
Sekar puas sekali karena malam ini semua orang-orang yang sudah mengusik ketenangannya ketika ia masih hidup pelan-pelan mulai terbalaskan, satu pun di antara mereka tidak ada yang bisa mengusirnya.
Teror yang sudah Sekar lakukan untuk desa ini masih terbilang tingkat bawah, akan Sekar lakukan teror yang lebih dahsyat dan ekstrim lagi biar mereka bisa merasakan sakitnya penyesalan.
"Akhirnya aku pun puas, mereka semua ketakutan melihat ku, itu yang aku mau, sekarang mereka tau rasa kan, suruh siapa dulu mereka jahat banget!" geram Sekar.
Dendam masih berkobar jelas di mata Sekar, hanya karena satu orang semua kebahagiaan Sekar lenyap, tapi dampaknya ke seluruh desa anggrek, kesalahan bu Jamilah membuat seluruh warga harus menanggung pahitnya hidup dengan di teror kuntilanak.
"Lihat aja kalian semua ya, aku akan ganggu kalian sampai kalian gak ada yang berani keluaran rumah, baik itu siang maupun malam!" pertegas Sekar tak main-main.
Kuntilanak yang tadi mambantu Sekar untuk mengganggu warga-warga menghampiri Sekar yang tengah duduk dengan tenang di ranting pohon.
"Gimana, kamu udah jalanin perintah aku kan?" kuntilanak itu mengangguk, dia sudah menjalankan tugas yang sudah Sekar berikan.
"Sudah, mereka sudah aku bereskan, mereka rata-rata jatuh pingsan saat liat aku, aku jamin mereka gak akan berani lagi sama kamu" ujar kuntilanak.
Sekar tersenyum gembira, saat menjadi arwah banyak tawa yang menghiasi wajah Sekar, saat ia masih hidup banyak sekali beban dan pahitnya kehidupan yang terus ia jalani, kini sudah waktunya dia bahagia.
"Terima kasih udah bantu aku, kalau gak ada kamu pasti jam segini aku belum berhenti neror orang-orang kampung" Sekar sungguh berterima kasih pada kuntilanak itu, berkat dia, pekerjaannya lebih singkat.
"Iya sama-sama"
"Oh ya kamu kenapa ada di kampung ini, kamu masih baru apa gimana?" amat penasaran Sekar pada kronologi kuntilanak itu, sebelumnya ia tidak pernah mendengar ada wanita hamil yang di bunuh ataupun meninggal.
__ADS_1
"Aku udah 5 tahun ada di sini, aku gak meninggal di sini, tapi aku suka aja tinggal di sini" jelas kuntilanak yang bernama Kiki.
"Oh tak kirain kamu meninggal di sini" terkejut Sekar mendengar penjelasan Kiki.
"Enggak, aku gak meninggal di sini, aku cuma tinggal di sini aja, oh ya kamu kenapa mau balas dendam sama warga dengan cara membuat desa ini jadi angker?" penasaran Kiki.
Wajah Sekar tertunduk sedih."Aku ingin balas dendam sama mereka semua, mereka selama ini selalu mengusik ketenangan ku, kali ini aku yang akan bikin kehidupan mereka di selimuti rasa takut"
Sekar tidak akan berhenti mengganggu warga-warga desa, ia tidak akan pergi sebelum dendamnya terbalaskan.
"Aku akan bantu kamu, aku akan selalu berpihak sama kamu" Sekar mengangguk senang, setidaknya dia memiliki teman yang sebangsa dengannya, mungkin setelah ini ia bisa leluasa bergerak menakut-nakuti warga.
"Terima kasih" Kiki mengangguk, ia ikhlas membantu Sekar, malahan dia mendapatkan kepuasan tersendiri ketika melihat orang-orang tertekan dengan keberadaannya.
"Aku mau pergi dulu, kamu bisa bebas sekarang, nanti kita ketemu lagi di sini" kuntilanak itu mengangguk, Sekar kemudian menghilang dari sana.
Wajah pak Anton terus saja murung dan sedih semenjak kehilangan istrinya, ia sudah tidak semangat untuk hidup lagi, namun karena ingin balas dendam ia mau tidak mau harus tetap tegar.
Sekar menatap wajah suaminya yang terlelap dengan memeluk batu nisan, pak Anton memang sering tidur di kuburan menemani istrinya.
"Mas aku sudah balas dendam, kamu tidak perlu capek-capek balas dendam, aku sendiri yang akan turun tangan, aku akan bikin mereka-mereka yang sudah merusak kebahagiaan kita hidup dalam ketakutan" janji Sekar.
Sekar menemani suaminya di sana, ia akan menjaga pak Anton sebaik mungkin, tidak akan dia biarkan terjadi sesuatu pada suaminya, cukup dia saja yang di perlakukan tak baik oleh warga sekitar.
__ADS_1
Matahari bersinar, kegelapan menyingkir dengan perlahan-lahan, tapi Sekar tetap diam di tempat, ia tidak bergerak sama sekali, di hatinya ia begitu merindukan suaminya, ia hanya bisa menatapnya tapi tidak dengan suaminya.
"Anton, Anton bangunlah, ini sudah pagi!" teriak Karan membangunkan pak Anton yang tengah terlelap di kuburan.
"Anton bangunlah, ini sudah pagi!" teriak Karan sekali lagi.
Mata pak Anton menggeliat, dengan malas ia menatap sahabatnya yang selalu mengacaukan hidupnya.
"Ada apa, kenapa kamu bangunin aku, ini masih pagi?" dengan suara serak pak Anton bertanya pada Karan.
"Kamu sudah lama ada di sini, sekarang waktunya kamu balik ke desa anggrek" suruh Karan.
"Aku tidak mau, aku masih mau di sini Karan, aku masih belum siap bertemu dengan iblis itu" tolak pak Anton yang masih belum bisa berkompromi dengan keadaannya.
"Iya aku tau kamu masih belum siap, tapi mau tidak mau kamu harus siap, kalau kamu terus menerus ada di sini, dendam kamu tidak akan terbalaskan, ayo kamu harus mulai balas dendam, kamu jangan diam saja!" pak Anton diam, ia berpikir keras, ia sebenarnya masih belum siap untuk balik ke desa anggrek tempat di mana ia kehilangan istrinya, namun ia memiliki keinginan balas dendam terhadap bu Jamilah, selaku orang yang tega membunuh istrinya.
Karan menyadari kalau pak Anton masih ragu untuk kembali ke sana."Anton ini kesempatan bagus, kamu jangan lewatkan kesempatan emas ini, kamu harus balik ke sana lagi, kamu harus bisa balas dendam, mumpung bu Jamilah masih ada di desa anggrek, kalau dia sudah pergi jalan-jalan, 1 tahun dia tidak akan balik-balik ke desa itu lagi"
Pak Anton menarik nafas berat."Baiklah, aku akan kembali ke sana lagi, tapi kamu harus kembali bersama ku, kamu kan belum pamitan sama bu Jamilah kalau kamu mau berhenti kerja"
"Iya, aku akan kembali juga ke sana, aku mau pamitan secara langsung sama bu Jamilah, ayo kita siap-siap, kita harus segera sampai di sana" ajak Karan yang di balas anggukan pak Anton.
Kedua sahabat itu melangkah meninggalkan kuburan, Sekar mengikuti mereka dari belakang.
__ADS_1
"Mas nanti kamu akan mendengar semua berita-berita tentang desa anggrek, kamu pasti akan bahagia" Sekar sudah tak sabar suaminya tau tentang situasi dan kondisi desa anggrek sejak kematiannya.
Pak Anton dan Karan bersiap-siap untuk berangkat kembali ke desa anggrek yang letaknya lumayan jauh, sampai detik ini tidak ada yang tau kalau mereka berdua berteman sejak kecil, bu Jamilah dan juragan Doni tidak ada yang mengetahui hubungan mereka karena mereka memang merahasiakannya.