekar diam, ia masih geram dan yang bisa ia lakukan hanya diam.
Tangan juragan Doni menyentuh sesuatu yang membuat Sekar panik.
"Juragan, jangan sentuh-sentuh saya lagi!" marah Sekar dengan melototkan matanya.
"Kamu jangan sok jual mahal, saya dengar kamu itu punya hutang sama bu Sinab karena untuk membiayai tahlilan bapak kamu bukan?"
"Juragan tau dari mana"
"Kamu tidak perlu tau saya tau dari mana, saya datang ke sini cuma ingin beri kamu solusi"
"Solusi apa?"
"Saya akan bayar semua hutang kamu, asalkan kamu mau menemani saya tidur" bisik juragan Doni di telinga Sekar dengan manja.
Sontak Sekar langsung melototkan matanya, benar-benar tak pernah ia bayangkan kalau si tua bangka itu akan berkata seperti itu di keadaannya yang lagi sulit seperti ini.
"Juragan jangan mimpi saya mau ngelakuin itu, saya masih punya harga diri, saya tidak mau ngelakuin itu!"
"Kalau kamu tidak mau apa kamu bisa lunasi semua hutang kamu dalam waktu singkat?"
Sekar diam, ia juga bingung harus apa untuk membayar hutang itu.
"Ingat berhutang di bu Sinab itu berbunga, semakin kamu menunggak untuk membayar, bunganya juga akan bertambah, nanti hutang kamu yang semula senilai 6 juta bisa naik menjadi 20 juta, apa kamu mau?"
__ADS_1
Sekar diam tidak bergeming, 6 juta saja sudah membuatnya pusing, apalagi sampai bertambah menjadi 20 juta.