Kuntilanak

Kuntilanak
Kembali ke desa


__ADS_3

Bu Toya yang sudah lama meninggalkan kampung halamannya kini kembali ke kampungnya, ia pulang karena di antar oleh adik almarhum suaminya yang bernama Suto.


Semenjak kematian suaminya bu Toya merasa ada yang hilang, namun ia berusaha untuk tegar, ia memang begitu sangat kehilangan sosok suaminya, tetapi ia tidak harus terus terusan bersedih, ada anak yang harus ia besarkan, ia yakin bahwa dirinya bisa membesarkan anaknya meski tanpa dukungan seorang suami.


Mobil yang di kendari oleh Suto melaju dengan kecepatan normal, sebenarnya mereka sudah berangkat dari jam 7 pagi, namun lantaran di jalan mereka di hadang macet, akhirnya mereka tiba di desa ini dalam keadaan larut malam.


Di mobil hanya ada mereka bertiga, yakni bu Toya, Suto dan Salsa, di antara mereka bertiga yang masih membuka mata hanyalah Suto dan juga bu Toya, Salsa sejak tadi tertidur di dalam mobil, bu Toya membiarkan putrinya tidur di sana karena dia pasti kelelahan.


"Mbk kok di sini sepi banget, apa karena ini udah larut malam sehingga suasana desa jadi sepi kayak gini" Suto tak melihat satupun orang yang di temukan di sepanjang perjalanan, ia heran mengapa tak ada satupun orang yang berkeliaran, jika di desanya selarut apapun pasti ada satu atau dua warga yang keluaran rumah, namun di desa ini ia tidak menemukan satupun orang.


"Bukan, desa ini jadi sepi kayak gini bukan karena emang larut malam, tapi di sini itu lagi ada hantu yang gentayangan, dia yang udah bikin desa jadi sepi, mangkanya gak ada satupun warga yang mau keluaran rumah, mereka semua takut pada hantu itu, dia sering ganggu warga-warga sampai bikin warga ketakutan setiap malam, semenjak saat itu warga-warga gak ada yang berani keluaran rumah, mereka takut untuk beraktivitas di luar" jelas bu Toya.


Suto pasti tidak akan tau apa yang terjadi di desa ini, berita Sekar yang gentayangan tak tersebar sampai ke kota, hanya desa-desa yang dekat dengan desa ini saja yang dengar.


"Hantu itu memang benar-benar serem, dia udah mengubah desa jadi kayak gini, dia sering neror-neror warga-warga, mbk juga pernah di ganggu sama dia, tapi untung dia gak sempat celakain mbk" tambah bu Toya yang menceritakan tentang keadaan desa dengan sangat antusias.

__ADS_1


Walaupun dirinya sudah lama pergi dari desa ini, namun ia masih ingat betul dengan gangguan yang sudah Sekar layangkan padanya, ia tidak akan pernah melupakan gangguan yang benar-benar menakutkan itu.


"Owh gitu mbk, pantesan aja gak ada orang yang keluaran rumah, aku kira mereka gak ada yang keluar rumah karena udah larut malam, rupa-rupanya ada hantu yang lagi meresahkan masyarakat" Suto kaget dengan penjelasan bu Toya, jika ia menjadi warga sekitar ia pasti akan takut karena yang berhadapan dengannya hantu bukan manusia.


"Dulu sebelum ada hantu itu yang gentayangan desa aman, semua orang jarang tidur, banyak warga yang nongkrong walaupun di larut malam, tapi semenjak ada hantu yang gentayangan gak ada satupun orang yang berani keluaran rumah, setiap malamnya pasti ada aja berita-berita tentang warga sekitar yang di ganggu habis-habisan oleh hantu itu" ujar bu Toya.


"Secara logika mana ada orang yang berani keluar rumah, hantu itu benar-benar serem, dia sangat-sangat menakutkan" bu Toya bergidik ngeri kala teringat dengan wajah Sekar yang benar-benar serem dan begitu menakutkan.


Hanya Sekar satu-satunya hantu yang membuatnya ketakutan habis, sebelum-sebelumnya ia tidak pernah di ganggu sama hantu walaupun suaminya sering pulang malam bahkan tak pulang sama sekali.


"Enggak, dia gak kecelakaan, dia itu meninggal karena di bunuh" jawab bu Toya.


Wajah Suto terkejut dengan apa yang bu Toya katakan barusan.


"Di bunuh, siapa yang udah bunuh dia mbk?" semakin penasaran Suto akan orang yang telah melenyapkan hantu itu.

__ADS_1


"Yang bunuh dia itu namanya bu Jamilah, dan yang gentayangan di desa ini namanya Sekar, bu Jamilah itu bunuh Sekar gara-gara Sekar ketahuan selingkuh sama suaminya juragan Doni, sampai mau punya anak malahan, saat dia hamil aja gak ada warga yang tau, kayaknya dia sembunyi biar segala kebusukannya tidak di ketahui sama warga, tapi walaupun dia sembunyi yang namanya bangkai pasti akan kecium juga" jelas bu Toya.


"Terus gimana mbk kelanjutannya" Suto ingin mendengar cerita tentang Sekar yang di rumorkan gentayangan dan ganggu warga-warga sekitar.


"Apalagi bu Jamilah langsung bunuh Sekar, dia membunuhnya dengan sadis, dia tidak peduli sama Sekar yang lagi hamil besar, kamu tau gak setelah dia berhasil bunuh Sekar, dengan teganya dia buang jasad Sekar ke dalam sumur tua, sampai detik ini gak ada satupun warga yang berani mengeluarkan jasad Sekar dari dalam sumur tua itu" jawab bu Toya dengan penuh semangat.


"Ya ampun kasihan sekali dia mbk, dia gadis yang malang, pantesan aja dia gentayangan orang jasadnya aja gak di makamin dengan layak" Suto malah terlihat iba dan merasa empati akan hidup Sekar yang miris sekali.


"Kamu jangan merasa iba sama dia, sudah sepatutnya dia meninggal dengan cara itu, dia itu wanita hina, kalau bukan wanita hina mana ada wanita yang mau mengandung anak dari pria yang sudah beristri" bu Toya amat jijik jika teringat masa lalu Sekar yang buruk dan mampu mencoreng nama baik desa ini.


"Tapi walaupun begitu mbk bu Jamilah itu tetap salah, aku tau kalau Sekar itu memang salah lantaran selingkuh sama suaminya bu Jamilah, tapi seenggaknya bu Jamilah jangan bunuh Sekar, karena tidak akan ada orang ketiga jika salah satu di antara pasangan suami istri itu tidak membuka pintu sehingga ada tamu yang bisa masuk" ujar Suto membela Sekar.


Suto begitu iba akan kisah Sekar yang begitu sadis sekali.


"Hubungan rumah tangga bu Jamilah tidak akan hancur jika juragan Doni tidak membuka pintu agar pihak ketiga yakni Sekar masuk ke dalam hubungan mereka, warga-warga seharusnya jangan salahkan pihak ketiga saja, salahkan juga pasangan itu, kalau di antara mereka tidak membuka jalan, maka orang lain gak akan masuk ke dalam" tambah Suto yang akan terus membela Sekar yang menurutnya tak 100% bersalah dalam hal ini.

__ADS_1


__ADS_2