
Bu Jamilah melirik ke arah Mala yang terlihat tertekan dengan keadaan seperti ini, Mala memang tidak mengatakan secara langsung, namun ia bisa mendengarnya dengan baik.
"Mala cepat kamu bikinin saya kopi, saya mau kopi sekarang juga" suruh bu Jamilah yang tak mau merasakan kantuk, ia takut untuk tidur malam ini.
"B-baik bu" dengan ketakutan Mala menuruti perintah bu Jamilah, ia bangkit dari duduk dan berjalan menuju dapur untuk melaksanakan perintah dari bu Jamilah.
Bu Jamilah mengembuskan nafas, saat tidak ada Mala, ia tiba-tiba merasa merinding tanpa sebab, ia menoleh ke kanan dan kiri untuk berjaga-jaga.
Alasan utamanya berdiam diri di ruang tamu hanya karena tak mau di ganggu sama Sekar, ia berpikir bahwa Sekar tidak akan mengganggunya di sana.
Wussshhhh
Hembusan angin kencang tiba-tiba datang dan masuk ke dalam rumah ini, bu Jamilah merasakan kencangnya angin yang berhasil membuat semua bulu kuduknya berdiri.
Bu Jamilah menelan ludah pahit, tubuhnya bergetar karena takut, perasaannya mulai tidak nyaman.
"Kok aku jadi merinding gini ya, ini kan cuman angin yang lewat, kenapa bisa bikin bulu kuduk aku berdiri semua" heran bu Jamilah dengan terus berjaga-jaga khawatir ada makhluk halus yang berada di sekitarnya.
Bu Jamilah merasa tertekan dengan keadaan seperti ini, ia tidak tahan berada di tempat yang membuatnya merinding tanpa sebab begini.
"Mala, Mala cepetan, saya udah mulai ngantuk nih" teriak bu Jamilah, ia tidak bisa berdiam diri di ruang tamu ini sendiri, harus ada orang lain yang berada di dekatnya.
Tak ada sahutan sama sekali yang terdengar di telinga bu Jamilah, bu Jamilah semakin resah, ia khawatir ada hal buruk yang terjadi menimpanya.
"Mala, kamu kemana, cepat bawa kopinya kemari, apa kamu tidak bisa dengar suara saya" tutur bu Jamilah yang mulai kesal karena Mala tak kunjung datang.
Walaupun bu Jamilah marah-marah tak jelas, ia tetap tak mendapatkan sahutan sama sekali dari diri Mala, ia semakin tidak tenang, walaupun ia marah-marah di sana hal itu tidak akan bisa menyelesaikan masalah yang ia hadapi saat ini.
__ADS_1
"Pergi kemana bocah itu, kenapa dia malah gak nyahuti ku sama sekali, dia ini memang harus di kasih pelajaran, udah gak becus kerjaannya, liat aja nanti aku akan potong gaji dia bulan ini biar dia tau rasa" bu Jamilah yang geram akan melakukan itu biar Mala semakin rajin dan tidak akan macem-macem lagi padanya.
Bu Jamilah masih kesal, namun ia enggan untuk bergerak dari tempat duduknya, ia sangat tak mau untuk berpindah dan mendatangi dapur yang terdapat Mala di sana.
Bu Jamilah melirik jam dengan tatapan mautnya, jarum jam terus berputar, sampai pada akhirnya 10 menit berlalu namun Mala tidak kunjung datang membawa pesanan bu Jamilah.
"Kemana bocah itu, kenapa sudah selama ini dia belum balik-balik juga, apakah bikin kopi akan menghabiskan waktu selama ini!" geram bu Jamilah yang merasa bahwa ini sudah tidak benar.
Kepergian Mala sudah cukup lama namun sampai detik ini dia belum kembali juga.
Bu Jamilah mengepal kuat tangannya, amarah langsung masuk dan menyelimuti tubuhnya.
"MALAAAAAaaaa" jerit bu Jamilah dengan sangat keras agar Mala yang berada di dapur segera mendatanginya.
"I-iya bu" Mala yang datang membawa nampan terkejut dengan teriakan bu Jamilah yang benar-benar akan menghancurkan gendang telinganya.
"Kamu dari mana aja sih, kenapa lama banget bikin kopinya, kamu ngapain aja di sana!" hardik bu Jamilah keras yang kesal sekali pada Mala.
"M-maaf bu, maaf saya lama bikin kopinya karena tadi gasnya habis, terpaksa saya harus ganti dulu" jelas Mala dengan tubuh yang bergetar karena takut.
"Alasan! kamu pasti malas-malasan, mangkanya gak kunjung selesai!" hardik bu Jamilah yang membantah keras alasan Mala.
Mala diam, ia tidak bisa membantah sama sekali, melihat bu Jamilah yang berubah menjadi nenek lampir seperti ini membuatnya begitu ketakutan.
"Cepat tarok kopinya di sini dan pergi dari sini, saya muak liat muka kamu, muka kamu itu sama kayak muka Sekar yang murahan dan gak punya harga diri itu!" caci maki bu Jamilah.
Segala kekesalannya ia lampiaskan semuanya pada Mala yang tidak tau apa-apa.
__ADS_1
Mala dengan ketakutan meletakkan kopi itu di atas meja, kemudian meninggalkan bu Jamilah di sana sendirian, sungguh berada di dekat bu Jamilah seperti ini ia rasanya tak sanggup.
"Benar-benar tidak berguna dia, sama seperti Sekar yang sangat-sangat tidak berguna itu, untung saja dia sudah mati, kalau tidak, dunia ku akan hancur gara-gara keberadaan dia dan juga anaknya yang sama-sama hina itu!" naik pitam bu Jamilah.
Amarah masih menyelimuti tubuh bu Jamilah, ia benar-benar kesal malam ini di buat asisten rumah tangganya sendiri.
Bu Jamilah yang kesal mengambil kopi bikinan Mala.
"Puiiih!"
Bu Jamilah menyemburkan kopi yang baru saja di seruput.
"Kopi macam apa ini, kenapa asin sekali, apa dia memang sudah buta sehingga tidak bisa membedakan mana gula mana garam!" murka bu Jamilah dengan hasil kopi yang benar-benar jauh dari ekspektasinya.
Kooi buatan Mala jauh dari ekpektasi bu Jamilah, kopi yang ia harapkan manis dan akan membuat mata kembali binar malah kacau abis.
"Benar-benar tidak berguna dia, bikin kopi saja dia tidak becus, liat aja besok, apa yang akan aku lakukan padanya, aku yakin dia pasti menyesal karena telah mempermainkan ku!" ujar bu Jamilah yang akan memberi hukuman pada Mala.
Bu Jamilah menaruh kopi asin itu kembali ke tempatnya, ia sudah tidak selera lagi untuk meminum kopi itu walaupun matanya mulai terasa kantuk, namun tak apa ia yakin kalau dirinya bisa menahannya.
"Apa dia sengaja ya bikin kopi asin kayak gini, aku yakin dia gak mungkin sebodoh itu sehingga gak bisa bedain mana gula mana garam, aku rasa dia memang sengaja, apa maksudnya coba melakukan ini semua, kurang ajar dia memang, dia harus ku kasih pelajaran biar dia tau rasa"
Bu Jamilah geram, di larut malam seperti ini ia terus mengomel gara-gara pekerjaan Mala yang tidak becus sama sekali.
"Bikin kopi aja dia gak bisa, apalagi yang dia bisa, dia benar-benar bedabah sama seperti Sekar, Sekar benar-benar gak berguna, udah mati aja dia masih saja ganggu warga-warga dan malah bikin hidup aku gak tenang, seharusnya dia pergi aja yang jauh dan gak balik-balik lagi gitu"
Bu Jamilah tiba-tiba mengomel tak jelas, ia mengeluarkan semua unek-uneknya.
__ADS_1
"Udah gak punya harga diri masih aja gak punya malu, udah rebut suami aku eh sekarang malah gangguin aku, apa maksudnya coba, dia gak punya otak apa gimana sih"
Bu Jamilah yang kesal melampiaskan segalanya pada Sekar, hatinya masih teras sakit saat mengetahui bahwa suaminya telah berselingkuh dengan Sekar sampai hampir saja punya anak namun ia bisa menghentikan hal itu, tapi sialnya dia harus hidup dalam ketakutan semenjak Sekar meninggal dunia.