
Di luar bu Salamah dan suaminya pak Behry menonton televisi dengan tenang, mereka tidak mendengar jeritan Shila sama sekali.
"Pak kemana Shila ya, kok dia gak keluar kamar?" bu Salamah teringat pada Shila yang tak keluaran kamar sama sekali malam ini.
"Palingan Shila tidur bu" jawab pak Behry dengan mata yang masih fokus pada televisi.
"Tapi gak mungkin pak, Shila itu gak mungkin tidur di jam segini, ini masih belum larut malam" bantah bu Salamah.
"Dia kan lagi sakit bu, dia pasti tidur sekarang, udah kita jangan ganggu dia, biarkan dia istirahat, biar dia cepat sembuh" tutur pak Behry yang berpikir positif.
Bu Salamah pun diam, ia pun menuruti perintah sang suami dan memilih untuk tetap berada di tempat.
"Hiks hiks hiks hiks hiks"
Tiba-tiba suara tangisan seseorang yang sesegukan terdengar dengan jelas di telinga mereka berdua.
Bu Salamah langsung memegang erat lengah pak Behry, tubuhnya langsung menegang, wajahnya mendadak berubah menjadi pucat pasi.
"Pak suara siapa itu pak, ibu takut pak, ayo kita pergi dari sini pak, ibu gak mau dia ganggu kita" mulai gemetaran bu Salamah.
Bu Salamah sudah paham awal mula sebuah gangguan, ia kini menyadari bahwa suara tangisan itu berbahaya.
"Ibu apaan sih, itu cuma suara orang nangis biasa kok, ibu jangan takut, di sini ada bapak, gak akan ada yang terjadi sama kita kok, percaya aja deh" sahut pak Behry.
__ADS_1
Pak Behry tidak mengerti maksud bu Salamah mengajaknya pergi.
Meskipun pak Behry telah berusaha untuk menenangkan bu Salamah namun bu Salamah tak bisa diam, ia masih khawatir berlebihan, ia sudah hafal awal mula Sekar akan mengganggunya.
Saking seringnya bu Salamah di ganggu sama Sekar, bu Salamah sudah tau betul bagaimana seluk beluk tentang gangguan Sekar yang begitu menyeramkan.
"Hiks hiks hiks hiks hiks"
Suara tangisan itu kembali, lama kelamaan suara tangisan itu semakin menyeramkan.
Tubuh bu Salamah semakin gemetaran, kekhawatiran terpencar jelas di wajahnya, ia menjadi tak tenang karena suara tangisan itu masih saja ia dengar.
"Pak suara itu milik Sekar pak, ayo kita pergi dari sini, kita jangan ada di sini, nanti dia akan datangin kita, ayo sekarang mending kita kabur aja sebelum dia ganggu kita habis-habisan" ajak bu Salamah yang di pikirannya hanya di penuhi Sekar dan Sekar.
"Apa yang ibu bilang, ibu jangan mengada-ada deh, itu gak bener, suara tangisan itu palingan suara tangisan tetangga, bukan Sekar, dia udah meninggal gak mungkin dia nangis di mari" bantah keras pak Behry yang masih belum percaya pada ucapan bu Salamah.
Pak Behry masih diam di tempat, apa yang istrinya bicarakan benar-benar tak sesuai dengan logika, ia masih yakin bahwa suara itu bukan milik Sekar melainkan ada manusia yang menangis di tengah malam dan suaranya tak sengaja terdengar sampai ke rumahnya.
"Ibu, ibu jangan gegabah dulu, tenangin diri ibu dulu, percaya saja sama bapak, itu bukan suara hantu, itu suara manusia, mana ada hantu yang akan ganggu kita di dalam rumah, kalau di luar rumah bapak masih percaya, tapi kalau di dalam rumah bapak gak percaya sama sekali" ujar pak Behry, ia menganggap bahwa di dalam rumah merupakan tempat teraman untuk bersembunyi, ia belum tau bahwa hantu bisa saja mengganggunya di dalam rumah habis-habisan.
"Pak walaupun kita berada di dalam rumah tidak menutup kemungkinan hantu gak bakal masuk ke dalam, Sekar itu sekarang sudah menjadi hantu, dia bisa dengan mudah keluar masuk rumah orang, dia bukan maling pak, dia hantu, ingat dia itu hantu!" pertegas bu Salamah yang berhasil membuat pak Behry bungkam untuk sesaat.
Pak Behry mencerna baik-baik ucapan bu Salamah yang ada benarnya juga.
__ADS_1
"Emangnya ada bu yang di ganggu sama Sekar di dalam rumah, setau bapak gak ada tuh berita yang kayak gitu?" pak Behry masih belum mendengar berita ada warga yang di datangin Sekar di dalam rumahnya.
"Ada loh pak, ibu juga kemarin di ganggu di dalam rumah, Shila anak kita yang jatuh sakit sekarang ini itu gara-gara di ganggu sama Sekar di kamarnya saat dia pulang kerja, selain kami warga-warga sekitar juga di ganggu sama Sekar habis-habisan meskipun di dalam rumahnya, bapak tau bu Nilem kan?" kepala pak Behry mengangguk, ia tau jelas siapa itu bu Nilem karena biasanya bu Nilem selalu nongkrong bersama istrinya di rumah ini.
"Bu Nilem itu jatuh sakit gara-gara Sekar, dia di ganggu di dalam rumahnya, padahal posisinya dia bersama suaminya, namun tidak menutup kemungkinan bahwa Sekar gak akan ganggu dia" tambah bu Salamah yang membuat pak Behry semakin diam, pak Behry tak menyangka bahwa gangguan Sekar benar-benar sadis.
"Oh jadi bu Nilem akhir-akhir ini gak keliatan jatuh sakit gara-gara Sekar, bapak kira dia cuman sakit biasa, eh gak taunya ternyata Sekar juga yang sudah bikin dia sakit" pak Behry benar-benar terguncang dengan berita yang baru ia dapati dari istrinya hari ini.
"Nah mangkanya itu walaupun berada di dalam rumah kita masih tetap di ganggu sama Sekar, Sekar gak berhenti ganggu kita, dia akan tetap ganggu kita meskipun kita sembunyi di manapun, tapi setau ibu ada satu tempat yang gak akan di datangin sama Sekar, dia pasti takut mendatangi tempat itu" ujar bu Salamah dengan penuh keyakinan.
"Tempat apa itu bu?" penasaran pak Behry, ia ingin tau tempat yang bu Salamah maksudkan.
"Masjid, kemarin ibu sembunyi di sana, ibu gak di ganggu sama makhluk halus satupun saat bersembunyi di masjid, ayo sekarang kita sembunyi di masjid aja, rumah ini udah gak aman, hanya masjid aja tempat teraman untuk kita saat ini" ajak bu Salamah dengan was-was, ia khawatir Sekar tiba-tiba datang dan menghentikan niatnya.
"Tapi gimana dengan Shila bu, dia ada di dalam kamarnya, kalau kita ke masjid bagaimana dengan nasib Shila, bapak takut Shila akan di ganggu sama Sekar" kekhawatiran pak Behry.
"Gak akan itu pak, Shila itu dulunya temanan sama Sekar, gak mungkin Sekar akan ganggu dia, sekarang dia juga sudah tidur, gak akan ada makhluk halus yang bakal gangguin dia, ayo sekarang kita ke masjid sebelum terlambat" ajak bu Salamah yang tak bisa menunda-nunda waktu lagi.
Pak Behry pun akhirnya mau setuju dengan saran bu Salamah, ia pun bangkit dari tempat duduk dan dengan terburu-buru keluar dari dalam rumahnya.
Ketika pintu rumah itu terbuka alangkah kagetnya mereka saat Sekar tiba-tiba menunggu mereka di depan pagar, sorot mata Sekar benar-benar tajam, wajahnya yang teraliri darah berhasil membuat pak Behry dan bu Salamah ternganga.
"H-HANTU" jerit mereka dengan keras.
__ADS_1
Mereka yang ketakutan berlari pergi meninggalkan rumah itu dengan melewati samping rumah, mereka berusaha untuk menghindar dari Sekar yang sedang jadi-jadian dan tengah meneror warga-warga sekitar.
Sekar yang melihat mereka melarikan diri langsung terbang mengejar mereka, dua mangsanya tak akan ia biarkan lolos, mereka berdua merupakan musuh bebuyutannya yang paling ia benci di dunia ini selain juragan Doni dan juga bu Jamilah serta bu Sinab.