
"Anton apa yang aku bilang, Sekar itu memang benar gentayangan, dia jadi arwah penasaran dan tengah balas dendam sama warga sekitar" ujar Karan.
"Aku tetap gak percaya, aku yakin istri ku tidak akan seperti itu!" bantah keras pak Anton yang tidak akan percaya sama sekali kalau Sekar tengah gentayangan.
"Tapi Anton berita itu sudah jelas-jelas memang nyata, kamu gak dengar apa penjelasan ibu-ibu tadi, dia itu bilang yang sebenarnya, kamu harus percaya, kamu harus percaya kalau Sekar jadi hantu" tekan Karan kuat-kuat, ia terus berusaha menyajikan pak Anton kalau berita itu benar-benar nyata dan terbukti benar.
"Aku tetap gak percaya, kamu jangan banyak omong, karena aku gak akan percaya sama sekali pada kamu!" pertegas pak Anton tak main-main.
Karan menghela nafas berat."Terserah kamu mau percaya apa enggak, yang penting aku sudah bilang yang sebenarnya!"
Karan sudah lelah menyakinkan pak Anton yang keras kepala."Aku sudah pamitan sama bu Jamilah, dia izinin aku, sekarang aku mau ke rumah kamu, aku tunggu kamu di sana"
"Iya pergilah, sehabis selesai kerja aku akan langsung ke sana" Karan mengangguk, ia keluar dari dalam kantor dan berniat akan mengungsi di rumah sahabatnya untuk beristirahat.
Ketika tempat itu sepi pak Anton tiba-tiba menjadi pendiam, ia mencerna baik-baik ucapan Karan dan bu Misnati yang mengatakan kalau istrinya tengah gentayangan.
"Masa iya Sekar gentayangan, aku gak percaya"
Sekar yang mendengar ucapan suaminya diam seribu bahasa."Kenapa mas Anton terlihat gak suka kalau aku gentayangan, seharusnya dia senang karena aku bisa balas dendam sendiri, tapi nyatanya dia malah sedih"
Sekar kini bimbang, ia sangat takut suaminya marah dan kecewa padanya tentang apa yang dia lakukan pada desa ini, sungguh ia tidak akan kuat melihat suaminya kecewa dan bersedih.
"Aku gak percaya Sekar gentayangan, mereka semua pasti salah, pasti ada orang lain yang gentayangan dan itu jelas-jelas bukan Sekar!" pertegas pak Anton yang membuat Sekar semakin tak enak hati.
"Aku akan coba cari tau terlebih dahulu, aku gak boleh percaya gitu aja, aku harus pastikan langsung isu ini dari beberapa sumber" untuk membuatnya lebih percaya, pak Anton berniat akan mencari tau informasi tentang isu Sekar yang tengah gentayangan.
__ADS_1
Pak Anton mengesampingkan hal tersebut, ia kembali fokus pada pekerjaannya, ia ingin segera menyelesaikan itu semua.
Sekitar jam 5 sore akhirnya semua pekerjaan pak Anton selesai, pak Anton berjalan menuju rumahnya yang terbilang cukup jauh.
"Ibu-ibu, ibu-ibu tolong saya" teriak bu Rohani yang berlari terbirit-birit dengan wajah yang ketakutan.
"Ada apa bu, apa yang sudah terjadi sama ibu, kenapa tubuh ibu kotor semua" khawatir bu Nining melihat pakaian dan wajah bu Rohani yang kotor, wajah bu Rohani tampak panik dan takut, sesekali ia melihat ke belakang.
"Ibu-ibu tadi malam Sekar ngejar-ngejar saya, dia buat saya pingsan di jalanan setapak yang serem itu" tutur bu Rohani.
Seketika langkah pak Anton langsung terhenti, ia menatap ke arah ibu-ibu yang berada tak jauh darinya.
"Sekar, kenapa mereka bawa-bawa nama Sekar" batin pak Anton menatap ke arah mereka semua yang ada di gazebo.
"Ya ampun ternyata ibu di ganggu juga sama Sekar, saya kira cuman saya doang yang di ganggu" terkesiap bu Nining tak menyangka kalau bu Rohani juga telah di ganggu oleh Sekar.
"Ibu habis dari mana, kok di kejar-kejar sama Sekar?" penasaran bu Naima.
"Saya ceritanya mau balikin rantang milik bu Siti, tapi nasib sial menghampiri saya, saya malah ketemu saya Sekar di jalan" sahut bu Rohani yang masih begidik ngeri ketika teringat kejadian buruk yang menimpanya.
"Kenapa ibu pake nekat keluar rumah malam-malam, sudah jelas-jelas desa ini gak sama kayak dulu, sekarang itu lagi ada Sekar yang neror desa ini, satupun orang gak ada yang berani keluaran rumah, kenapa ibu berani!" tak habis pikir bu Salamah dengan tindakan bu Rohani.
"Saya mana tau bu, saya gak tau kalau hal ini akan terjadi, kalau seandainya saya tau lebih dulu mana mau saya keluaran rumah" jawab bu Rohani.
"Eh ibu-ibu kalian tau gak" seketika semua mata tertuju pada bu Maimun yang baru datang.
__ADS_1
"Ada apa lagi bu, apa ada berita terbaru?" penasaran bu Sinab.
"Jelas itu bu, saya bawa berita terbaru, kalau kalian dengar berita ini kalian pasti akan terkejut" jawaban bu Maimun malah semakin membuat para ibu-ibu lainnya penasaran.
"Berita apa itu bu, cepat kasih tau kami, kami ingin tau!" tak sabaran bu Hamiddeh.
Pak Anton menajamkan pendengarannya, ia juga penasaran dengan berita yang akan bu Maimun sebarkan.
"Suaminya bu Toya meninggal kecelakaan tadi malam, sekarang bu Toya sekeluarga ada di kampung halaman suaminya, jenazah suaminya di makamkan di sana" ujar bu Maimun memberitahukan hal itu dengan sangat menghayati.
"Inalillahi wa innailaihi rojiun" kaget mereka bukan main kala mendengar musibah yang telah menimpa teman sebangsa dan setanah air mereka.
"Pantesan aja bu Toya gak keliatan hari ini, ternyata dia memang gak ada di sini" sambung bu Nining.
"Kasihan ya bu Toya harus di tinggal suaminya padahal anaknya masih kecil banget" tambah bu Hamiddeh.
"Iya, kasihan banget bu Toya" sahut bu Rohani.
"Ibu tau dari mana kalau suaminya bu Toya meninggal dunia, ibu jangan ngarang cerita ya!" di sana hanya bu Salamah satu-satunya orang yang masih meragukan informasi yang sudah bu Maimun bawa.
"Saya dengar langsung dari pak Goni, karena dia yang tadi malam anterin bu Toya ke rumah sakit" jelas bu Maimun menyebarkan berita itu dengan sungguh-sungguh tanpa menambah-nambahkan cerita.
"Ya Allah kasihan banget bu Toya, dia pasti sedih banget karena baru kehilangan suaminya" turun berduka cita bu Naima.
"Iya, andai aja dia berada di sini, pasti kita bakal semangatin dia" timpal bu Rohani.
__ADS_1
"Kenapa ya kok jenazah pak Harun gak di tahlilin di sini dan malah di bawa ke kampung halamannya?" terheran-heran bu Hamiddeh.
"Kalau cuman di makamin di sini gak ada masalah, yang jadi masalah itu ketika di tahlilin di sini, secara logika mana ada orang yang mau datang mendoakan pak Harun, orang-orang pasti gak akan keluaran rumah, mereka takut sama Sekar" jelas bu Salamah yang begitu sangat resional.