
Baru beberapa langkah pak Anton berjalan menjauhi kuburan tiba-tiba.
"Tolong, tolong aku" teriakan itu kembali, namun suaranya terdengar lirih tapi masih bisa di dengar dengan jelas oleh telinga pak Anton.
Seketika langkah pak Anton terhenti, ia menatap ke belakang dan sekelilingnya.
"Suara itu kembali, tapi di mana dia, kenapa hanya ada suaranya tapi tidak ada wujudnya, apa jangan-jangan suara ini milik hantu, tapi mana ada hantu di siang bolong kayak gini" tak habis pikir pak Anton.
Pak Anton yang penasaran akan sosok yang telah berhasil membawanya kemari, ia ingin tau apakah itu manusia ataukah makhluk halus.
"Tolong aku, bantulah aku" titah orang itu yang terdengar sangat lemah.
"Ku rasa dia ada di sana, gak salah lagi dia memang berada di sana"
Pak Anton dengan terburu-buru berlari mendekati sebuah pohon beringin yang terletak di tengah-tengah kuburan.
Alangkah kagetnya pak Anton saat melihat atasannya yang terkulai lemas di balik pohon beringin dengan tubuh yang di lilit akar pohon.
"Anton, tolong saya Anton" titah bu Jamilah dengan mata yang hampir saja terpejam, ia sudah lelah berada di sana, tenaganya berkurang draktis, untuk melepaskan diri dari akar pohon yang melilit tubuhnya ia tidak mampu.
"Ibu, ibu kenapa bisa ada di sini, apa yang sudah terjadi sama ibu, kenapa ibu bisa begini" kaget pak Anton yang tak menyangka bahwa suara orang yang tadi berteriak-teriak itu adalah bu Jamilah.
__ADS_1
"Saya gak bisa jelaskan sekarang Anton, tolong lepaskan saya" titah bu Jamilah yang sudah tidak punya tenaga untuk melepaskan dirinya dari lilitan akar pohon itu.
Pak Anton dengan cepat melepaskan akar-akar pohon beringin yang melilit tubuh bu Jamilah dengan susah payah.
Setelah tubuh bu Jamilah terlepas dari akar pohon yang melilitnya, ia langsung terduduk di bawah dengan tubuh yang lemas.
"Anton, dia mengganggu saya, dia terus menerus mengganggu saya, dia keterlaluan Anton, dia sudah sangat keterlaluan" ujar bu Jamilah.
"Siapa dia bu, siapa yang ibu maksud?" pak Anton tak mengerti siapa yang bu Jamilah bicarakan saat ini.
"Sekar, dia yang sudah ganggu saya tadi malam, dia bawa saya kemari dan bikin saya kayak gini, dia benar-benar wanita hina, sudah mati saja dia masih mengganggu ketenangan orang!" hina bu Jamilah pelan-pelan mengantur nafasnya yang tersengal-sengal.
Pak Anton mengepal kuat tangannya saat ada orang yang menghina istrinya sekeji itu, apalagi yang menghinanya adalah orang yang paling pak Anton benci di dunia ini, walaupun dia merupakan atasannya dia sama sekali tidak akan pernah pak Anton maafkan, apa yang sudah bu Jamilah lakukan pada rumah tangganya sudah sangat keterlaluan.
Pak Anton berusaha menahan emosinya, dari dalam lubuk hati yang paling dalam pak Anton rasanya ingin sekali mencekik wanita yang terus menerus menghina istrinya.
"Untung saja dia sudah mati, kalau tidak dia pasti akan terus menggoda suami orang" geram bu Jamilah.
Walaupun Sekar telah mengibarkan bendera perang bu Jamilah masih tetap saja mencari gara-gara dengannya, saat di datangin Sekar baru dia meminta maaf dan mengemis-ngemis agar Sekar tidak berbuat jahat padanya, namun di lain sisi ia masih benci dan sangat tidak suka pada Sekar.
"Dasar biadab, kau tidak tau apapun tentang apa yang sebenarnya telah terjadi, tapi dengan seenaknya kau malah menghina istri ku dan menyebutnya yang bukan-bukan, kau tidak sadar diri kalau diri mu itu jauh lebih hina dari pada wanita manapun, andai aku punya bukti atas kejahatan mu mungkin akan aku buat kau menderita di dalam penjara dan kau bisa menyadari kesalahan mu" batin pak Anton yang rasanya tidak bisa mengendalikan dirinya saat bu Jamilah memulai peperangan ini tanpa ia sadari.
__ADS_1
Jika bu Jamilah terus menerus menghina-hina dan memaki-maki Sekar di depan pak Anton, pasti pak Anton tak akan bisa tinggal diam lagi, dia pasti akan melakukan suatu tindakan yang di luar dugaan semua orang.
"Bu ayo kita pergi dari sini, saya akan antar ibu pulang" ketus pak Anton yang kini berubah menjadi laki-laki dingin lantaran di hatinya sudah tidak ada warna yang menghiasi sebab orang yang telah membuat hatinya berbunga-bunga telah tewas mengenaskan.
Bu Jamilah bangkit dari duduk, ia berjalan mengikuti pak Anton yang akan membawanya keluar dari kuburan seram ini.
"Anton dia dari kemarin-kemarin telah membuat saya ketakutan, apa maksudnya coba, dia terus saja melakukan itu, dia kira dirinya siapa yang bisa menindas saya, andai dia masih hidup saya akan bikin dia meninggal lebih sadis lagi" bu Jamilah masih saja dendam, ia tidak menyadari kesalahan fatal yang sudah dia perbuat.
"Kalau ibu dendam sama dia, hadapi dia, jika ibu berhasil menang dari dia, saya yakin dia tidak akan mengganggu ibu lagi" ujar pak Anton yang tiba-tiba membuat mulut bu Jamilah bungkam.
Bagaimana itu bisa di lakukan, sementara bu Jamilah tak memiliki sedikit nyali untuk menghadapi Sekar yang di penuhi amarah dan dendam.
"Kenapa dia diam, apa mungkin dia takut menghadapinya secara langsung" batin pak Anton tertawa senang di dalam hatinya.
"Dia kira dirinya siapa, dia hanyalah manusia biasa yang pasti memiliki rasa takut, tidak mungkin dia tidak memiliki hal itu, sedari tadi dia terus berusaha menjelek-jelekan nama istri ku, kini dia tau rasa" batin pak Anton yang menertawakan bu Jamilah yang ciut.
"Saya bisa saja menghadapinya Anton, tapi saya enggan berurusan lagi sama dia, dengar namanya aja saya udah sakit hati apalagi ketemu langsung sama dia" sahut bu Jamilah yang tidak mau terlihat kalau dirinya takut pada Sekar.
"Oh ya, tidak mungkin anda bisa melakukan itu bu Jamilah yang terhormat, Sekar sekarang tidak sama dengan Sekar yang dulu, sekarang di hatinya penuh dendam, dan dendam terbesarnya adalah anda" batin pak Anton.
"Aku bersyukur Sekar bisa membuat semua orang bungkam, kali ini aku akan dukung dia, aku harap mereka menyadari kesalahan yang sudah mereka perbuat, dan mereka tidak akan mengulangi hal itu pada orang lain lagi" batin pak Anton yang kini telah setuju dengan tindakan istrinya yang sedang balas dendam pada warga sekitar.
__ADS_1
Mereka berdua terus berjalan keluar dari tempat itu, mereka tak ada yang mau berlama-lama berada di tempat yang seseram ini.