
Juragan Doni tiba di rumahnya, pak Anton langsung melihat ke arah juragan Doni yang baru sampai.
"Mana uangnya, saya butuh uang itu segera" juragan Doni langsung meminta uang itu, dia sangat-sangat butuh uang itu saat ini.
"Uangnya ada pada dia" tunjuk pak Anton ke arah mobil yang di dalamnya ada orang yang sudah juragan Doni benci.
Juragan Doni menatap ke mobil, dia terkejut saat melihat Sekar, dia masih berpikir kalau Sekar ada di dalam gudang dan sudah mati di sana karena berhari-hari tidak makan.
"Kamu? kamu punya uang sebanyak itu!" kaget juragan Doni menatap tak percaya karena setahunya Sekar bukan berasal dari keluarga yang kaya, Sekar juga dulu adalah orang yang pernah dia bantu untuk melunasi semua hutangnya pada bu Sinab.
"Iya juragan, Sekar memang punya uang 20 juta, dia datang kemari untuk melunasi semua utang-piutang pada juragan" jelas pak Anton.
"Dia punya uang dari mana, kamu nyuri di mana lagi, atau jangan-jangan kamu morotin pria-pria hidung belang untuk bisa dapatin uang itu!" fitnah juragan Doni, juragan Doni memandang Sekar rendah setelah tau Sekar hamil saat dia tinggal pergi.
"Tidak, saya tidak pernah melakukan itu semua hanya karena ingin mendapatkan uang, saya malam ini akan bayar semua uang yang sudah saya pinjam sama juragan, tapi ada syaratnya"
"Apa syaratnya?" juragan Doni ingin tau syarat yang akan Sekar berikan.
"Syaratnya juragan harus ceraikan saya, saya sudah tidak mau tinggal satu atap lagi sama juragan, saya ingin bebas!"
"Oke, jika itu mau kamu, hari ini saya talak kamu!" teriak juragan Doni yang emosi, mereka pikir juragan Doni akan bersimpuh di kaki Sekar walaupun dia saat ini tengah membutuhkan uang itu.
"Sekarang berikan uang itu, kita sudah tidak ada hubungan apapun, kamu bebas mau nikah sama siapapun, saya sudah tidak peduli lagi" kasar juragan Doni.
Sekar memberikan uang itu, dia hari ini lega karena dia sudah bukan berstatus istri juragan Doni lagi, juragan Doni mengambil uang itu, dia juga sudah tidak lagi menginginkan Sekar, dia malah membencinya.
"Pergi kau dari sini, jangan pernah tampakkan wajah mu lagi, saya tidak sudi melihat wajah mu lagi!" usir juragan Doni.
"Pak Anton tolong bawa saat pergi dari sini" titah Sekar.
__ADS_1
Pak Anton mengangguk, dia membawa Sekar kembali ke rumah sakit, juragan Doni menatap kepergian mereka, dia tidak dendam ataupun marah Sekar minta cerai padanya, tanpa di minta juga juragan Doni akan menceraikan Sekar.
"Akhirnya uang ku kembali lagi, aku bisa mengembalikan keadaan dengan uang ini" tampak senang juragan Doni setelah habis marah-marah.
Juragan Doni kembali ke ladang dengan wajah yang full senyum, uang 20 juta itu memang terbilang kecil baginya, namun saat ini dia sangat membutuhkan uang itu.
Pak Anton membawa Sekar kembali ke rumah sakit, keadaan Sekar masih belum pulih total, Sekar harus di rawat inap di sana karena luka di punggungnya masih belum pulih.
"Sekar sekarang kamu sudah bisa tenang, hutang mu pada juragan Doni sudah lunas, kamu sudah tidak akan tertekan lagi sama dia, dia pasti juga tidak akan ganggu kamu!"
"Iya pak, tapi saya masih punya hutang sama bapak"
"Ah itu gampang, saya tidak akan menambah-nambahkan uang itu, kamu bisa cicil nanti, sekarang itu kamu fokus saja pada kehamilan mu, masalah uang itu kamu bisa bayar ketika kamu mampu"
"Makasih pak sudah ngertiin keadaan saya"
Tidak ada lagi percakapan yang terjadi di antara mereka, mereka memilih diam, pak Anton terus fokus menyetir mobil sementara Sekar menatap ke depan.
"Sekarang aku sudah bebas, mungkin dengan perceraian ini aku bisa memulai menata kembali hidup ku yang sudah hancur, ibu bapak hari ini Sekar bebas, kalian istirahat yang tenang di alam sana, kalian tidak usah khawatir lagi sama Sekar, Sekar akan baik-baik saja, tolong doakan semoga Sekar bisa menjalani hidup Sekar dengan baik kedepannya" batin Sekar yang kembali bersedih ketika teringat pada bapak dan ibunya.
Pak Anton terus mengemudikan mobil, mobil menguasai jalanan, suasana jalan tidak terlalu ramai.
Setibanya di rumah sakit, Sekar di bantu masuk ke dalam kamarnya kembali sama pak Anton, mereka beristirahat malam ini setelah menyelesaikan masalah hutang piutang dengan juragan Doni.
Sekar tidur dengan nyenyak, kini dia tidak punya beban sama sekali, dia sudah tidak merasa takut dan cemas lagi kalau bertemu dengan juragan Doni.
...•••...
Waktu-waktu terus berlalu, jam-jam berputar, menit-menit berganti, kini Sekar sudah sembuh, dia sudah tidak merasakan sakit di punggungnya lagi.
__ADS_1
"Sekar kamu untuk sementara tinggal di rumah saya saja, di sana aman, saya cuman takut juragan Doni datang ke rumah kamu dan akan berbuat aneh-aneh sama kamu, saya sungguh tidak mau kamu di apa-apain lagi sama juragan Doni" titah pak Anton.
"Apa gak ngerepotin pak, bapak sudah baik banget sama saya selama ini, masa saya masih harus menambah beban bapak lagi" merasa tak enak hati Sekar dengan kebaikan pak Anton.
"Tentu saja tidak, saya tidak keberatan kamu tinggal di rumah saya, saya hanya ingin menolong kamu saja, kamu gak usah merasa gak enak hati, ayo kamu ikut saya, saya akan bawa kamu ke rumah saya"
Sekar mengangguk, dia ikut pak Anton ke rumahnya, rumah pak Anton tidak terlalu besar namun rapih dan terawat, desainannya sangat elegan dan tampak simpel.
"Ini rumah bapak?"
"Iya ini rumah saya, kenapa?"
"Kok jauh dari keramaian, kenapa bapak gak buat rumah di dekat rumah juragan Doni saja?"
"Enggak apa-apa, saya hanya ingin menjauh dari warga-warga agar tidak ada isu-isu miring yang tidak di inginkan, ayo masuk ke dalam akan saya tunjukkan kamar kamu"
Sekar mengikuti pak Anton masuk ke dalam rumah itu.
"Di sana ada kamar, kamu bisa tempati kamar itu" tunjuk pak Anton ke salah satu kamar yang terletak di paling pojok.
"Baik pak, makasih pak sudah mau bantu saya sampai sedalam ini"
"Sama-sama, sana kamu istirahat, kamu jangan kerja, biar anak yang ada di dalam kandungan kamu tetap sehat"
Sekar mengangguk dengan di iringi senyuman, Sekar melangkah memasuki kamar yang pak Anton tunjukkan, dia merebahkan tubuh dengan wajah yang dengan senyuman.
"Baik banget pak Anton, andai suami aku kayak dia, mungkin aku akan hidup bahagia meskipun di tinggal sama bapak dan ibu" Sekar mulai berkhayal, sungguh baru kali ini ada orang yang sebaik itu padanya, jika biasanya orang-orang hanya menghina dan merendahkannya, tapi tidak dengan pak Anton, dia selalu membantu Sekar dengan ikhlas tanpa mengharap imbalan sedikitpun.
Sekar menatap langit-langit kamarnya, dia perlahan-lahan mulai terlelap dalam tidurnya.
__ADS_1