
Bu Jamilah menutup pintu kamarnya rapat-rapat, dia merasa lega setelah berhasil keluar dari dalam kamar dengan selamat.
"Huft aman, hantu itu gak masuk ke dalam kamar aku, syukurlah dia benar-benar sudah pergi, aku hampir serangan jantung gara-gara dia" lega bu Jamilah yang berhasil lolos dari hantu seram.
"Ibu ngapain di sini?" art mendekati bu Jamilah yang berdiri di samping pintu dengan memegangi dada.
Ekspresi wajah bu Jamilah langsung berubah menjadi galak.
"Gak ngapa-ngapain, sana kamu pergi, jangan ganggu saya!" usir bu Jamilah dengan tegas.
Art itu langsung pergi, ia semakin curiga pada bu Jamilah namun ia tidak banyak bertanya, ia tau seperti apa bu Jamilah kalau sedang marah.
"Ganggu aja art itu, aku gak mau dia sampai tau kalau aku masih takut sama hantu Sekar, mau di tarok di mana muka aku, aku gak akan punya nyali ketemu sama orang-orang kalau mereka tau aku takut sama Sekar"
"Aku harus terlihat baik-baik saja, gak boleh ada yang tau kalau aku sebenarnya takut sama Sekar" bu Jamilah gengsi untuk terus terang.
Bu Jamilah melihat sekelilingnya yang kosong, tidak ada art, satpam dan lain-lain yang berada di sana.
"Aku kemana ya enaknya?"
"Di sini aku masih takut, aku takut Sekar tiba-tiba datang dan ganggu aku lagi, lebih baik aku ke ladang aja, aku lihat perkembangan ladang di sana"
__ADS_1
Bu Jamilah berjalan keluar dari rumahnya, ia berniat akan berangkat ke ladang untuk melihat kondisi ladang selama ia tinggali, sekalian menghindar dari hantu, ia masih khawatir berada di dalam rumah ini.
Ketika sampai di ladang bu Jamilah mendengar gosib-gosib tentang hantu Sekar yang lagi gentayangan di desa ini, bu Jamilah menyimak cerita mereka yang tak sengaja dia dengar.
"Owh jadi beneran Sekar gentayangan, bahaya ini, aku dalam bahaya, dia pasti akan datangin aku lagi, aku harus apa ini, aku gak mau dia terus gangguin aku, aku harus kasih tau mas Doni, dia pasti punya caranya untuk bisa usir Sekar" batin bu Jamilah yang tegang.
Bu Jamilah berlari masuk ke dalam kantor, ia tidak mengetuk pintu terlebih dahulu dan malah menerobos masuk ke dalam.
"Mas, mas, mas gawat, ini benar-benar gawat" panik bu Jamilah yang membuat juragan Doni ikutan panik.
"Ada apa ma, kenapa mama panik!" penasaran juragan Doni yang ikutan heboh dengan tingkah bu Jamilah.
"Papa tau gak, mama barusan dengar kalau Sekar gentayangan, ada warga yang dia ganggu tadi malam" jelas bu Jamilah dengan wajah yang panik dan tegang.
Bu Jamilah ternganga, ternyata bukan dia saja yang di datangin sama Sekar, suaminya juga di datangin.
"Yang bener pa, papa gak lagi bohong kan!" gak percaya bu Jamilah dengan penuturan juragan Doni.
"Ma, papa gak bohong, buat apa papa boong, papa bilang yang sebenarnya, tadi malam itu memang ada Sekar yang datang kemari, dia gangguin papa habis-habisan!" juragan Doni berusaha menyakinkan istrinya untuk percaya dengan ucapannya.
"Papa tau gak, tadi malam mama juga di datangin sana Sekar, dia gangguin mama sampai buat mama pingsan, gimana ini pa, mama takut, mama takut Sekar datangin mama lagi" resah bu Jamilah yang tidak bisa diam, sebelum-sebelumnya dia masih tak percaya Sekar gentayangan, tapi setelah mendengar berita terbaru, dia langsung percaya.
__ADS_1
"Suruh siapa mama bikin dia meninggal, sekarang arwahnya gak terima, dia pasti mau balas dendam, papa jamin nanti malam pasti Sekar akan datangin mama lagi, dia akan bikin mama menderita karena mama sudah bunuh dia dengan cara yang sesadis itu!" juragan Doni bukannya menenangkan bu Jamilah malah menakut-nakuti bu Jamilah.
"Papa kenapa ngomong gitu, mama ini takut, kenapa papa malah bikin mama tambah takut!" teriak bu Jamilah histeris yang tak mau di ganggu oleh Sekar.
"Kan bener ma, apa yang papa bilang itu semuanya fakta, mama yang sudah bunuh dia, mama harus tanggung resikonya sendiri, kalau Sekar gangguin mama wajar-wajar aja, kan mama biang keroknya!"
"Iya mama tau kalau mama yang sudah bikin Sekar meninggal, tapi itu terjadi juga karena kesalahannya, kalau dia gak deketin papa, mama gak bakal bunuh dia" bu Jamilah tidak ingin di salahkan, dia akan menggunakan cara apapun agar tidak di sebut sebagai orang yang bersalah dalam kematian Sekar.
"Terserah mama, mama mau bela diri silahkan, yang jelas di sini yang salah tetaplah mama, karena mama adalah orang yang sudah siksa Sekar sampai Sekar meninggal dunia, dia pasti akan ganggu mama!" juragan Doni menekan ucapannya yang membuat bu Jamilah bergidik ngeri.
"Terus ini gimana pa, mama takut, mama gak mau di datangin sama Sekar lagi, papa cari cara buat usir dia, bikin dia pergi dari sini, mama akan bayar mahal kalau papa bisa usir Sekar dari sini!" gelisah bu Jamilah, hidupnya bukannya tambah tenang malah tambah sengsara setelah Sekar meninggal dunia.
"Gak bisa ma, Sekar itu bukan hewan yang bisa di usir dengan mudah, dia itu hantu, papa gak bisa usir dia, walaupun mama bayar papa dengan harga mahal, percuma karena papa gak akan bisa buat dia pergi dari desa ini!"
"Terus gimana caranya bikin Sekar pergi dari sini kalau bukan dengan cara usir dia?"
"Entahlah, papa juga gak tau, kita diamkan saja dia dulu, percuma kita bertindak karena semuanya akan percuma, dia itu hantu gak mungkin kita bisa usir dia, kita biarkan saja dia, nanti lama-lama dia akan pergi juga" enteng juragan Doni.
"Diamkan gimana? pa kalau kita diamkan dia gitu aja dia akan terus ganggu kita, mama maunya dia itu pergi dari sini, mama gak mau dia ganggu mama lagi, papa harus usir dia, mama gak mau tau pokoknya" rengek bu Jamilah yang tak mau di datangin Sekar lagi.
"Papa kamu usir dia dengan cara apa ma, papa gak punya cara apapun, Sekar itu lagi dendam sama kita, percuma kita usir dia, dia gak akan pergi, dia malah akan datangin kita terus menerus!"
__ADS_1
Bu Jamilah semakin gelisah, penyesalan kita ia alami, ia benar-benar menyesal membunuh Sekar, jika dia tau kalau ini semua akan terjadi, dia tidak akan membunuh Sekar.