
Di sisi lain.
Bu Salamah menunggu kedatangan putri semata wayangnya yang belum pulang kerja di jam segini, ia menunggu Shila datang sambil menonton televisi untuk mengusir keheningan, sesekali ia memakan camilan agar semakin seru menonton film yang di tayangkan di televisi.
"Bu Salamah" panggilan seseorang yang terdengar lirih dapat di dengar baik di telinga bu Salamah.
Bu Salamah langsung berdiri, dengan terkejut ia menatap sekelilingnya yang sepi, hanya terdapat dia seorang yang berada di ruang tamu.
"Kok kayak ada suara orang yang manggil nama aku, tapi siapa, kok gak ada orangnya" perasaan bu Salamah mulai tidak nyaman, ia menatap sekelilingnya namun tetap saja tidak menemukan satu orangpun.
Bu Salamah tak berhenti begitu saja, ia terus mencari keberadaan orang yang telah memanggilnya barusan, ia yakin apa yang barusan ia dengar benar-benar nyata.
Wussshhhh
Tertangkap sebuah kelebat bayangan hitam yang melesat dengan cepat di dapur.
Mendadak wajah bu Salamah memucat, posisinya ia tengah berada di rumah sendirian, tidak ada satupun orang yang bisa ia minta tolong.
Taaaaar!
Suara beling yang pecah di dapur dan terdengar seperti ada orang yang menjatuhkannya dengan sengaja.
Bu Salamah tidak berani menginjakkan kakinya di dapur, ia tau bahwa yang saat ini menempati dapurnya bukanlah manusia.
"Gak aman berada di sini lama-lama, aku harus kemana, aku harus pergi kemana, gak mungkin aku keluar rumah, itu semua malah akan membuat segalanya makin runyam"
Dalam keadaan yang sepi dan tak ada orang bu Salamah di serang rasa takut, seketika rumahnya menjadi angker dan itu terjadi sejak Sekar di nyatakan meninggal dunia.
Bugh!
Toples yang berisikan biskuit yang terletak di meja tiba-tiba jatuh tanpa ada angin yang menerpa.
Tubuh bu Salamah semakin di serang rasa takut, malam ini gangguan yang menimpanya lebih menakutkan dari malam-malam sebelumnya.
__ADS_1
"I-ini udah mulai gak aman, aku gak bisa berada di sini lebih lama lagi, aku harus pergi dari sini, aku gak mau di ganggu habis-habisan di sini" bu Salamah sudah tidak betah tinggal di rumahnya sendiri yang tiba-tiba berubah draktis.
Belum sempat bu Salamah melangkahkan kaki, kakinya sudah di pegang erat-erat oleh seseorang.
Bu Salamah yang merasakan ada seseorang yang memegangi kakinya menelan ludah pahit, bulu kuduknya langsung berdiri semua.
"Siapa yang megang kaki aku, kenapa keras sekali" batin bu Salamah yang dag dig dug.
Perasaan bu Salamah semakin tidak nyaman, ia yakin sekali ada orang yang sudah memegangi kakinya dengan kuat, karena rasa penasaran yang semakin menjadi-jadi bu Salamah pun menunduk melihat siapa yang sudah iseng memegangi kakinya.
Seorang wanita berpakaian putih, rambutnya panjang, wajahnya hancur, gigi wanita itu selain bertaring panjang warna giginya berubah menjadi hitam, matanya melotot tajam.
"Huaaaaaaaaa" histeris bu Salamah memberontak saat hantu seseram itu memegangi kakinya dengan sangat erat.
Sekar semakin memegang erat kaki bu Salamah, sementara bu Salamah berteriak histeris saat Sekar tak mau melepaskan kakinya.
"Pergi, lepaskan kaki ku, jangan ganggu aku!" jerit bu Salamah yang tak bisa diam, ia berusaha untuk melepaskan kakinya dari Sekar.
Sekar malah semakin menambah kencang memegangi kaki bu Salamah yang begitu ia benci.
Bu Salamah yang sudah geram dengan Sekar yang tak mau sama sekali melepaskan kakinya melempar apapun yang berada di dekatnya ke wajah Sekar.
Mata Sekar semakin melotot tajam, ia semakin geram dengan tindakan bu Salamah yang malah ingin menyakitinya.
"Pergi, jangan ganggu aku!" teriak bu Salamah sambil melempar remote TV ke arah wajah Sekar.
Bugh!
Remote TV itu mendarat dengan twist di wajah Sekar, Sekar melepaskan tangannya yang memegangi kaki bu Salamah dengan erat.
Bu Salamah tidak menyia-nyiakan kesempatan ini, ia berlari keluar dari rumahnya dengan terbirit-birit, ia tak mau berada di dalam rumah lebih lama lagi karena di sana terdapat musuh bebuyutannya yang akan membuatnya semakin tak karuan.
"Dia benar-benar gila, mengapa dia mendatangi ku lagi, apa yang mau dia lakukan, aku sudah tidak mencari gara-gara lagi dengannya, tapi kenapa dia tetap saja masih ganggu aku, apa salah ku, aku ingin hidup tenang, jangan ganggu aku" teriak bu Salamah di sepanjang perjalanan, ia trauma berat dengan ganggu Sekar kali ini.
__ADS_1
Sepanjang perjalanan bu Salamah berlari tanpa kenal arah, ia tidak memiliki tujuan yang jelas, yang dia lakukan saat ini hanya berlari menjauhi rumahnya sendiri lantaran takut sama Sekar.
"Bu Salamah berhenti, jangan pergi bu, saya ingin ikut juga" teriak Sekar sambil terbang mengikuti bu Salamah dari belakang.
Bu Salamah menatap ke belakang, wajahnya semakin terkejut saat hantu yang ingin berusaha untuk ia hindari malah mengejarnya tanpa henti.
"Gawat, dia ngejar aku, aku harus pergi, aku harus bisa pergi darinya, aku gak mau dia bikin aku ketakutan seperti malam itu" bu Salamah membulatkan tekad, ia memantapkan hatinya bahwa malam ini ia bisa terlepas dari cengkraman menakutkan Sekar.
Dengan gigih bu Salamah berlari terbirit-birit sambil berteriak dengan harapan ada orang yang dengar dan akan menolongnya.
Sekar tertawa cekikikan melihat bu Salamah yang berlari terbirit-birit karena ulahnya.
"Bu Salamah, aku akan bikin kau menderita malam ini, kau tidak akan bisa hidup tenang, selama ini kau yang membuat ku tak tenang, kini giliran ku yang membalas semua kejahatan mu" dendam Sekar yang terus saja berkobar-kobar.
Sekar terbang bebas di udara mengejar bu Salamah yang berlari dengan sangat kencang, ia tidak akan membiarkan bu Salamah lolos gitu aja.
"Bu Salamah berhenti, jangan lari, saya punya hadiah untuk ibu, tolong terimalah hadiah yang saya berikan" titah Sekar berusaha untuk menghasut bu Salamah agar bisa ia takut-takuti.
Bu Salamah pura-pura tuli, ia tidak akan mendengar ocehan Sekar karena di dalam setiap kata yang keluar dari bibir Sekar semuanya hanyalah tipu muslihat semata.
"Pergi, jangan ganggu aku, aku tidak mau kau mengganggu terus menerus!" teriak bu Salamah yang tak tenang.
"Hihihihihihihi, itu tidak akan terjadi, aku tidak akan berhenti, kau musuh terbesar ku, kau tidak akan aku biarkan lolos begitu saja" ancaman Sekar membuat bu Salamah begidik ngeri.
Mendadak langkah bu Salamah terhenti, wajahnya memucat, tubuhnya di serang rasa panik.
"Aku harus kemana ini, apa yang harus lakukan, mana tempat yang bisa aku singgahi" panik bu Salamah di tengah jalan saat di depannya adalah dua jalan yang berlawanan arah.
Rasa panik itu membuat jantung bu Salamah memompa dengan cepat.
"Hihihihihihihi"
Suara tawa Sekar membuat bu Salamah semakin tak tenang, ia melihat suatu tempat, ia pun berlari ke sana dan berdiam diri di sana.
__ADS_1
"Sial dia bersembunyi di masjid, kurang ajar dia memang, oke malam ini kau selamat, tapi besok tidak ada kata ampun lagi untuk mu!" jengkel Sekar yang masih menyimpan dendam yang membara untuk bu Salamah.
Sekar memutar arah, ia tidak jadi membuat bu Salamah ketakutan malam ini karena bu Salamah bersembunyi di masjid.