
Shila yang baru pulang dari tempat kerja langsung melakukan perjalanan pulang menuju rumahnya yang terbilang lumayan jauh, ia tidak merasa takut sama sekali karena pada malam-malam sebelumnya tidak pernah ada gangguan yang menerjangnya.
Shila dengan santai mengemudikan motornya yang ia beli dengan hasil kerja kerasnya.
Motor itu kini telah masuk ke dalam jalanan desa yang sepi dan hening, di tengah heningnya suasana tiba-tiba hembusan angin sepoi-sepoi menerpa tubuh Shila.
Biasanya angin sepoi-sepoi membuat hati terasa lega, tapi kali ini entah kenapa rasanya berbeda, angin sepoi-sepoi yang menerpa malam ini malah membuat bulu kuduk Shila berdiri semua.
Shila menelan ludah pahit."Kok gini ya, kenapa suasana malam ini jadi kayak gini, apa yang telah terjadi sama desa ku, memang sih aku dengar ada hantu yang gentayangan, tapi masa dia akan ganggu aku, aku kan gak ikut-ikutan hina dia apalagi cari gara-gara sama dia" batin Shila.
Shila tetap mengendari motornya tanpa henti, ia sesekali menoleh ke kanan dan kiri yang terasa merinding sebab tak ada seorang pun yang ia temukan.
Shila tiba-tiba menghentikan motornya saat di hadapannya adalah jalanan suram.
"Ini jalanan suram itu, kok aku takut ya lewat jalanan ini, tapi gak ada jalanan lain lagi kalau bukan jalanan ini" di dalam kegelapan malam Shila mendadak menjadi merinding.
"Tapi gimana kalau semisal ada hantu yang aku temui di jalanan itu, aku gak mau ketemu sama hantu, terus apa yang akan lakukan ini, gak mungkin aku diam aja di sini, sampai pagi pun aku gak sampai di rumah kalau begini terus" Shila tak bisa tenang, ia belum yakin untuk melewati jalanan suram yang menjadi penghalangnya saat ini.
Kukk
Suara burung hantu berbunyi dengan sangat nyaring, saking nyaringnya suaranya membuat bulu kuduk Shila berdiri semua.
"Kenapa pake ada burung hantu segala, aduh gimana ini, aku pengen cepat-cepat sampai di rumah, aku gak tahan berada di sini terus menerus" Shila menggigit bibir bawahnya dengan tubuh yang mulai ketakutan.
"Aku telpon ibu aja, aku suruh dia ke sini, aku yakin dia pasti akan mau" Shila mengambil hpnya dan menghubungi bu Salamah untuk meminta bantuan, ia tak bisa melewati jalanan itu sendirian dalam tubuh yang bergetar seperti ini.
tutt
__ADS_1
tutt
tutt
"Ayo bu angkat, tolongin Shila ibu, tolong jemput Shila, Shila takut berada di sini sendirian, Shila mohon bu, tolong jemput Shila, Shila gak mau mati kutu di sini" titah Shila dengan tak sabaran, ia sungguh tak tahan berada di tempat itu sendirian.
Kukk
Shila menelan ludah pahit mendengar suara burung hantu yang semakin lama semakin membuatnya merinding.
"Ibu tolongin Shila, Shila takut di sini" rasanya Shila ingin menangis di sana, namun dengan menangis itu semua tidak akan bisa mengembalikan keadaan.
"Aaahh kenapa ibu gak angkat telpon aku, pergi kemana dia, masa iya dia tidur jam segini, dia gak mungkin tidur di jam segini, dia pasti sengaja gak akan telpon aku, awas aja nanti, aku akan ngambek!" greget Shila di tengah jalan sendirian.
"Gak tau apa kalau Shila takut berada di sini sendirian, Shila ingin pulang bu, Shila gak mau ada di sini, gimana caranya Shila pergi dari sini, gak ada jalanan lain lagi yang bisa Shila lewati" jantung Shila terus memompa dengan kencang, wajah semakin kama semakin memucat.
Kukk
"Aku harus pergi dari sini, aku gak bisa lama-lama berada di sini, kalau aku gak pergi burung hantu itu akan terus berbunyi dan akan bikin aku makin ketakutan" Shila memiliki keinginan untuk pergi dari sana.
"Tapi untuk melewati jalanan suram apakah aku akan bisa?" tampak ragu Shila.
"Malam-malam sebelumnya aku bisa kok, malam ini aku juga pasti bisa, aku harus yakin kalau aku bisa lewati jalanan suram dengan lancar tanpa hambatan, aku yakin itu" keyakinan Shila.
Dalam keadaan yang seperti ini Shila harus membulatkan tekadnya untuk bergerak menerobos kegelapan, ia harus bisa sampai di rumah meskipun yang menjadi rintangannya adalah hantu sekalipun.
Shila megambil nafas dalam lalu membuangnya secara pelan-pelan.
__ADS_1
"Huft aku bisa, aku pasti bisa, jika orang bisa, aku juga pasti bisa" semangat berkobar di diri Shila.
Shila menghidupkan motornya kembali, dengan yakin ia melajukan motornya memasuki jalanan suram yang di kelilingi kuburan, hawa merinding langsung menyerang Shila namun dirinya tetap diam dengan pandangan lurus ke depan, ia tidak mau mencari masalah dengan menoleh ke kanan dan kiri yang jelas-jelas adalah kuburan massal.
Di jalanan suram itu hanya Shila seorang yang melintas, Shila berusaha menyakinkan dirinya bahwa dia bisa keluar dengan selamat dari jalanan itu.
"Kenapa jalanan ini seseram ini, biasanya gak kayak gini, kenapa malam ini suasana jalanan kayak begini, perasaan malam-malam sebelumnya gak pernah kayak gini, emangnya hari apa ya" batin Shila mengingat-ingat hari ini.
"Malam ini malam Jumat, pantesan aja suasan jalanan sejak tadi tampak suram, kenapa aku oake lupa kalau malam ini malam Jumat, tau gini kan aku lewat desa sebelah yang memang jauh tapi aman dari pada lewat jalanan suram ini" batin Shila yang. menyesali segalanya.
Di saat motor itu melaju dengan kencang, di pertengahan jalan motor itu terasa berat, padahal Shila seorang yang mengemudikan motor itu.
"Kok berat ya, gak biasanya kayak gini" batin Shila mulai tidak aman.
Shila yang merasakan berat di motornya melirik spion, dengan cepat ia membuang muka ke arah lain saat tau kalau di belakangnya ada seorang laki-laki yang tubuhnya terbungkus dengan kain kafan tengah duduk dengan tenang.
Wajah laki-laki hitam legam, bau busuk menyengat saat Shila tau bahwa uang ia biceng adalah makhluk halus.
"Kenapa pake ada pocong yang ikut nebeng segala, gak tau apa kalau aku penakut" batin Shila menjadi tidak fokus mengemudikan motornya.
Shila berusaha untuk tetap tenang, ia berlagak seperti orang yang tidak tau apa-apa, ia tidak mau pocong itu sadar bahwa dirinya telah menyadari kalau pocong itu menebengnya pulang.
"Ibu tolong aku, aku gak mau begini, tolong jemput aku, lihat di belakang aku ada pocong, gimana caranya aku nyingkirin dia" batin Shila yang ketar-ketir.
Pocong itu diam di tempat, ia tidak pernah mengganggu warga sebelumnya, ini adalah kali kedua baginya mengganggu warga, ia melakukan ini karena bersekongkol dengan Sekar.
Bau busuk yang keluar dari tubuh pocong itu semakin lama semakin menjadi-jadi, Shila tidak tahan dengan baik sebusuk itu, ia pun menahan nafas agar bau busuk itu tak tercium lagi.
__ADS_1
Karena sudah tau bahwa yang nebeng di belakangnya adalah pocong, Shila pun mencap gas agar bisa keluar dari jalanan suram itu.