Kuntilanak

Kuntilanak
Melabraknya


__ADS_3

Keesokan harinya.


Sekar terbangun dari tidurnya, dia dengan cepat langsung bersiap-siap untuk berangkat kerja, dia sudah kangen berkerja di ladang juragan Doni lagi, meskipun tempat kerjanya itu adalah tempat di mana dia terluka sedalam lautan.


Sehabis selesai bersiap-siap Sekar keluar dari kamarnya.


"Sekar ayo kita makan di warung bu Nurma, kamu belum makan kan?"


"Belum pak"'


"Ayo kita ke sana, nanti saya yang traktir"


Sekar menerima tawaran pak Anton, dia dan pak Anton berangkat ke warung bu Nurma untuk sarapan terlebih dahulu sebelum berangkat kerja.


Di saat mereka berdua makan dengan tenang di sana, banyak ibu-ibu yang tukang gosib membicarakan mereka dari jarak jauh, mereka juga akan membeli makanan di warung bu Nurma namun terjeda saat melihat adegan series yang terjadi di depan mata mereka.


Sekar dan pak Anton tidak sadar sama sekali kalau sedari tadi ada orang yang sudah memperhatikan mereka, setelah selesai makan mereka berangkat ke ladang juragan Doni bersama-sama.


Para ibu-ibu tukang gosib itu langsung memenuhi warung makan milik bu Nurma yang terletak di pinggir jalan, tepat di depan rumahnya sendiri.


"Bu Nurma itu tadi pak Anton sama Sekar ya" memastikan bu Salamah yang menatap sekilas punggung pak Anton dan Sekar yang menjauh dari sana.


"Iya bu itu pak Anton sama Sekar"


"Kok Sekar main berani aja ya, dia itu gak sadar diri apa bagaimana sih, dia dan pak Anton itu beda segala-galanya, kenapa dia masih nekat dekatin pak Anton!" tak habis pikir bu Toya yang emosinya mulai naik.


"Iya, dia benar-benar gak tau malu sama sekali" sahut bu Nilem yang juga tidak suka pada Sekar.


"Ini tidak bisa di biarkan ibu-ibu, dia itu harus di permalukan biar dia sadar, percuma kita nasehatin dia, tidak akan mempan" usul bu Salamah sang provokator.

__ADS_1


"Iya benar itu bu, ayo kita sekarang ke ladang juragan Doni, kita harus buat pak Anton sadar, dia gak boleh terus menerus di guna-guna sama Sekar kayak gitu" sahut bu Toya yang sudah tidak sabar untuk melabrak Sekar.


"Ayo-ayo sekarang kita ke sana" ajak bu Nilem semangat.


Mereka bertiga berangkat ke ladang juragan Doni, mereka akan melabrak Sekar hari ini, bu Nurma yang mendengar rencana mereka hanya bisa geleng-geleng kepala, dia tidak ikut-ikutan dalam tindakan mereka.


Sementara di ladang Sekar bekerja seperti pada umumnya, dia bekerja dengan tenang karena tidak ada juragan Doni di sana, dia bisa bernafas lega untuk sesaat.


Di saat Sekar tengah fokus bekerja tiba-tiba.


"Sekaaar!" teriak bu Salamah yang langsung ngegas.


Sekar dengan terkejut menatap ke arah bu Salamah dan kedua ibu-ibu lainnya yang juga berada di sana.


"Iya ada apa bu?"


Plakk!


Orang-orang yang berada di sana juga sangat terkejut dengan tindakan bu Salamah, mereka berhenti bekerja dan melihat ke arah mereka semua.


"Kamu ini sudah kami peringati masih saja ngeyel!" bu Salamah langsung marah-marah, Sekar bingung kenapa bu Salamah seperti itu padanya.


"Maksud ibu apa, kenapa ibu marah-marah sama saya, salah saya di mana?"


"Kamu jangan pura-pura lagi, kamu itu benar-benar gak punya harga diri apa bagaimana!"


Sekar mengerutkan alis, dia menatap bu Salamah dengan tatapan tak mengerti.


"Apa yang ibu maksud sebenarnya, apa salah saya, kenapa ibu nampar saya?"

__ADS_1


"Kamu jangan pura-pura gak tau, kamu guna-guna pak Anton ya!" tuduh bu Salamah.


"Demi Allah saya tidak pernah melakukan itu semua bu" Sekar langsung terkejut kala tau alasan bu Salamah yang tiba-tiba datang-datang dan langsung marah-marah.


"Halah kamu jangan ngelak Sekar, udah ngaku aja kalau kamu sudah guna-guna pak Anton sampai pak Anton nempel terus sama kamu!" sahut bu Toya yang sangat sirik sama Sekar.


"Tapi beneran bu, saya gak pernah guna-guna orang, apalagi pak Anton, dia kan atasan saya, mana mungkin saya guna-guna pak Anton, gak ada gunanya juga" Sekar membela diri dia tidak kau diam saja karena berita itu akan menjadi panjang kalau dia diam begitu saja.


"Kalau kamu gak guna-guna pak Anton, mana mau pak Anton dekat-dekat sama kamu, pasti kamu sudah guna-guna dia, kamu pasti pake ilmu hitam, ngaku gak kamu sekarang, jangan pura-pura lagi!" hardik bu Salamah yang terus memaksa Sekar untuk mengakui perbuatan yang tidak pernah dia lakukan sama sekali.


"Saya tidak melakukan hal itu bu, ibu jangan asal tuduh, ini semua fitnah, saya tidak pernah sekalipun guna-guna orang!"


"Sekar udahlah ngaku aja, kamu itu sudah tertangkap basah, gak usah ngelak lagi!" sahut bu Nilem yang terus memojokkan Sekar, seakan-akan di sini dia yang salah.


Orang-orang yang ada di ladang juragan Doni bisik-bisik, mereka percaya pada ucapan bu Salamah dan kawan-kawannya yang bilang hal tak benar itu tanpa mencari tau kebenarannya terlebih dahulu.


"Saya tidak mau ngaku, karena saya tidak pernah ngelakuin itu semua, ibu jangan main fitnah saya begitu saja!" kali ini Sekar tidak mau diam saja, sudah cukup dia diam saat di hina oleh orang-orang di desa ini.


Plakk!


Sekali lagi bu Salamah menampar keras wajah Sekar, Sekar memegangi pipinya yang merah dan panas, ujung bibir Sekar berdarah akibatan tamparan keras itu.


"Kamu itu masih aja ngeles, ngaku gak sekarang, bilang sama kita dukun mana yang sudah bantu kamu untuk bisa dapat ilmu hitam itu hah!" hardik bi Salamah.


"Ada apa ini?"'


Pandangan mereka semua tertuju pada pak Anton yang baru keluar dari dalam kantor karena mendengar keributan yang terjadi di ladang.


"Ini pak, Sekar ternyata guna-guna bapak, mangkanya bapak mau dekat-dekat sama dia!" jawab bu Salamah.

__ADS_1


Pak Anton mengerutkan alis."Guna-guna saya? tapi saya tidak merasa di guna-guna, di sini tidak ada siapapun yang guna-guna saya, ibu salah informasi, saya gak di guna-guna sama orang apalagi sama Sekar!"


"Tapo nenar pak, dia itu sudah guna-guna bapak, bapak harus percaya sama kami, kami itu merasa Sekar mendekati bapak agar bapak bisa dia manfaatin, dia kan sudah gak punya orang tua, dia tidak akan bisa hidup sendiri, jadi dia melakukan ini semua untuk morotin bapak!"


__ADS_2