
"Hihihihihihihi" Sekar terus mengeluarkan tawa seramnya sambil berjalan di jalanan desa yang sepi, ia tidak puas meskipun sudah banyak orang yang berhasil ia ganggu malam ini.
Sekar masih ingin mengganggu orang-orang desa, khususnya orang-orang yang sudah menghinanya selama ini.
"Hihihihihihihi"
"Hihihihihihihi"
"Hihihihihihihi"
Suara tawa Sekar semakin lama semakin keras, siapapun yang belum tidur di jam 1:14 pasti mendengar tawa seram Sekar.
"Hihihihihihihi"
"Hihihihihihihi"
"Hihihihihihihi"
Berulang kali Sekar tertawa di jalanan sambil berjalan, dia mencari mangsa untuk dia ganggu.
Tiba-tiba Sekar menghentikan langkah, dari kejauhan dia melihat bu Nilem yang baru pulang bergosib di rumah bu Salamah.
Bu Nilem berjalan sendirian, tidak ada orang di jalanan selain dia.
"Mangsa lagi, aku harus ganggu dia juga, dia selama ini adalah orang yang sudah hina-hina aku, kini akan aku balas semuanya sampai ke akar-akarnya" sinis Sekar menatap punggung bu Nilem yang berjalan di depan.
Sekar mengikuti bu Nilem yang baru berpisah dari teman-temannya, kesehariannya ia selalu bergosib bersama bu Toya dan bu Salamah, baik itu siang hari maupun di malam hari.
Bu Nilem pulang ke rumahnya yang lumayan jauh dari rumah bu Salamah, dia berjalan sendirian, ia tidak merasa takut sama sekali karena sudah biasa ia pulang sendirian malam-malam begini.
Wussshhhh
Angin kencang tiba-tiba lewat, semua daun-daun bergerak, bu Nilem menghentikan langkahnya, ia melihat sekelilingnya yang tampak kosong.
__ADS_1
"Kok aku merasa merinding ya, biasanya gak kayak gini, pas aku pulang dari rumah bu Salamah juga biasanya baik-baik saja, kenapa malam ini berubah, kenapa aku ngerasa malam ini suasana desa jadi mencekam!" merasa merinding bu Nilem dengan menyentuh tengkuknya.
Bu Nilem melihat sekeliling, namun tetap aja tidak ada apapun, di sana hanya ada dia seorang, satupun orang tidak dia di jalan.
"Kayaknya ini cuman perasaan aku saja, lebih baik aku cepat-cepat pulang dari sini, gak aman berada di luar malam-malam"
Bu Nilem yang merasa merinding berjalan pulang ke rumahnya dengan terburu-buru, malam ini ia percaya kalau suasananya berubah total, entah apa yang sudah membuat suasana desa menjadi tambah mencekam.
Sekar yang iseng dan memiliki dendam pribadi pada trio ondel-ondel itu mengikuti salah satu di antara mereka, akan dia buat anggota trio ondel-ondel itu menderita, mereka selama ini selalu mencari gara-gara dengannya, kali ini ia akan balas semua yang mereka lakukan padanya.
Bu Nilem semakin ketakutan, ia merasa ada orang yang mengikutinya dari belakang.
Bu Nilem tercekat ketika melihat ada bayangan lagi selain bayangannya, ia semakin gelisah, namun ia tak berhenti berjalan, dengan terburu-buru dia pulang ke rumahnya.
"Matilah aku, siapa yang ikutin aku dari belakang, apa jangan-jangan yang ikutin aku hantu!" batin bu Nilem tercekat.
Hanya hantu yang ada di pikirkan bu Nilem saat ini, menurutnya tidak akan ada orang iseng yang mau mengikutinya di tengah malam seperti ini.
Dalam keadaan tubuh yang di selimuti rasa takut bu Nilem terus berjalan menuju rumahnya yang jaraknya masih jauh, entah kenapa malam ini bu Nilem sulit untuk melangkah, rumahnya terasa sangat jauh, padahal malam-malam sebelumnya tidak seperti ini.
"Siapa yang sudah ikutin aku, hantu mana yang sudah ikutin aku pulang, apa jangan-jangan hantu baru di desa ini" batin bu Nilem yang mulai overthinking.
"Tapi siapa yang mati baru-baru ini, perasaan di desa ini gak ada yang meninggal, kok bisa ada hantu yang gentayangan dan ikutin aku pulang" batin bu Nilem berusaha mengingat-ingat siapa yang baru-baru ini meninggal dunia.
"Ya ampun Sekar, kenapa aku lupa padanya, tapi masa iya dia yang ganggu aku dan ikutin aku pulang, dia gak akan berani lakuin itu sana aku, saat dia hidup saja dia gak berani sama aku, apalagi ketika dia sudah mati, pasti dia makin gak berani" batin nu Nilem yang merasa dirinya paling hebat sehingga Sekar akan terus menerus takut padanya.
"Tapi bisa jadi Sekar yang jadi hantu, di desa ini hanya dia seorang yang meninggal dunia, meninggalkannya juga tragis, ada kemungkinan besar dia jadi hantu" batin bu Nilem terus merasa merinding saat ada orang misterius yang mengikutinya dari belakang.
Bu Nilem yakin kalau ada orang yang mengikutinya dari belakang, ia penasaran sekali siapa yang sudah mengikutinya, ia menghentikan langkah dan menghadap ke belakang untuk tau siapa yang berada di belakangnya.
"Gak ada siapapun, tapi aku yakin banget kalau ada orang yang ikutin aku, tapi kenapa pas aku balik ke belakang gak ada siapapun" merasa aneh bu Nilem saat tidak menemukan makhluk halus ataupun manusia di belakangnya padahal jelas-jelas ada orang yang mengikutinya dari belakang.
"Masa iya ini cuman perasaan aku aja, tapi gak mungkin, orang yang ikutin aku itu kayak nyata banget, gak mungkin ini cuman perasaan aku saja" bu Nilem melihat sekelilingnya, lagi-lagi tidak ada apapun yang dia temukan.
__ADS_1
Bu Nilem kembali berjalan, ia kembali merasa ada orang yang mengikutinya, dengan cepat dia menghadap ke belakang, ia penasaran sekali siapa yang sudah mengikutinya sejak tadi.
"Kosong, tidak ada siapapun yang ikutin aku, tapi kenapa pas aku jalan kayak ada orang yang buntuti aku" heran bu Nilem yang semakin ketakutan tanpa sebab.
"Makin gak benar aja desa ini, aku harus cepat-cepat sampai di rumah, aku tidak mau ada di sini terus menerus"
Dengan secepat kilat bu Nilem berjalan pulang ke rumahnya yang sudah tak seberapa jauh lagi.
Sekar tidak mengikuti bu Nilem, dia hanya menatap punggung bu Nilem dengan tatapan tajam dan senyuman sinis.
Terlihat bu Nilem yang berjalan dengan tergesa-gesa, ia ketakutan hebat saat merasakan ada orang yang mengikutinya dari belakang.
Sekar melesat cepat dan menebus tubuh bu Nilem.
Bu Nilem langsung terjatuh, kepalanya terbentur ke jalan aspal, darah mengalir deras di kepalanya.
Bu Nilem yang lagi kesakitan menatap ke arah siapa yang berada di depannya.
"S-sekar" kaget bu Nilem melihat Sekar yang berdiri di depannya dengan senyuman menyeringai.
"Iya ini saya, bagaimana kabar bu Nilem, apakah hari mu baik?"
Bibir bu Nilem bergetar hebat, orang yang sudah mati dua hari yang lalu kini ia lihat dengan mata kepalanya sendiri.
"H-HANTU" teriak bu Nilem yang langsung bangkit dari jatuh dan berlari terbirit-birit dari sana.
"Huaaa hantu, di sana hantu!" teriak bu Nilem berlari menjauhi Sekar yang masih diam di tempat, ia tidak mempedulikan rasa sakit di kepalanya yang terpenting itu dia harus segera sampai di rumahnya.
"Dia jadi hantu, tolooong, tolongin aku dari dia" teriak bu Nilem histeris.
Sekar menatap punggung bu Nilem yang lari ketakutan, ia tersenyum dan tertawa terbahak-bahak karena pada akhirnya satu persatu orang yang selalu membuatnya menderita ia balas.
"Syukurin itu, suruh siapa selalu gangguin aku, sekarang aku yang akan ganggu kamu, ini masih permulaan ibu Nilem, besok aku akan ganggu kau dan teman-teman jahanam mu itu, akan aku buat kalian semua menderita!" tegas Sekar tidak main-main.
__ADS_1