Kuntilanak

Kuntilanak
Penghinaan


__ADS_3

Sekar bersiap-siap untuk berangkat setelah makan, di harus tetap bekerja meskipun saat ini dia sudah menjadi istri seorang juragan Doni pemilik perkebunan terbesar di desa ini.


Sekar berangkat ke ladang seperti biasa, di sana ia bekerja layaknya seorang pegawai pada umumnya.


Pak Anton mengamati seluruh pekerja yang tengah bekerja di ladang, terutama Sekar, matanya terus lekat pada Sekar yang tengah bekerja.


Sekar tidak sadar kalau sedari tadi pak Anton terus memperhatikannya.


"Anton" panggilan itu mengagetkan pak Anton yang tengah menatap ke arah Sekar.


"Ada apa juragan?"


"Aku akan pergi ke luar kota, kamu jaga perkebunan, aku akan pergi dalam waktu yang cukup lama, aku titip istri ku pada mu, aku mohon jagalah dia selama aku pergi"


"Baik juragan, saya akan jaga istri anda, saya akan jaga dia sebaik mungkin sampai juragan kembali ke sini lagi"


"Terima kasih, saya akan berangkat hari ini, kamu jangan biarkan rahasia ini terbongkar, kamu tau kan saya tidak ingin istri pertama saya marah karena tau kalau saya menikah lagi!" peringatan keras juragan Doni.


"Baik juragan, rahsaia itu aman bersama saya, saya tidak akan biarkan satu orang pun tau kalau juragan sudah menikahi Sekar"


"Bagus, saya pamit dulu, kamu jaga dia baik-baik, apa yang dia perlukan penuhi!"


Pak Anton mengangguk cepat."Saya akan melakukan apa yang juragan perintahkan"


"Saya pergi dulu, Anan ayo kita berangkat" ajak juragan Doni pada Anan, supir kepercayaannya yang selama ingin mengantar jemput dia kemana-mana.


Pak Anan mengangguk, dia mengikuti juragan Doni dari belakang.


Wajah pak Anton yang awalnya sedih bagaikan bunga layu langsung semangat saat tau kalau juragan Doni akan pergi dari desa ini dalam waktu yang cukup lama, untuk pertama kalinya dia senang saat juragan Doni pergi dari sini, dia bisa melihat Sekar tenang karena tidak akan ada orang yang menyakitinya lagi.


Pak Anton menatap ke arah punggung juragan Doni yang pelan-pelan keluar dari perkebunan, wajahnya di penuhi senyuman karena iblis itu pergi, dia bisa melindungi Sekar tanpa takut ada juragan Doni yang akan menyakitinya.

__ADS_1


"Yes, juragan Doni pergi, dengan ini gak akan ada yang sakiti Sekar lagi, aku gak terima dia terus menerus buat Sekar menderita, aku akan bisa lihat Sekar hidup tenang beberapa waktu ke depan meskipun pada akhirnya juragan Doni akan kembali, tapi setidaknya Sekar bisa hidup tenang untuk sementara"


Wajah pak Anton benar-benar senang, dia dengan bebas berada di perkebunan ini saat kedua bosnya pergi, dia tidak perlu risau lagi.


Pak Anton dengan wajahnya yang berseri-seri mendekati Sekar yang tengah memanen buah-buahan yang sudah siap untuk di panen di ladang yang luas.


"Sekar kamu lebih baik istirahat saja, kamu sudah kerja sejak tadi jangan sampai kamu sakit" perintah pak Anton yang tidak mau Sekar jatuh sakit.


"Enggak pak, saya gak akan sakit, saya baik-baik saja, bapak tidak perlu khawatir, bapak lebih baik tunggu saya di sana, jangan di sini, di sini panas"


"Tidak apa-apa, saya akan tunggu kamu di sini, saya tidak peduli walaupun di sini panas"


Sekar tidak apa-apa kalau pak Anton berada di dekatnya, namun pandangan orang-orang terhadap kedekatan mereka yang membuat Sekar menjadi kurang nyaman.


"Pak semua orang natap kita, kita jadi perhatian publik, saya mohon bapak pergilah dari sini, saya tidak mau ada fitnah-fitnah keji yang mereka lemparkan pada saya" pelan Sekar.


Pak Anton menatap sekeliling dan benar saja banyak orang meerbisik-biskk karena membicarakan dia dan Sekar.


"Baik pak"


Pak Anton meninggalkan Sekar dari sana, Sekar terus melanjutkan berkerja, dia tidak peduli mereka semua membicarakannya meskipun dirinya sesekali merasa kurang nyaman, namun tetap ia paksa untuk profesional dan tak menganggap penting mereka.


Setelah selesai bekerja Sekar pulang ke rumahnya, dia tidak pulang ke rumah juragan Doni karena dia ingin tinggal di rumahnya sendiri, dia sedikit menghindar dari juragan Doni, dia tidak mau kejadian sadis tadi malam terjadi kembali.


Sekar terus berjalan pulang ke rumahnya, dia ingin menemui om dan juga ibunya yang berada di rumahnya.


"Sekar" panggil bu hamiddeh yang membuat langkah Sekar terhenti.


"Iya ada apa hu?"


"Apa benar kamu dekat sama pak Anton, ilmu pelet apa yang sudah kamu gunakan sehingga pak Anton yang ganteng itu mau dekat-dekat sama cewek miskin kayak kamu!" hina bu hamiddeh dengan kejamnya.

__ADS_1


Jleb!


Terluka rasanya hati Sekar saat ibu-ibu itu tanpa pikir panjang mengatakan itu semua, dia tidak pernah berpikir kalau bait-bait kata yang dia lontarkan dapat melukai hati seseorang.


"Astaghfirullah bu, saya tidak memelet siapapun, ibu jangan asal ngomong!"


"Halah gak usah sok suci, secara logika mana ada yang mau dekat-dekat sama kamu kalau kamu gak pake pelet, udah jujur aja sama kami, kamu berguru di dukun mana, kenapa kamu bisa dapatin pak Anton, pak Anton itu satu-satunya orang yang paling sulit di gosa sama cewek, kenapa kamu yang dekil, kumuh dan miskin ini bisa dekatin dia, padahal anak-anak kami yang jauh lebih baik tidak bisa sementara kamu yang buluk bisa!" kata-kata jahat itu keluar dari mulut bu Nilem.


Hati Sekar rasanya sakit saat mereka dengan mudahnya menghinanya, dia hanya bisa diam di saat orang-orang benci padanya.


"Ibu saya tidak pernah sedikitpun melet pak Anton, saya dan dia tidak ada hubungan apa-apa, ibu jangan terus menerus hina saya!"


"Bagaimana kami tidak menghina kamu, kamu itu sudah hina, kamu jangan jadi orang yang lebih hina lagi dengan cara memelet pak Anton" hina bu Hamiddeh.


"Tau, dia kira dia secantik apa sampai pak Anton yang ganteng itu mau sama dia, gak punya kaca apa di rumahnya!"


Ibu-ibu itu terus menghina Sekar, Sekar menangis karena terus menerus di hina oleh mereka semua.


"Ada apa ini!" suara itu membuat mereka semua bungkam.


"Sekar, kenapa kau nangis?" khawatir pak Anton saya melihat Sekar menangis.


Sekar tidak menjawab, dia terus menangis, hatinya sakit di hina-hina seperti itu.


Pak Anton menatap ke arah mereka semua.


"Apa yang sudah kalian lakukan sama Sekar!" dengan nada serius pak Anton bertanya pada mereka.


"Gak ada pak, Sekar nangis sendiri, ayo ibu-ibu kita pulang, tinggalkan Sekar yang lebai itu" ajak bu hamiddeh.


Teman-temannya setuju, mereka semua membubarkan diri dari sana, mereka lari dari tanggung jawab setelah membuat Sekar menangis.

__ADS_1


__ADS_2