
"Eh itu Sekar ya, kok perutnya besar" tunjuk bu Salamah yang melihat Sekar berjalan sendirian di depan rumahnya.
"Palingan Sekar hamil di luar nikah, mangkanya dia gak pernah kelihatan beberapa bulan ini" sahut bu Toya yang di pikirannya penuh dengan pikiran-pikiran buruk.
"Ya ampun Sekar memang bukan wanita baik-baik rupanya, lihat dia hamil di luar nikah" tidak habis pikir bu Nilem ketika melihat langsung perut Sekar yang membesar.
"Ini gak bisa di biarkan ibu-ibu, dia harus di usir dari desa ini, nama baik desa kita akan tercemar kalau sampai semua orang tau kalau Sekar hamil di luar nikah" heboh bu Salamah yang sangat tidak suka pada Sekar, dia akan menjadikan hal ini untuk mengusir Sekar dari desa ini.
"Setuju itu, ayo kita lapor sama pak RT, biar dia yang usir Sekar dari desa ini" ajak bu Nilem.
Mereka bertiga berbondong-bondong berangkat ke rumah pak RT, sesekali mereka menceritakan aib Sekar di jalan ketika berjumpa dengan warga desa.
Sekar tidak tau kalau nama baiknya sudah rusak, dia hanya terus berjalan pulang sendirian, sesekali dia berhenti karena kecapean.
Dengan tertatih-tatih Sekar berjalan pulang, rumah pak Anton sangat jauh dari permukiman warga, namun Sekar tidak menyerah, dia harus menanggung resiko keluar rumah sendirian.
tin
tin
tiiiiin
"Aaaaaaahhh!" teriak Sekar yang menutup matanya saat ada mobil yang dengan kencang akan menabraknya.
Mobil itu berhenti mendadak, Sekar bernafas lega, dia bersyukur tidak di tabrak oleh pengemudi mobil itu.
Sekar ketar-ketir, dia tidak asing dengan mobil putih itu, Sekar semakin ketakutan saat pemilik mobil itu keluar dari dalam mobilnya.
"Sekar kamu tidak apa-apa?" pemilik mobil itu mendekati Sekar dengan panik.
__ADS_1
"T-tidak apa-apa juragan, saya baik-baik saja, saya permisi dulu" Sekar tidak mau terlalu lama berdekatan dengan juragan Doni, dia ingin segera sampai di rumahnya.
"Tunggu dulu, kamu jangan pergi dulu" juragan Doni menghalangi Sekar yang akan pergi.
"Saya ingin pergi juragan, lepasin saya!" teriak Sekar yang terus overthinking pada juragan Doni.
Juragan Doni memegang erat tangan Sekar, matanya terus fokus pada perut Sekar yang besar, tangan kanan juragan Doni bergerak akan memegang perut Sekar.
Dengan cepat Sekar menepisnya, dia tidak sudi perutnya di pegang oleh juragan Doni.
"Jangan pegang-pegang perut saya!" tegas Sekar yang wataknya berubah semenjak ia hamil, ia tidak mau menjadi wanita lemah lagi yang bisa di tindas dengan mudah oleh orang lain.
Juragan Doni menatap Sekar dengan tidak percaya, Sekar yang dulu merupakan gadis penakut dan lemah berubah menjadi Sekar yang tegas dan galak dan itu terjadi semenjak Sekar hamil.
"Ikut saya!"
"Juragan lepasin saya, jangan bawa saya, saya ingin pulang, saya tidak mau ikut sama juragan!"
"Tolong lepaskan saya juragan!"
Juragan Doni tidak mempedulikan Sekar yang terus berteriak-teriak, dia dengan paksa memasukkan Sekar ke dalam mobil.
"Turunin saya juragan, saya gak mau ikut sama juragan, saya mah pulang!" teriak Sekar terus menerus, ia takut juragan Doni melakukan sesuatu di luar dugaannya.
"Saya gak mau ikut sama juragan, tolong biarkan saya pulang, saya bisa pulang sendiri!"
"Saya nanti akan antar kamu pulang, kamu tidak perlu khawatir, sudah diam saja!"
Sekar tidak bisa diam, dia terus memberontak, dia tidak mau ikut sama juragan Doni, dia kini menyesal keluar rumah, andai dia tau kalau akan bertemu juragan Doni di jalan dia pasti gak akan mau keluar rumah.
__ADS_1
Juragan Doni tidak mempedulikan Sekar yang terus menerus berteriak-teriak, dia tidak terkecoh sama sekali dan terus mengemudikan mobil.
"Berhenti juragan, saya tidak mau ikut sama juragan, saya ingin pulang, tolong lepasin saya!" teriak Sekar sekali lagi.
Mobil itu langsung berhenti tepat di ladang, juragan Doni keluar dari mobil, dia membuka pintu untuk Sekar.
"Ayo keluar!"
"Juragan mau ngapain, kenapa juragan bawa saat ke sini, saya itu ingin pulang, saya gak mau ke sini!"
"Saya cuman ingin bicara sama kamu, saya janji saya tidak akan ngapa-ngapain kamu, kamu tidak usah takut sama saya lagi"
Terbesit rasa curiga di hati Sekar, namun terpaksa Sekar mau keluar dari dalam mobil juragan Doni.
Sekar berjalan di pematang mengikuti juragan Doni, warga-warga yang bekerja di ladang menatap ke arah Sekar yang hamil besar, mereka berpikir yang macem-macem, mereka merasa Sekar hamil sama juragan Doni karena dulu Sekar selalu di panggil ke kantor sama juragan Doni.
Sekar menunduk, di gosipin yang aneh-aneh seperti itu membuat Sekar merasa tak nyaman, ingin sekali dia membungkam mulut mereka yang terus saja menghinanya namun saat ini bukan waktunya dia melakukan itu semua.
Sekar dan juragan Doni berada di kantor, Sekar tidak tau apa yang akan juragan Doni lakukan padanya.
"Apa yang ingin juragan bicarakan, katakan saya tidak punya banyak waktu!" ketus Sekar yang tidak ingin lama-lama berada di sini.
"Kamu kemana saja selama ini, saya sudah mencari kamu kemana-mana, tapi kenapa kamu tidak ada" akting juragan Doni, padahal dia sudah tau kalau Sekar menikah dengan pak Anton tak lama setelah mereka bercerai.
"Untuk apa juragan nyari saya, kita sudah tidak punya hubungan apapun, jadi stop ganggu hidup saya, saya sudah bahagia sekarang, jangan pernah berusaha buat hancurin rumah tangga yang sudah saya bangun dengan sudah payah!" Sekar tidak menjawab dengan santai, dia terus emosi, sudah lama dia ingin melakukan ini semua pada orang yang sudah menghancurkan hidupnya.
"Walaupun kita sudah tidak punya hubungan apapun, tetapi anak yang ada di dalam kandungan kamu adalah anak saya, dia darah daging saya, walaupun sekeras apapun kamu menjauhkan kami, kami tetap sedarah!" tunjuk juragan pada perut Sekar yang besar.
Sekar tersenyum mengejek."Anak yang juragan bilang? hei juragan, apa juragan lupa bagaimana juragan menolaknya mentah-mentah, apa juragan lupa sama hari di mana saya berusah menjelaskan kalau anak yang saya kandung adalah anak juragan dan apa yang juragan lakukan, juragan malah mencambuk saya, mengurung saya tanpa di beri makan sedikitpun, saya waktu itu hampir mati, kalau tidak ada pak Anton yang nolongin saya, mungkin saya sudah tidak ada di dunia ini lagi!" Sekar mengingatkan tindakan buruk juragan Doni padanya yang hampir membuatnya tewas.
__ADS_1