Kuntilanak

Kuntilanak
Tukang sate pembawa petaka


__ADS_3

Suasana desa anggrek sepi, tak ada seorangpun yang berani keluar malam-malam, mereka pada takut dengan Sekar yang di rumorkan tengah gentayangan.


Di malam yang sepi dan dingin ini bu Maimun keluar dari dalam rumahnya, dia merasa lapar di tengah malam, dia malas untuk memasak makanan di tengah malam, ia berniat ingin mencari makanan di luar.


Bu Maimun melangkah di jalanan yang sepi, tak ada seorang pun yang ia temukan, mereka semua benar-benar takut dengan Sekar.


"Kok pada gak ada orang ya, apa mungkin semua orang lagi takut sama Sekar, tapi masa iya dia gentayangan, kalau memang dia gentayangan dia pasti akan nampakin dirinya dong, tapi ini apa, gak ada apapun kok di sini" bu Maimun meragukan rumor itu sebelum dia mengalaminya secara langsung.


"Aku masih ragu dengan rumor itu, aku gak yakin si Sekar gentayangan, dia aja belum di makamin, masa udah gentayangan aja, tapi bu Nilem dan bu Naima sudah di ganggu sama Sekar, namun mengapa aku masih belum percaya sama rumor itu"


Bu Maimun terus melangkahkan kakinya tanpa henti, ia mencari orang yang menjual makanan di jam segini.


"Dari pada aku mikirin hal yang gak penting itu, lebih baik aku cari makan aja, aku udah lapar banget"


Bu Maimun mempercepat langkah, perutnya sudah sangat keroncongan, dia butuh mengisi perutnya terlebih dahulu baru bisa melanjutkan tidurnya.


Bu Maimun berhenti di tempat yang di jadikan pangkalan para pedagang keliling.


"Ini kemana semua pedagang, kenapa gak ada yang keliatan, biasanya mereka pada nongkrong di sini, kenapa sekarang pada gak ada, apa iya mereka pada cuti" bu Maimun merasa aneh saat tak ada satupun pedagang keliling yang terlihat di matanya.


"Kemana mereka semua, mereka pada mangkal di mana, biasanya mereka mangkal di dekat gazebo ini, tapi kenapa malam ini pada gak ada, gak tau orang lagi laper apa!" tak habis pikir bu Maimun.


Bu Maimun menghela nafas kasar."Aku mau cari mereka di mana lagi, di sini gak ada mereka, aku coba aja jalan keliling-keliling dulu, moga aja ketemu salah satu di antara mereka di jalan"


Kaki bu Maimun melangkah meninggalkan tempat itu, ia berjalan tanpa arah, ia ingin mencari makanan di tengah malam, biasanya ada beberapa warga yang berjualan di jam segini.


Jalanan benar-benar sepi, hanya bu Maimun satu-satunya orang yang berada di sana, bu Maimun tidak merasa merinding meski berjalan sendirian di gelapnya malam, dia sudah biasa hidup sendiri, suaminya tengah berlayar di laut, jarang berada di dekatnya.


"Sate, sate" teriak penjual sate keliling dengan menjajankan dagangannya.


Bu Maimun langsung menatap tukang sate keliling yang tak jauh dari sana.

__ADS_1


"Maaaang!" teriak bu Maimun berlari mendekati tukang sate.


Tukang sate itu berhenti, ia menatap bu Maimun yang mendekatinya.


"Mang kemana aja, saya cariin di tempat pangkalan kok gak ada!"


"Keliling kampung bu, kalau saya berada di sana terus menerus gak akan laku dagangan saya, sesekali saya keliling kampung sampai ke desa sebelah" jelas tukang sate.


"Terserah mamang aja, saya mau pesen sate 1 porsi, gak pake lama" perintah bu Maimun.


"Baik bu"


Bu Maimun duduk di kursi yang di bawa oleh tukang sate itu dengan tenang.


"Mamang selama keliling kampung gak ketemu sama hantu?"


Sorot mata penjual sate itu langsung berubah, bu Maimun merasa pertanyaannya menyinggung hati tukang sate.


"Apa aku salah ngomong ya, tapi kan ucapan ku gak nyinggung hati dia sama sekali, kenapa dia kelihatan marah begini" batin bu Maimun merasa aneh.


"Makin aneh aja mang Karyo ini, biasanya dia ceria dan suka ngelawak, kenapa malam ini dia jadi aneh ya" batin bu Maimun merasa ada perubahan dari diri tukang sate.


Bu Maimun menunggu pesanannya siap dengan ketakutan, seorang pelawak desa tiba-tiba menjadi dingin, sinis dan aneh adalah sesuatu yang paling menakutkan menurut bu Maimun.


Bu Maimun melihat sekelilingnya, tak ada satupun orang selain dia di sana, ia kini mulai merasakan merinding tanpa sebab.


"Ini pesanan ibu sudah jadi" mang Karyo memberikan pesanan bu Maimun.


Bu Maimun menatap terkejut pesanannya yang baru siap.


"Kok satenya banyak ulatnya mang, saya gak mau makan makanan beginian, mamang kalau gak niat jualan jangan jualan, mamang mau bunuh orang hah!" omel bu Maimun lalu melempar makanan itu sembarang arah.

__ADS_1


Bu Maimun menatap tajam dan kecewa pada mang Karyo, biasanya dia mengutamakan kualitas dan kebersihan, namun mengapa hari ini jualannya sangat tak higienis.


Bu Maimun yang tadi marah-marah langsung ciut saat menatap mata mang Karyo yang seram dan tajam.


"K-kenapa mang Karyo jadi aneh gini, kenapa dia natap aku kayak orang yang punya dendam, iya aku tau aku salah marahin dia, tapi itu karena kesalahannya, gak mungkin aku diam aja saat dia ngasih aku makanan gak bener itu" batin bu Maimun merasa ketakutan.


Bu Maimun terus menatap wajah mang Karyo yang seram abis, tiba-tiba wajah mang Karyo berubah menjadi sosok wanita berambut panjang berpakaian putih yang penuh dengan darah.


"Huaaaaaaaaa" teriak histeris bu Maimun, ia langsung beranjak lari dari sana.


Segala kecurigaan bu Maimun akhirnya terjawab, sedari tadi dia memang merasa kalau ada yang aneh dari diri mang Karyo, kini ia tau siapa orang yang berada di balik ini semua.


Sekar menatap tajam ke arah bu Maimun yang berlari terbirit-birit sambil berteriak-teriak.


"Kau terlalu meremehkan ku, kau kira aku akan tinggal diam begitu saja, tentu saja tidak, aku tidak akan tinggal diam lagi, sudah cukup aku diam!" tegas Sekar tidak main-main.


"Sate, sate" teriak mang Karyo yang asli sambil berkeliling dengan mendorong gerobak satenya di jalanan yang sepi.


"Sate, sate" mang Karyo terus berteriak di jalanan berharap ada orang yang membeli dagangannya.


"Kemana ya semua orang, kenapa pada gak ada yang keluaran rumah, biasanya banyak warga-warga di jalanan meskipun jam segini, tapi kenapa sekarang semua tempat tongkrongan pada gak ada orang" mang Karyo masih tidak tau tentang berita hangat yang lagi tranding di desa ini.


Mang Karyo mendorong gerobaknya sambil teriak-teriak dan melihat ke kanan dan kirinya.


"Sate, sate"


Tiba-tiba mang Karyo berhenti, ia menatap ke depan dengan terkejut, mata mang Karyo melihat dengan jelas Sekar yang berdiri di pinggir jalan dengan mengenakan pakaian berwarna putih, rambutnya panjang, sorot matanya amat tajam.


Mang Karyo gemetaran, ia tak bergerak sama sekali kala menatap hantu seseram Sekar, baju putih yang Sekar kenakan berlumuran darah, dari posisi mang Karyo berdiri bau darah itu tercium jelas.


Sekar mengalihkan pandangannya ke arah lain, kemudian menghilang dari sana, mang Karyo merasa lega saat Sekar pergi dari sana.

__ADS_1


"Alhamdulillah, dia pergi juga, jadi ini yang bikin semua orang memilih untuk berada di dalam rumah, pantesan aja sedari tadi aku keliling-keliling gak ada yang beli dagangan ku, aku lebih baik keliling di kampung sebelah saja, gak jadi keliling di sini"


Mang Karyo yang ketakutan memutar balik dan pergi dari desa anggrek, ia sudah tau hal yang membuat desa anggrek berubah menjadi sangat mencekam.


__ADS_2