Kuntilanak

Kuntilanak
Dendam yang membara


__ADS_3

Mereka berdua terus berjalan, ketika sampai di rumah pak Anton masuk ke dalam rumahnya, dia langsung mendekati kamarnya dan kembali mengurung diri di sana, pak Anton menjadi orang yang tidak suka keramaian semenjak kepergian Sekar, dia ingin menghabiskan waktunya dengan mengurung diri di dalam rumah.


Sekar menatap wajah suaminya yang terus menerus bersedih, dia tidak tega melihatnya seperti itu, Sekar pergi dari sana, dia tidak kuat untuk berlama-lama melihat wajah sedih milik suaminya.


Hati Sekar terasa sakit melihat bagaimana kesedihan yang terpancar di wajah pak Anton.


Sekar kembali ke desa anggrek, dia bisa dengan mudah masuk ke dalam tempat-tempat yang sebelumnya tidak pernah dia kunjungi, itu semua terjadi setelah dia berubah menjadi hantu.


Sekar langsung mendatangi ladang juragan Doni, di sana ada banyak orang yang bekerja seperti biasa, tidak ada libur sama sekali meskipun ada kejadian yang baru-baru ini menggegerkan warga.


"Gak nyangka ternyata si Sekar itu wanita gak bener" ibu-ibu mulai bergosib tentang Sekar, mereka tidak akan berhenti begitu saja membicarakan prihal Sekar.


"Iya, sampai hamil pula" sahut bu Hamiddeh yang ikut menjelek-jelekkan nama baik Sekar.


Mereka semua tidak ada yang tau cerita aslinya, mereka hanya mendengar sepatah dua patah cerita.


"Siapa ya yang hamili Sekar, apa mungkin juragan Doni?" tebak bu Naima yang hanya curiga pada juragan Doni.


"Kayaknya memang juragan doni yang sudah buat Sekar hamil, kalau bukan juragan Doni, bu Jamilah gak akan semarah itu sampai bunuh Sekar" sahut bu Maimun yang sangat yakin kalau juragan Doni biang kerok dari ini semua.


"Kok mau ya Sekar sama juragan Doni, juragan Doni kan lebih tua di banding dia, lagi pula juragan Doni juga sudah punya istri, kenapa Sekar masih mau ngambil juragan Doni" heran bu Nining yang tidak habis pikir sama Sekar.


"Iya, dia sudah kegatelan mungkin, mangkanya mau aja walaupun orang itu sudah punya istri" sahut bu Hamiddeh yang ikut benci pada Sekar.


"Untung aja si Sekar itu sudah mati, kalau tidak suami-suami kita akan ikut di embat sama dia" bersyukur bu Naima dengan kematian Sekar.

__ADS_1


Mereka terus membicarakan Sekar, Sekar yang mendengarnya mengepal kuat tangannya, dendam tersematkan di hatinya, dia sangat geram pada mereka yang terus membicarakannya yang bukan-bukan.


"Awas aja kalian, hari ini kalian boleh saja ngomongin aku semua kalian, tapi lihat aja nanti, aku akan buat kalian nyesel!" geram Sekar yang tidak akan tinggal diam lagi, sudah cukup dia diam, kini waktunya dia yang membalas mereka semua dan buat mereka semua bungkam.


Sekar berjalan di pematang, dia masuk ke dalam kantor dengan menembus tembok, di dalam kantor terjadi pertikaian antara juragan Doni dengan bu Jamilah yang masih belum usai.


"Mas kenapa kamu khianatin aku, aku salah apa, kenapa kamu malah selingkuh sama wanita sialan gak tau diri itu, kurang apa aku di mata kamu, kenapa kamu masih tega lakuin ini sama aku!" marah besar bu Jamilah, kemarahannya masih belum reda, dia terus mengomel sejak kemarin malam, hatinya masih terluka ketika teringat kejadian kemarin.


Juragan Doni tampak diam, dia tidak mengeluarkan sepatah katapun, dia malas meladeni bu Jamilah karena dia tau bu Jamilah tidak akan diam, bu Jamilah pasti akan terus menerus mengomel tak jelas.


"Jawab, kenapa kamu diam saja, aku ini bertanya sama kamu, kenapa kamu malah ngacangin aku!" teriak bu Jamilah yang tidak suka di gituin.


Tidak ada perubahan, juragan Doni masih tetap diam di tempat, ia tidak meladeni sama sekali bu Jamilah uang terus menerus mengomel.


"Mas kenapa kamu diam saja, jawab, apa jangan-jangan kamu selingkuh sama ****** itu sudah lama!" teriak bu Jamilah yang kesal dan geram sama juragan Doni.


Craaaaangggg!


Suara itu membuat keduanya sontak kaget, mereka berdua menatap tak percaya ke arah lemari yang tiba-tiba pecah padahal tidak ada orang yang mecahinnya.


"K-kok kaca lemari itu bisa pecah" terbata-bata bu Jamilah, dia yakin lemari itu tidak mungkin pecah dengan sendirinya, tapi buktinya ia tidak melihat satupun orang yang sudah berani mecahin kaca lemari itu.


"Itu karena kamu banyak omong, lihat lemari aja jenuh dengarin kamu yang terus teriak-teriak!" jawab juragan Doni dengan ketus.


Bu Jamilah menatap tajam ke arah juragan Doni."Aku kayak gini itu karena kamu, kalau kamu gak lakuin ini, aku gak akan marah dan teriak-teriak kayak gini!"

__ADS_1


"Aku tau kamu marah, aku tau kamu benci sama Sekar, tapi jangan bunuh dia juga, dia itu lagi hamil, anaknya akan segera lahir, tapi kenapa kamu malah bunuh dia, kamu gak mikirin perjuangannya yang hamil selama 9 bulan dan kurang beberapa hari lagi akan segera lahiran!" tak habis pikir juragan Doni dengan bu Jamilah yang bisa berbuat kejam seperti itu.


"Bodo, aku gak peduli sama dia, lagian dia hamil anak kamu, mana mau aku lihat dia lahirin anak kamu, biarkan saja dia mati, sudah sepatutnya dia mati, suruh siapa dia mau aja selingkuh sama kamu!" teriak bu Jamilah melampiaskan kekesalannya.


"Ma dia itu-


"Cukup, aku gak mau lagi dengar tentang dia, kamu jangan bahas dia lagi!" pertegas bu Jamilah yang geram dengan Sekar, dia benci pada Sekar setelah tau kalau Sekar mengambil suaminya.


Juragan Doni menghela nafas kasar, bagaimana dia bisa menjelaskan kalau pak Anton dan Sekar sudah menikah, sementara dia dan Sekar sudah tidak punya hubungan apapun, juragan Doni begitu sulit menjelaskan itu semua pada bu Jamilah yang terus mengomel tidak jelas.


"Mana Anton, kenapa dia gak keliatan sejak kemarin?" bu Jamilah mencari keberadaan pak Anton setelah tersadar kalau pak Anton tidak ada di sekitar sini.


"Dia ada di luar kota, dia lagi ngurus bisnis di sana!"


Bu Jamilah duduk di kursi kebesarannya dengan wajah yang kesal, ia sebenarnya ingin terus mengomel agar hatinya lega, tapi percuma dia melakukan itu semua, semuanya benar-benar tidak berguna.


"Awas kalau sampai kamu selingkuh lagi di belakang aku, aku gak akan segan-segan bunuh kamu!" ancam bu Jamilah yang tak main-main.


Juragan Doni diam, walaupun dia jahat, kejam dan tega tetapi dia tetap takut pada istrinya.


Sekar yang mendengar ucapan mereka hanya bisa mengepal kuat tangannya, di matanya berkobar dendam yang membara.


"Sudah buat aku dan bayi ku meninggal, kau malah tidak merasa bersalah sama sekali, lihat aja apa yang akan aku lakukan pada mu, aku jamin kau tidak akan bisa hidup tenang, aku akan teror kamu sampai kapanpun itu!" geram Sekar yang memiliki dendam pribadi pada bu Jamilah.


Sekar melirik ke arah juragan Doni yang diam di tempat, dia terlihat biasa saja setelah Sekar meninggal dunia.

__ADS_1


"Jika bukan karena mu, aku tidak akan begini, lihat saja nanti, aku akan buat kau dan kau menderita" Sekar menatap bergantian ke arah juragan Doni dan bu Jamilah, dua orang yang sudah berhasil menghancurkannya.


__ADS_2