
"Kenapa jalanan ini panjang sekali, kapan usainya ini" batin juragan Doni yang sudah tidak tahan berada di tempat yang menyeramkan seperti ini.
"Aku harus cepat-cepat keluar dari sini, aku rasa berlama-lama di sini akan membuat ku dalam masalah" batin juragan mempercepat langkah biar segera keluar dari jalanan suram.
Dengan terburu-buru kaki juragan Doni melangkah, namun entah mengapa ujung jalan ini tak kunjung di temukan, dalam keadaan dirinya yang di selimuti rasa takut ia ingin segera keluar dari situasi ini tapi terasa sangat sulit.
tap
tap
tap
Suara langkah kaki juragan Doni yang berjalan dengan langkah cepat, ia terlihat seperti di kejar setan, rasa merinding yang memenuhi dirinya semakin lama membuatnya semakin tercekik, ia sungguh tak tahan berada di situasi ini.
Langkah kaki juragan Doni terhenti, ia dengan takut mendongakkan kepalanya menghadap ke depan, lalu berganti ke kanan dan kirinya.
"Kenapa aku gak keluar-keluar tempat ini, biasanya jalanan ini tak sepanjang ini, tapi mengapa malam ini berbeda" juragan Doni merasa ada yang aneh dan itu sangat mencolok.
Wussshhhh
Angin sepoi-sepoi tiba-tiba datang menerpa tubuh juragan Doni dengan membawa semerbak bau kembang.
Seketika semua bulu kuduk juragan Doni berdiri, ia dengan waspada menatap ke kanan dan kirinya yang merupakan kuburan massal.
"Gak aman berada di sini lama-lama, aku harus cepat-cepat pergi dari sini, sebelum ada apa-apa yang terjadi sama aku"
Dengan secepat kilat kaki juragan Doni kembali melangkah, sesekali ia berlari-lari kecil agar bisa segera keluar dari tempat ini, ia sudah tak tahan berada di jalanan yang di kelilingi kuburan seperti itu, selain kuburan pohon-pohon bambu tumbuh liar dan suaranya terdengar begitu menakutkan.
Kaki juragan Doni merasa pegal, ia sudah berjalan sejak tadi tapi tak kunjung sampai tujuan juga.
"Kenapa sepertinya aku tidak bisa keluar dari sini, siapa yang sudah buat jalanan terasa lebih panjang, apa mungkin ini gara-gara Sekar, tapi masa iya Sekar dendam pada ku, aku kan tidak ikut bunuh dia"
"Dia pasti dendam sama istri ku saja, pada ku tidak" yakin juragan Doni.
Krak
Ranting pohon tiba-tiba jatuh, pandangan juragan Doni beralih menatap ke arahnya.
"Kok makin gak aman aja ya tempat ini" juragan Doni menyentuh tengkuknya yang terasa merinding.
__ADS_1
Bersamaan dengan itu hawa tak nyaman kembali di rasakan oleh juragan Doni,
mendadak tubuh juragan Doni menegang, seumur-umur baru kali ini ia merasakan merinding yang tiada tanding.
Juragan Doni celingukan menatap ke kanan dan kirinya, ia menelan ludah pahit karena tak ada satu orang hidup pun yang ia temukan, kebayangkan di sekitarnya merupakan orang-orang mati yang tengah beristirahat.
"Serem banget tempat ini, nyesel aku keluar dari kantor, kalau aku gak keluar mungkin aku gak akan berada di sini, gimana ini sekarang, apa yang harus aku perbuat, apakah aku akan kembali lagi ke kantor ataukah melanjutkan perjalanan" batin juragan di ambang kebingungan di tengah jalanan suram.
"Tapi ini udah terlanjur, sudah kurang setengah lagi aku akan sampai di rumah, lebih baik aku lanjutin perjalanan lagi, semoga aja gak ada yang akan terjadi sama aku" batin juragan Doni berharap besar.
"Hihihihihihihi"
Baru satu langkah kaki juragan Doni berjalan telinganya sudah mendengar suara cekikikan kuntilanak yang sangat dekat.
Sontak jantung juragan Doni berhenti berdetak, tubuhnya menegang, ia celingukan menatap ke kanan dan kirinya namun yang ia temukan hanyalah kegelapan malam menakutkan, ia tidak menemukan ada sosok menakutkan di dekatnya.
"Dari mana asal suara kunti itu berada" juragan Doni waspada, matanya mencari-cari keberadaan kuntilanak yang suaranya barusan terdengar di telinganya.
"Di sekitar sini gak ada apapun" satu pun hantu tak ada yang tampak di mata juragan Doni, namun ia masih belum menyerah, ia terus mencari dengan gigih asal suara kuntilanak tersebut, ia yakin bahwa di sekitar sini ada kuntilanak.
"Apa ini cuman perasaan aku saja, tapi gak mungkin, ini pasti bukan perasaan aku, apa yang barusan aku dengar itu nyata, gak mungkin aku salah dengar bukan" juragan Doni masih yakin dengan apa yang dia dengar.
"Hihihihihihihi"
"Ada suaranya tapi gak ada orangnya, ini aneh" di tengah jalan juragan Doni di hadang dengan keanehan, ia terus mencari-cari keberadaan kuntilanak yang membuatnya penasaran.
"Hihihihihihihi"
Suara kuntilanak itu semakin lama semakin bertambah nyaring dan sangat jelas.
Juragan Doni tak lagi mencari-cari keberadaan kuntilanak itu, di tengah jalanan yang gelap dan di kelilingi kuburan tubuhnya menegang, wajahnya langsung pucat pasi, kedua tangannya sedingin es batu, jantungnya memompa dengan cepat seperti habis lari maraton.
Juragan Doni mendongak melihat ke atas, matanya langsung melotot tajam kala menangkap sosok kuntilanak berambut panjang, matanya keluar dan wajahnya hancur, ia kini tengah duduk dengan tenang di ranting pohon sambil ketawa-ketiwi.
"Huaaaaaaaaa hantu" jerit juragan Doni berlari terbirit-birit, ia menyesal sekali mencari-cari keberadaan suara yang jelas-jelas milik kuntilanak, seandainya dia melarikan diri sejak tadi mungkin dia tidak akan menangkap seremnya wajah seorang kuntilanak.
Kuntilanak itu menatap juragan Doni yang berani terbirit-birit, ia terbang mengejarnya dari belakang sambil mengeluarkan suara khasnya.
"Hihihihihihihi"
__ADS_1
Juragan Doni menghadap ke belakang, betapa tegangnya ia saat tau kalau kuntilanak itu mengejarnya dari belakang.
"Gawat dia ngejar aku, aku harus keluar dari sini, aku harus segera sampai di rumah, aku harus bisa terlepas dari dia, aku harus melakukan itu" batin juragan Doni yang panik.
Dengan rasa panik yang menyerangnya juragan Doni berlari tanpa henti, ia berteriak-teriak karena di belakangnya ada kuntilanak seram yang mengejarnya, ia berharap warga kampung mendengar suaranya dan akan membantunya.
"Tolong ada hantu, tolong aku!" jerit juragan Doni terus berlari tanpa henti.
"Hihihihihihihi"
Kuntilanak seram itu terus mengejarnya dari belakang, ia tidak akan membiarkan targetnya lolos.
"Mau pergi kemana kau tua bangka, walaupun kau sembunyi ke dalam lubang semut sekalipun, aku akan tetap mencari mu!" teriak Sekar penuh ancaman.
Juragan Doni yang mendengarnya semakin ketakutan, yang bisa ia lakukan saat ini hanya berlari tanpa henti.
"Jangan kejar aku, berhentilah, tolong lepaskan aku" titah juragan Doni berteriak-teriak di jalanan suram namun tak ada satupun orang yang mendengarnya.
Sekar tertawa mengejek."Melepaskan mu? itu sangat tidak mungkin, aku tidak akan membiarkan lolos malam ini"
Mendengar kalimat ancaman yang keluar dari bibir Sekar juragan Doni semakin berlari dengan kencang, tubuhnya benar-benar di selimuti rasa takut.
Brukk
Tubuh juragan Doni menabrak pohon pisang yang tumbuh di tengah jalan, kepalanya terbentur ke aspalan dan membuat dirinya tak sadarkan diri.
Sekar berhenti mengejar juragan Doni, ia mendarat tepat di dekat tubuh juragan Doni yang sudah tak lagi bergerak.
"Siapa kau!" tatapan tajam Sekar jatuh pada pohon pisang misterius.
Pohon pisang itu berubah menjadi pocong yang seram, kulitnya berwarna hitam, kain kafan yang ia kenakan kotor, ia membalas Sekar dengan tatapan tajamnya.
"Aku penghuni jalanan ini, kenapa kau mengganggunya?"
"Dia sudah membunuh ku, aku ingin balas dendam, mangkanya aku buat dia seperti ini" jelas Sekar.
"Aku akan membantu mu" Sekar menyunggingkan senyum, sekali lagi ada makhluk halus yang mau membantunya dalam rangka balas dendam ini.
"Terima kasih" pocong itu hanya menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
"Pergilah, cari warga lain yang mau kau ganggu, aku juga akan bantu kamu" suruh pocong itu.
Sekar mengangguk kemudian menghilang dari sana, ia akan mencari warga lain lagi untuk ia ganggu.