
Pak Anton sedikit merasa tenang karena Sekar mau makan, sebelum-sebelumnya Sekar tidak berselera sama sekali meskipun dia berusaha untuk membujuk Sekar untuk makan.
Setelah selesai makan Sekar mengucap syukur karena hari ini dia bisa makan walaupun tidak selahap dulu.
"Pak juragan Doni masih belum pulang?"
"Masih, juragan Doni masih belum pulang, kamu kenapa nanyain dia?"
"Enggak ada, saya cuman ingin nanya saja, saya harap dia lama perginya biar saya bisa sedikit bebas"
"Semoga saja seperti itu, Sekar tadi juragan Doni telpon saya, dia minta kamu tinggal di rumahnya, jangan di sini"
"Tapi pak saya ingin tinggal di rumah ini, saya tidak mau tinggal di sana, itu bukan rumah saya, saya tidak betah tinggal di sana"
"Saya ngerti cuman saya gak bisa berbuat banyak, kamu mau tidak mau harus nurut, di sana ada saya kok, saya akan jaga kamu, tidak akan saja biarkan kamu terluka"
"Baiklah kalau seperti itu saya mau tinggal di sana, sebentar saya akan ngambil baju-baju dulu"
"Iya sana, saya tunggu di sini"
Sekar masuk ke dalam kamarnya, dia mengambil beberapa baju-bajunya, dia tidak mengambil banyak karena nanti dia pasti akan pulang ke rumahnya, dia tinggal di rumah juragan Doni hanya untuk sementara saja.
Sehabis berkemas-kemas, Sekar mendekati pak Anton yang duduk di teras rumah Sekar menunggunya.
"Sudah selesai?"
"Sudah pak"
"Ayo kita ke rumah juragan Doni, kamu mulai sekarang tinggal di sana saja"
Sekar mengangguk, dia dan pak Anton berangkat ke rumah juragan Doni dengan berjalan kaki, jarak rumah juragan Doni dengan rumah Sekar tidak terlalu jauh.
__ADS_1
Sekar dan pak Anton lewat di depan rumah bu Salamah, ratu gosib di desa ini yang selalu memfitnah orang dengan keji.
"Eh ibu-ibu lihat itu" bu Salamah langsung heboh saat melihat Sekar dan pak Anton yang berjalan berduaan dan tengah melintas di depan rumahnya.
"Wah gak bener itu bu, si Sekar ternyata wanita gak bener, buktinya dia malah ngincer pak Anton yang ganteng itu" tak terima bu Toya.
"Kok mau pak Anton sama Sekar, dia kan gak cantik-cantik amat, kenapa seorang pak Anton yang gantengnya selangit itu mau sama Sekar yang kere dan kumuh itu" heran bu Nilem.
"Pasti Sekar guna-guna pak Anton, kalau gak di guna-guna mana mau pak Anton sama Sekar yang kumuh dan menjijikan itu" mengarang cerita bu Salamah.
"Wah gak bener itu, Sekar gunain cara yang hina demi mendapatkan pak Anton, ini tidak bisa di biarin, kita gak boleh biarkan pak Anton jatuh ke dalam pelukan Sekar" tak terima bu Nilem.
"Iya, kita gak boleh biarkan itu terjadi, kita harus gunakan cara agar pak Anton terlepas dari guna-gunanya Sekar" sahut bu Toya.
"Begini saja, besok kita datangin Sekar ke ladang, kita buat dia malu di sana, biar semua orang tau kalau Sekar sudah pakai cara licik demi dapatin pak Anton" usul bu Salamah.
"Iya, kami setuju, besok kita gunakan cara itu saja untuk buat kebohongan Sekar terbongkar" setuju bu Toya.
Bu Salamah mengeluarkan senyuman sinisnya.
Sekar dan pak Anton terus berjalan menuju rumah juragan Doni, mereka tidak ada yang sadar kalau ibu-ibu tukang gosib itu tengah merencanakan sesuatu yang buruk pada Sekar.
Kala sampai di rumah juragan Doni Sekar langsung masuk ke dalam kamar yang sebelumnya Sekar tempati.
"Kamu istirahatlah, juragan Doni tidak ada di sini, kamu bisa bebas tanpa dia"
"Iya pak"
"Saya tinggal dulu, kalau kamu butuh apa-apa panggil saya saja, saya ada di depan"
"Baik pak"
__ADS_1
Pak Anton meninggalkan Sekar di kamar itu, Sekar merebahkan tubuhnya di kasur yang empuk, berbeda sekali dengan kasur di rumahnya yang keras.
Tak butuh waktu yang lama bagi Sekar untuk masuk ke dalam mimpi, Sekar hari ini bisa sedikit mereka tenang karena gegasi masih pergi dari hidupnya.
Di luar pak Anton duduk di teras dengan mengecek pengeluaran ladang selama bulan ini.
"Pak Anton juragan Doni kemana" seorang bapak-bapak yang sudah mulai renta berteriak di depan gerbang.
Pandangan pak Anton tertuju pada bapak-bapak yang sudah tua itu, ia bangkit dari duduk dan mendekatinya.
"Ada di luar kota pak, ada apa emangnya pak, kenapa bapak nyariin juragan Doni?"
"Pak Anton saya sudah bekerja selama 9 bulan, tapi tidak sekalipun juragan Doni bayar saya, saat saya minta gaji saya, dia malah mecat saya pak"
Pak Anton langsung terkejut mendengar penuturan bapak-bapak itu.
"Gak di bayar pak!" kaget pak Anton.
"Iya pak Anton, saya gak di bayar"
"Masuk dulu pak, kita bicarakan di dalam"
Pak Anton mempersilahkan bapak-bapak itu untuk masuk ke dalam, mereka bicara di teras rumah.
"Bapak kerja di mana dan sebagai apa, kenapa saya baru dengar kalau bapak gak di gaji sama juragan Doni?"
"Saya kerja di proyek juragan Doni yang ada di luar kota pak, saya sudah kerja selama 9 bulan di sana, tapi sampai saat ini saya gak pernah di gaji sepeserpun, saat saya minta gaji saya juragan Doni malah marah, dia malah mecat saya pak"
Pak Anton prihatin dengan nasib bapak-bapak itu, dia tidak tau kalau juragan Doni setega itu sama karyawan karena proyek yang di kerjakan ada di luar kota.
"Kapan bapak di pecat sama juragan Doni?"
__ADS_1
"3 hari yang lalu pak Anton, saat juragan Doni datang ke proyek dia malah marah-marah saat saya minta upah padanya, dia malah pecat saya pak, tolong pak bayar gaji saya, gak apa-apa gak sampai 9 bulan, bulan ini saja tidak apa-apa pak, saya sekarang lagi butuh uang untuk anak saya yang ada di rumah sakit, saya bingung harus cari pinjaman di mana lagi, saya tepaksa datang kemari dengan harapan gaji saya di bayar" mohon bapak-bapak tua itu yang sudah bekerja keras selama ini namun tak dapat upah sama sekali.
Pak Anton sangat prihatin, tak pernah dia duga kalau juragan Doni setega itu pada karyawan, andai proyek itu dekat, dia pasti akan mendatanginya setiap hari.