
Bu Salamah menatap ke arah darah yang tertinggal di lantai kembali.
Jantung bu Salamah langsung meloncat keluar ketika darah yang tadinya tertinggal di lantai berubah menjadi tanah kuburan dan bunga-bunga kuburan yang harum semerbak.
"A-apa ini" tercekat bu Salamah dengan terbata-bata ketika semuanya berubah dalam sekejap.
"I-ini tidak wajar, makin ke sini makin gak wajar, gak aman berada di sini lagi" mulai ketakutan bu Salamah ketika mendapati teror seperti itu.
Belum sempat bu Salamah melangkahkan kakinya, tiba-tiba suara telpon terdengar di telinganya.
Bu Salamah menatap ke arah hpnya yang tergeletak di bawah, bukannya mengambil hp dan mengangkat panggilan itu dia malah berlari keluar dari rumahnya yang berubah menjadi angker.
Ketika berhasil keluar dari dalam rumah bu Salamah menarik nafas lega, rasanya dia seperti baru keluar dari dalam penjara selama ribuan tahun lamanya.
"Aman, sekarang aku sudah aman" lega bu Salamah dengan memegangi dadanya yang naik turun.
Bu Salamah menatap ke arah rumahnya, ia menjadi takut untuk masuk ke dalam rumahnya setelah menjumpai darah, tanah kuburan dan juga bunga kuburan yang begitu menyeramkan di matanya.
"Aku gak mau masuk ke dalam lagi, aku gak mau cari mati berada di dalam rumah sendirian, aku harus kemana ini, gak mungkin aku ada di sini terus menerus" ketakutan bu Salamah dengan menatap sekeliling tempat yang gelap.
"Aku ke rumahnya bu Toya saja, rumahnya juga dekat dari sini, aku lebih baik ke sana saja, aku ngungsi aja di sana malam ini" ide bu Salamah.
Bu Salamah berjalan menjauhi rumahnya, karena takut di ganggu dan teror-teror aneh lagi bu Salamah memutuskan untuk tidak menempati rumahnya, ia membiarkan rumah itu kosong malam ini.
Bu Salamah berjalan di jalanan desa yang sepi, satupun orang tidak sama sekali bu Salamah jumpai, bu Salamah merasa aneh kenapa tidak ada satupun warga yang keluaran rumah.
"Kenapa gak ada orang di jalan, kenapa suasana desa sepi dan hening kayak gini, apa jangan-jangan semua orang takut sama hantu Sekar, matilah aku, aku terlalu nantangin dia tadi siang, sekarang aku kena masalah besar" menyesal bu Salamah karena terlalu menyepelekan masalah.
__ADS_1
Bu Salamah melihat sekeliling yang hanya ada kegelapan, tidak ada satupun manusia yang tertangkap di matanya.
"Aku harus cepat-cepat pergi dari sini, lama-lama berada di sini makin gak aman aja, aku gak mau kena masalah lagi"
Bu Salamah dengan terburu-buru pergi dari sana, bu Salamah ingin segera sampai di rumah bu Toya yang masih lumayan jauh dari sana, tapi dari pada rumah bu Nilem lebih dekat rumah bu Toya.
Sepanjang perjalanan tidak ada satupun orang yang bu Salamah temukan, bu Salamah semakin ketakutan berada di jalanan sendirian.
Hembusan angin sepoi-sepoi menerpa tubuh bu Salamah, bukannya tenang bu Salamah semakin tercekat, ia sekilas mencium bau bunga yang harum.
Bu Salamah dengan cepat menahan nafas, dia tidak mau mencium bau kembang yang membangkitkan bulu-bulu kuduknya.
"Matilah, kenapa aku harus merasakan ini semua, makin ke sini semuanya makin gak wajar aja, aku harus segera cepat-cepat pergi dari sini" batin bu Salamah yang ketakutan di jalanan sendirian.
"Tolong siapapun kamu jangan ganggu aku, aku gak akan ganggu kamu" mohon bu Salamah meskipun ia tidak melihat ada orang di dekatnya.
Dengan secepat kilat bu Salamah berlari mendatangi rumah bu Toya, dia ingin segera sampai di rumah bu Toya yang masih jauh.
Bu Salamah menguasai jalanan, ia tidak takut ke tabrak motor maupun mobil karena memang tidak ada satupun manusia yang melintas di sana, sungguh di sana hanya dia seorang manusia satu-satunya yang berada di tengah jalan.
Bu Salamah terus berlari, dia tidak mempedulikan apapun, ia tidak melihat ke kanan dan kirinya karena takut melihat penampakan.
Tiba-tiba langkah bu Salamah terhenti, dia tercekat, rasa gelisah dan cemas menyelimuti tubuhnya.
"Gimana ini, aku balik aja ke rumah apa terusin jalan" bingung bu Salamah karena saat ini ia hampir melewati jalanan yang suram dan di kenal angker, di kanan dan kiri jalanan itu adalah kuburan massal.
"Kalau aku kembali ke rumah, aku akan terus di teror yang bukan-bukan, tapi kalau aku nerusin jalan, aku takut ketemu sama hantu"
__ADS_1
"Apa yang harus aku lakukan, masa iya aku diam aja di sini, gak mungkin aku terus menerus berada di sini" gelisah bu Salamah yang tidak bisa mengambil keputusan karena dua-duanya sama-sama keputusan paling berat.
Bu Salamah menatap ke belakangnya yang sepi."Apa aku kembali saja ke rumah, tapi nanti aku akan sendirian, bapak sama Shila masih belum pulang, aku tidak mau mati kutu karena tinggal sendirian di sana"
"Tapiii...." bu Salamah menatap ke arah jalanan sepi dan gelap serta banyak pohon-pohon di kanan dan kirinya.
"Aku takut lewat jalanan itu, kalau aku ketemu sama hantu gimana, siapa yang bakal nolongin aku, walaupun aku teriak gak akan ada orang yang bakal dengar"
Bu Salamah diam dengan rasa gelisah, rasa takut menyelimuti tubuhnya, berada di jalanan sendirian tanpa ada satu manusia pun yang dia lihat adalah salah satu momen paling seram sepanjang sejarah yang pernah bu Salamah alami.
Wajah bu Salamah terpancar rasa takut, dia masih belum bisa mengambil keputusan yang tepat karena dua-duanya sama-sama berat dan sulit untuk dia lakukan, alhasil bu Salamah berdiri di tempat tanpa pergerakan.
Vroom
Vroom
Vroom
Tiba-tiba bu Salamah mendengar suara kendaraan yang mendekat, dia langsung tersenyum senang, setelah sekian lama akhirnya ada warga yang keluar rumah.
Bu Salamah berbalik badan menatap ke belakang yang ada seorang wanita melajukan motor mendekatinya, bu Salamah tidak bisa melihat siapa pengendara itu karena silaunya lampu motornya.
"Stoooop!" teriak bu Salamah menghentikan pengendera yang akan segera melintasi jalanan kuburan yang seram.
Sontak pengendara itu langsung menghentikan laju motornya tepat di hadapan bu Salamah.
"Shila, kamu mau kemana, kenapa kamu dari sana!" kaget bu Salamah yang ternyata anaknya pengendera motor itu yang berhasil membuat dunianya kembali hidup.
__ADS_1