
"Ini udah waktunya aku istirahat bu, ibu gak ingat sejak tadi pagi ibu nyuruh-nyuruh aku terus, aku juga capek bu, bukan ibu aja, aku mohon sekali sama ibu, ibu jangan ganggu aku, aku capek di suruh-suruh terus, kalau ibu bisa sendiri kenapa ibu harus nyuruh-nyuruh aku segala" Mela sudah kehabisan kesabarannya, ia sudah lelah perintah ke sana kemari oleh ibunya.
"Mela kamu gak liat apa kalau ibu lagi sakit, seharusnya kamu rawat ibu dengan baik, kenapa kamu malah marah-marah sama ibu" tak habis pikir bu Nilem dengan watak anaknya yang benar-benar kacau.
"Ibu sakit gara-gara ulah ibu sendiri, suruh siapa ibu mau ikut-ikutan hina dan caci maki Sekar, sekarang ini balasannya, ibu memang pantes di buat sakit oleh Sekar, ibu itu memang jahat sama dia, dulu aku main sama Sekar aja gak boleh, ibu hina yang bukan-bukan, ibu caci dia terus menerus aku yang dengar aja sakit hati ibu apalagi Sekar yang merasakannya"
"Sebagai teman aku kecewa sama ibu, ibu memang pantes merasakan sakit akibat ulah Sekar" Mela sudah tidak bisa menahan lagi, ia mengeluarkan segala unek-uneknya yang ia simpan sejak dulu.
Mela dan Sekar saat masih kecil berteman, namun pertemanan mereka tidak mulus lantaran bu Nilem selalu melarang-larang Mela untuk main bersama Sekar, jikalau pun Mela ingin bermain sama Sekar, dia harus mencari alasan dulu agar bisa di izinkan jika dia bilang kalau dirinya akan bermain bersama Sekar, 100% ia tidak akan pernah di izinkan.
"Anak kurang ajar kamu, bukannya belain ibu kamu malah ikutan hina ibu, Mela kamu itu anak ibu, ibu yang udah lahirin kamu, tapi kenapa kamu malah bela Sekar yang bukan siapa-siapa kamu, kamu udah bosen hidup apa!" naik pitam bu Nilem, ia tidak suka anaknya membela orang yang sangat ia benci saat ini.
"Apa salahnya aku belain Sekar bu, di sini itu dia yang benar, ibu yang salah, seharusnya ibu sadar bukan malah semakin benci sama dia, ibu di buat sakit sama Sekar biar ibu bisa menyadari kesalahan ibu, tapi apa yang terjadi ibu malah makin keterlaluan, ibu malah semakin benci dan berniat akan membuat Sekar menderita, apakah ibu tidak bisa sadar akan perbuatan ibu selama ini, haruskan ibu mati dulu biar ibu bisa sadar"
Plakkk!
Tamparan keras mendarat di wajah Mela.
Mela menatap ibunya dengan tidak percaya, untuk pertama kalinya ibunya melakukan tindakan kekerasan padanya.
"Ibu nampar aku" dengan linangan air mata Mela menatap ibunya yang benar-benar tak ia kenali, ibunya yang ia kenal tidak seperti ini.
"Iya, ibu nampar kamu, ibu lakuin ini biar kamu sadar, kamu itu harus sadar, buka mata kamu lebar-lebar dan lihat siapa yang benar di antara ibu dan Sekar, Mela kamu sudah taukan kalau Sekar itu simpanannya juragan Doni, dia itu mau menjadi wanita murahan yang rela mengandung benih dari pria yang sudah beristri, dari sini itu udah jelas kalau dia yang salah, bukan ibu" bu Nilem tidak mau di salahkan.
__ADS_1
Apapun yang terjadi bu Nilem tidak mau di salahkan, ia tidak ingin di cap sebagai orang yang salah dalam hal ini.
"Sekar memang mengandung dan mau menjadi simpanan juragan Doni, tapi itu pasti ada sesuatu di baliknya melakukan itu semua, aku kenal baik dengan Sekar bu, Sekar itu gak akan kayak gitu, dia bukan Nina yang sombong dan angkuh itu, selama kami berteman aku gak pernah liat sisi buruk dari Sekar, dia memang selama ini baik sama semua orang, cuman semua orang aja yang gak suka dan malah hina-hina dia, dan salah satu orang itu adalah ibu!" pertegas Mela dengan bulir-bulir bening yang ikut berjatuhan.
"Kamu makin kurang ajar, semenjak berteman dengan Sekar kamu malah semakin keterlaluan, memang benar kalau Sekar itu tidak baik, buktinya kamu ngelawan orang tua gara-gara dia" bu Nilem bukannya sadar malah semakin meninggikan ucapannya, ia tidak menyangka bahwa Mela yang terlihat polos akan berani melawannya.
Mela hanya menangis, ia tak akan bisa melawan bu Nilem yang melebihi nenek lampir, ia teringat kisah hidup Sekar yang pahit, dia yang melihat Sekar di siksa habis-habisan oleh bu Jamilah merasa sangat iba namun dia tidak bisa apa-apa, dia tidak bisa menolongnya dan itu membuatnya begitu sangat menyesali perbuatannya.
"Dari pada kamu nangisin wanita tidak berguna itu lebih baik sekarang kamu cepat masak air, ibu mau kompres kaki ibu dengan itu" perintah bu Nilem dengan sorot mata yang masih tajam dan amarah yang membara di tubuhnya.
"Enggak, aku gak mau, ibu masak aja sendiri, aku gak mau masakin air buat ibu!" tolak mentah-mentah Mela, ia sakit hati dengan ibunya sendiri.
"Kalau kamu gak mau ibu suruh-suruh lagi berarti kamu sudah menjadi anak durhaka, kamu mau di sebut anak durhaka hah!" pekik bu Nilem dengan melototkan matanya.
"Cepat sekarang kamu masakin ibu air, jika kamu gak mau di sebut senbagai anak durhaka!" perintah bu Nilem.
Mela tidak punya pilihan lain, ia pun berangkat menuruti perintah ibunya.
Bu Nilem menatap tajam ke arah punggung Mela, ia begitu kesal dengan watak Mela yang seperti di cuci habis-habisan oleh Sekar.
"Dasar anak gak berguna, gara-gara Sekar yang biadab dan menjijikan itu dia berani melawan orang tua, dia benar-benar kurang ajar, awas kalau dia masih ngelawan lagi, aku akan gantung dia di atas menara!" ancam bu Nilem yang tak habis pikir dengan Mela anaknya sendiri yang malah membela orang lain.
Bu Nilem menunggu Mela masak air dengan mengomel dan terus menjelek-jelekkan nama Sekar.
__ADS_1
"Mela, cepetan, jangan lama-lama!" teriak bu Nilem.
Mela kembali dengan membawa air panas yang ia letakkan di dalam baskom.
"Letakkan di bawah" suruh bu Nilem yang masih sinis.
Tanpa aba-aba Mela menjatuhkan air panas itu ke kaki bu Nilem.
Bu Nilem langsung menjerit kepanasan, kakinya melepuh gara-gara di siram oleh air panas.
"Hahahaha" Mela bukannya merasa bersalah dia malah tertawa terbahak-bahak seperti mendapatkan kesenangan yang tiada tanding.
"Kamu gila apa, kamu ingin bunuh ibu mu sendiri, kamu benar-benar anak durhaka!" teriak bu Nilem dengan melototkan matanya.
Mela terus tertawa terbahak-bahak, ia tidak peduli sama sekali dengan ocehan bu Nilem, lama-kelamaan Mela berubah menjadi sosok yang bu Nilem benci.
"S-sekar" tergagap bu Nilem saat anaknya berubah menjadi Sekar.
Sekar mengeluarkan seramnya, taring panjangnya juga ikutan keluar.
Bu Nilem yang melihat Sekar seseram itu langsung jatuh pingsan.
"Dasar orang tua yang tidak berguna, dia main-main sama aku rupanya, sekarang dia rasakan saja apa yang sudah aku lakukan" ujar Sekar kemudian menghilang dari sana.
__ADS_1