
Hari sudah mulai menggelap, Sekar bangun dari pingsannya, dia menatap sekeliling yang hanya ada pak Anton seorang, orang-orang desa yang tadi membantu menguburkan jenazah Mirna sudah pulang ke rumah masing-masing, nanti sehabis sholat magrib mereka akan kembali ke sini lagi untuk acara mengirim doa/ tahlilan.
"Pak Anton" Sekar langsung memanggil pak Anton dengan air mata yang akan terjatuh.
Pak Anton mendekati Sekar, dia sejak tadi menemani Sekar yang tidak kunjung bangun dengan khawatir.
"Saya ada di sini, apa yang kamu perlukan?"
"Pak di mana ibu, ibu saya di mana, kenapa dia tidak ada di sini"
Pak Anton langsung menunduk, dia tidak tau bagaimana harus menjelaskan semuanya pada Sekar.
"Pak, jawab, jawab pertanyaan saya pak, di mana ibu saya!"
"Sekar ibu kamu sudah meninggal" pak Anton menjelaskan hal itu dengan nada yang selembut mungkin.
Sekar langsung mengeraskan tangisannya, dia masih berharap ibunya masih berada di dunia ini bersamanya saat dia terbangun dari pingsan, dia menganggap kematian ibunya hanyalah mimpi semata.
Pak Anton membawa Sekar ke dalam pelukannya, dia hanya bisa menenangkan Sekar yang terpukul karena kedua orang tuanya pergi tanpa pernah ia bayangkan sebelumnya.
Sekar menangis dengan memeluk erat tubuh pak Anton, dia butuh sosok yang bisa menjaga dan melindunginya, dunia ini terlalu keras, tidak mungkin seorang wanita lemah sepertinya bisa tegar dalam menghadapi kerasnya dunia.
"Pak Anton bapak dan ibu Sekar pergi, Sekar harus kemana pak, tidak ada mereka berdua di dekat Sekar saat ini, apa yang akan Sekar lakukan pak, Sekar tidak punya semangat untuk hidup hiks hiks hiks"
"Sstt kamu jangan bilang gitu, masih ada saya di sini, saya akan selalu jaga kamu, tidak akan saya biarkan kamu terluka, walaupun saat ini sudah tidak ada orang tua mu, tapi saya janji saya akan jaga kamu, kamu jangan patah semangat!"
__ADS_1
Sekar menggelengkan kepalanya, mana mungkin dia bisa tetap tegar di saat kedua orang tuanya meninggalkan dia, dia tidak bisa hidup dengan balutan luka, apa lagi luka yang paling terdahsyatnya kembali, dia pasti akan hidup menderita dengannya, rasanya dia tidak kuat walaupun hanya membayangkannya saja.
"Pak saya ingin ibu saya kembali, saya tidak ingin dia pergi pak, saya masih belum jadi anak yang baik, saya masih belum bahagain mereka, tapi mengapa mereka keburu pergi, saya masih belum menjadi apa yang mereka inginkan hiks hiks hiks"
"Sekar kamu itu anak baik, mereka sudah sangat beruntung punya anak seperti kamu, Sekar sepedih-pedih apapun luka yang saat ini kamu rasakan, ingat masih ada saya di sini, saya tidak akan tinggal diam, saya akan terus jaga kamu, kamu tidak perlu takut hidup sendiri di dunia ini"
Sekar memeluk erat laki-laki baik yang peduli padanya tanpa memandang harta, tahta dan lain-lain.
Seandainya suaminya seperti ini, mungkin dia akan bahagia bersamanya, suami yang Sekar idam-idamkan hancur saat tau kalau suaminya bagikan monster mengerikan yang tidak pernah sekalipun dia bayangkan sebelumnya.
Pak Anton terus menenangkan Sekar yang menangis, dia terus berusaha memberi Sekar semangat, kehilangan kedua orang tua adalah hal yang paling menyakitkan, dia pernah merasakannya, dia tau bagaimana rasanya menjadi Sekar saat ini.
Pak Anton membiarkan Sekar yang tengah terpuruk menangis dalam pelukannya.
Sekar terus menangis, dia merasa sangat kehilangan sang ibu, saat ini hidup Sekar benar-benar di selimuti kesedihan, dia kehilangan dua orang yang paling berharga di dalam hidupnya, Sekar tidak tau lagi akan kuat menjalani takdir hidupnya yang buruk atau tidak.
...•••...
Hari-hari berlalu, kini tahlilan 7 hari itu sudah selesai di lakukan, Sekar masih terus bersedih, dia masih tidak rela kehilangan dua orang tuanya dalam waktu yang berdekatan.
"Sekar" panggil pak Anton yang mendekati Sekar, Sekar saat ini berada di teras rumah duduk termenung memikirkan semuanya.
Pak Anton duduk di samping Sekar yang layu, sejak kepergian ibunya Sekar menjadi anak yang lebih pendiam, matanya selalu sembab karena terus menangis.
"Ini saya bawakan makanan untuk kamu" pak Anton memberikan pager bag itu pada Sekar.
__ADS_1
"Enggak pak, saya gak lapar"
"Sekar saya tau kamu kehilangan kedua orang tua mu, asal kamu tau saya juga sudah tidak punya oramg tua, orang tua saya meninggal karena kecelakaan tepat di hari di mana saya lulus SMA"
Sekar menatap tak percaya ke arah pak Anton."Jadi orang tua bapak sudah gak ada?"
"Yap benar, orang tua saya sudah gak ada, saya waktu itu umur 18 tahun, saya harus melewati kerasnya dunia sendiri di umur saya yang masih belasan, saya waktu itu hanya yakin kalau di balik kesedihan pasti ada kebahagiaan yang akan menantinya"
Sekar terdiam, dia kira dia adalah orang yang paling terluka di sini, namun kehidupan pak Anton juga gak kalah buruk dari hidupnya.
"Kamu harus bersyukur bisa berkumpul sama kedua orang tua kamu, saya dari kecil jauh dari kedua orang tua saya, mereka ada di luar kota, saya ada di desa bersama kakek dan nenek saya, mereka jarang pulang, kadang dalam 1 tahun mereka gak pulang sama sekali, saya ingin marah namun saya tau kalau mereka melakukan itu semua demi masa depan saya, saya gak bisa egois minta mereka untuk tetap berada di dekat saya, saya kini menerima kelau mereka pergi dari hidup saya, meskipun dulu saya berpikir kalau saya tidak akan bisa menjalani kehidupan saya, tapi buktinya sampai detik ini saya bisa melewati semuanya sendiri"
Sekar semakin diam, dia berpikir apakah dia bisa seperti pak Anton atau tidak.
"Saya yakin kamu juga bisa tegar, jadikan apa yang saat ini terjadi sama kamu sebagai sebuah ujian, kamu jangan pernah berpikir kalau kamu hidup sendiri semenjak kepergian kedua orang tua mu, ingat di sini masih ada saya, saya akan terus jaga kamu"
"Terima kasih pak sudah sangat peduli sama saya"
"Sama-sama, kamu boleh bersedih tapi jangan sampai patah semangat"
Sekar mengangguk, dia akan berusaha untuk lebih tegar lagi.
"Ayo sekarang kamu makan"
Sekar memakan makanan yang sudah pak Anton berikan padanya.
__ADS_1