Kuntilanak

Kuntilanak
Melewati jalanan suram


__ADS_3

Di ladang.


Keadaan ladang hening, yang tersisa di ladang hanyalah berbagai jenis tanaman, satupun orang tidak nampak di mata, semua orang yang tadi siang bekerja sudah pulang ke rumah masing-masing.


Di kantor hanya terdapat 1 orang, tak lain dan tak bukan adalah juragan Doni.


Juragan Doni menatap ke depan, ia duduk di kursi goyang dalam pikiran kosong, semenjak kematian Sekar ia berubah, ia sering kali melamun, biasanya ia tidak pernah seperti ini.


Brukk!


Tiba-tiba telinga juragan Doni di kagetkan dengan suara benda jatuh yang tak jauh dari posisinya berada.


Lamunan juragan Doni seketika langsung buyar.


"Suara apaan itu?" juragan Doni beranjak tadi tempat duduk, ia mencari asal suara itu berada ke setiap inci ruangan yang tak begitu lebar.


"Gak ada apapun di sini, semua benda berada di tempat masing-masing, lalu dari manakah suara itu berasal, mengapa suaranya sangat dekat, apa mungkin dari luar?" pandangan juragan Doni menatap jendela.


Kaki juragan Doni melangkah mendekati jendela, ia membukanya dan melihat keluar mencari asal suara tersebut.


Di luar tidak ada satupun orang yang ia lihat, semua tanaman-tanaman tidak ada yang berpindah, tidak ada tempat yang bisa ia curigai.


"Di luar gak ada apapun, gak ada orang juga, lalu dari mana lagi suara itu berasal" juragan Doni mulai berpikir, ia sudah mencari-cari kemana-mana suara itu berasal, namun tetap saja tidak di temukan.


"Ku rasa ini cuman perasaan aku saja, aku yakin di sekitar sini tidak bakal ada orang, satupun warga tidak ada yang akan berani keluaran rumah, mereka pasti takut bertemu dengan hantu Sekar yang jadi-jadian itu" yakin juragan Doni, ia sudah mendengar setiap berita-berita tentang hantu mantan istrinya yang tewas di tangan istri pertamanya.


tap


tap


tap


Langkah kaki juragan Doni kembali mendekati kursi goyang, ia berniat akan kembali duduk di kursi tersebut.

__ADS_1


Kriiiing


Kriiiing


Kriiiing


Suara telpon nyaring menghentikan langkah juragan Doni, pandangan juragan Doni beralih menatap meja yang berada di seberangnya.


Juragan Doni dengan cepat mengambil hp yang berbunyi dan mengangkat panggilan tersebut.


"Mas pulang, aku takut di rumah sendirian, cepat kamu pulang, aku mau kamu ada di sini, malam ini ku mohon temani aku di rumah" titah bu Jamilah dari seberang telpon, dari suaranya terdengar bahwa ia sangat ketakutan.


"Papa gak bisa pulang ma, mama kalau takut tidur aja sama Mala, papa mau jagain ladang, besok pagi-pagi papa akan pulang" tolak juragan Doni, ia memang jarang pulang ke rumah walaupun ada atau enggak istrinya di sana.


"Aku gak mau mas, kamu cepat pulang, aku takut banget di sini, aku kamu ada di sini, mau gak mau kamu harus pulang, kalau kamu gak mau pulang, aku akan urus ladang sendiri, aku gak akan biarkan kamu menyentuh ladang ku!" ancam bu Jamilah biar juragan Doni mau menurutinya.


Juragan Doni menghela nafas berat, lagi-lagi ia tidak bisa menentang istrinya yang bagaikan nenek sihir saking garangnya.


"Iya-iya aku pulang, tunggu aku di rumah, sebentar lagi aku akan pulang!"


"Kenapa nenek lampir itu pake nyuruh-nyuruh aku pulang segala, biasanya dia tidur sendiri, malahan tidak butuh aku sama sekali, kenapa sekarang dia malah minta aku pulang" gerutu juragan Doni yang kesal dengan permintaan bu Jamilah.


Dengan wajah yang masih kesal juragan Doni melangkah keluar dari dalam kantor, mau tidak mau dia harus pulang, dia tidak mau nenek lampir yang berstatus sebagai istrinya menjadikan dia gulai.


Kaki juragan Doni melangkah melewati pematang yang panjang dan tak terlalu lebar, suara-suara hewan-hewan kecil terus terdengar dengan jelas, juragan Doni tampak santai, ia tidak merasa takut sama sekali, ia sudah terbiasa pulang dalam keadaan jalanan yang hening.


Juragan Doni kini akan melewati jalanan suram yang di kanan dan kirinya adalah kuburan massal.


Wussshhhh


Tiba-tiba angin semilir menerpa tubuh juragan Doni, secara tak langsung bulu kuduk juragan Doni ikut berdiri, entah mengapa malam ini ia merasa merinding, padahal biasanya ia tidak merasakan apa-apa saat lewat di kuburan tersebut.


"Kok perasaan aku gak enak gini ya, apa aku kembali ke ladang aja, tapi tanggung dan juga kalau aku gak pulang nenek lampir itu akan buat tubuh aku remuk!" segarang-garangnya juragan Doni ia tidak berani menghadapi istrinya yang kejam, lagi pula di mata masyarakat yang kaya raya adalah istrinya bukan dirinya.

__ADS_1


Juragan Doni celingukan menatap kanan dan kiri yang hanya terdapat pohon dan pohon, kegelapan malam terjadi di mana-mana, pancaran sinar rembulan hanya sedikit menerangi jalanan ini.


"Gak akan ada apapun kok yang bakal terjadi sama aku, semuanya akan aman terkendali, biasanya aku selalu pulang malam-malam, tapi gak ada apapun yang terjadi sama aku, malam ini juga pasti akan sama kayak malam-malam sebelumnya" juragan Doni berpikir positif, tidak mungkin ia overthinking karena itu akan menambahnya semakin ketakutan.


Dengan langkah pasti kaki juragan Doni kembali melangkah, kala masuk ke area kuburan, hawa tak nyaman mendatangi juragan Doni, namun kakinya tak berhenti melangkah, ia terus berjalan, tidak mungkin ia berhenti di tengah jalan apalagi di kanan dan kirinya merupakan kuburan orang-orang desa yang telah meninggal puluhan tahun yang lalu.


Juragan Doni mempercepat langkah, ia berjalan menunduk, tak sedikitpun ia melirik ke kanan dan kirinya, dalam keadaan berjalan menunduk saja ia sudah merasakan merinding yang tiada tanding.


tap


tap


tap


tap


Terdengar suara orang yang berlari dengan cepat di telinga juragan Doni.


Juragan Doni yang tengah berjalan semakin merinding, ia tadi yakin bahwa tidak ada orang lain lagi yang berada di sekitarnya, namun mengapa setelah berada di pertengahan jalanan suram telinganya mendengar suara orang yang berlari.


tap


tap


tap


tap


bruk


Suara orang yang berlari itu masuk ke dalam semak-semak dan tak lagi terdengar.


Juragan Doni dapat menghirup nafas lega untuk sesaat, kakinya tak berhenti melangkah, ia berjalan tanpa henti, ia ingin segera keluar dari jalanan suram ini namun mengapa rasanya jalanan ini terasa panjang, padahal kalau di lewati ketika siang hari terasa sangat singkat.

__ADS_1


Nafas juragan Doni menggebu-gebu, dapat terlihat bahwa dirinya tengah di selimuti rasa tegang.


__ADS_2