
Sekar membuka pintu kamarnya."Lama banget, kamu ngapain Sekar, kenapa lama banget buka pintunya!"
"Maaf bu" Sekar menyunggingkan senyum agar tidak ketahuan kalau dia sedang tegang.
"Oh ya ada apa ibu manggil Sekar, apa ibu perlu sesuatu?"
"Di luar ada bu Sinab, dia ingin ketemu sama kamu, kamu temui saja dia dulu, ibu mau ke kamar"
"Baik bu, ibu ke kamar saja, masalah bu Sinab ibu serahkan saja sama Sekar"
Mirna mengangguk, dia berjalan ke kamarnya untuk kembali istirahat karena kondisinya yang masih lemas dan tidak bisa melakukan aktivitas seperti sebelum-sebelumnya.
Sekar melihat ibunya sudah masuk ke dalam kamar."Bu Sinab, ibu bilang di depan ada bu Sinab, duh palingan bu Sinab mau nagih hutang, aku harus alasan apa lagi, aku gak punya uang sama sekali untuk bayar hutang itu"
"Bagaimana kalau nanti bu Sinab marah-marah sama aku, aku gak usah temuin dia aja deh!"
"Tapi kalau aku gak temuin dia, dia pasti akan tambah marah, kayaknya mau tidak mau aku harus temuin bu Sinab, masalah dia mau marah atau apapun, aku harus terima karena ini adalah resiko minjam uang sama dia"
Sekar dengan gelisah berjalan keluar dari rumahnya untuk menemui bu Sinab yang tengah menunggu kedatangan Sekar sejak tadi.
Sekar menatap ke arah bu Sinab yang tengah berdiri di depan rumahnya sambil mengipasi dirinya menggunakan kipas yang berwarna merah.
"Ada apa bu datang kemari?" basa-basi Sekar agar keadaan tidak menjadi tegang.
"Gak usah pura-pura gak tau, kamu pasti tau kan saya datang ke sini untuk apa!" sinis bu Sinab, ia memasang wajah garangnya saat menagih hutang.
"Sekar tau bu, tapi Sekar mohon masalah hutang itu Sekar akan bayar nanti, kalau sekarang Sekar masih tidak punya uang, Sekar masih belum gajian bu" mohon Sekar agar bu Sinab memberikan kelonggaran waktu untuknya.
"Enggak bisa, kamu gak bisa nunggak lagi, saya sudah kasih kelonggaran waktu selama 7 hari, tapi kamu masih tak kunjung bayar!" bu Sinab langsung marah-marah karena Sekar tidak membayar hutangnya.
"Saya sebenarnya ingin bayar hutang itu ibu, tapi saya gak punya uang, nanti saat saya sudah gajian saya akan langsung bayar hutang itu"
"Enak aja kamu mau nunggak lagi, kamu harus bayar hutang itu sekarang kalau kamu tidak mau rumah mu ini saya jual karena rumah kamu ini di jadikan sebagai jaminan!"
"Iya saya tau bu, tapi saya mohon berilah saya kelonggaran waktu sedikit lagi, saja janji saya akan lunasi hutang itu, saya pasti bayar, saya tidak akan lari dari ibu"
"Baiklah, saya akan tunggu kamu gajian, tapi ingat hutang kamu akan bertambah menjadi 10 juta karena kamu bayarnya lama!"
__ADS_1
Sekar langsung tercekat, 10 juta bukanlah uang yang sedikit baginya, bagaimana ia bisa membayar hutang yang sebesar itu di saat ia tidak punya uang sepeserpun.
"Kenapa bisa begitu bu, hutang saya kan cuman 6 juta, kenapa bisa naik jadi 10 juta?"
"Itu karena kamu lama bayarnya, kalau kamu bayar sekarang, kamu cuman perlu bayar 6 juta, tapi kalau kamu bayar saat tanggal tua, hutang kamu akan naik jadi 10 juta, kamu kira saya itu gak capek nungguin kamu bayar hutang, hei Sekar saya itu juga butuh uang, kalau kamu gak terima hutang kamu naik menjadi 10 juta, mangkanya bayar!" tegas bu Sinab.
"Berapa hutangnya Sekar" suara itu menghentikan perdebatan mereka.
Mereka berdua menatap ke arah pemilik suara itu.
"6 juta juragan, dia itu punya hutang namun tidak mau bayar, saat tagih selalu alesan!" bu Sinab setengah menghina Sekar karena Sekar adalah orang yang tidak mampu.
"Saya akan bayar hutang Sekar, ibu jangan ganggu Sekar lagi, jangan tagih-tagih dia lagi!" juragan Doni memberikan amplop coklat yang tebal pada bu Sinab.
Dengan gembira bu Sinab mengambil amplop itu."Baik juragan, saya tidak akan ganggu Sekar lagi, terima kasih juragan"
Dengan full senyum bu Sinab pergi dari sana, ia sudah tidak akan marah-marah lagi pada Sekar karena hutangnya sudah lunas.
Juragan Doni bagaikan pahlawan kesiangan yang telah membungkam mulut bu Sinab yang terus menerus menghina Sekar karena Sekar punya hutang padanya.
Juragan Doni menatap ke arah Sekar yang masih diam di tempat.
"Saya masih belum siap-siap juragan, juragan duluan saja, saya mau siap-siap dulu baru akan ke ladang"
"Saya tunggu kamu di sana, ingat jangan lama-lama!"
"Baik juragan"
Juragan Doni meninggalkan Sekar, ia berangkat duluan ke ladang.
Sekar merasa lega saat juragan Doni pergi dari sini, ia juga sedikit tenang saat juragan Doni menepati janjinya yang akan membayar hutang Sekar.
Sekar kembali masuk ke dalam rumahnya, ia bersiap-siap untuk berangkat bekerja, setelah selesai bersiap-siap Sekar berangkat dengan berjalan kaki.
Ketika sampai di sana pak Anton langsung menghampiri Sekar.
"Kamu di panggil juragan ke kantornya segera!"
__ADS_1
"Baik pak"
Sekar langsung melangkah ke kantor, ia ingin tau alasan apa lagi yang membuat juragan Doni memanggilnya.
"Assalamualaikum" salam Sekar dengan mengetuk pintu.
"Masuk!"
Sekar masuk ke dalam kantor itu, ia langsung mendekati juragan Doni yang duduk di kursi kebesarannya.
"Ada apa juragan manggil saya ke sini?''
"Tidak ada, saya hanya mau kamu temani saya di sini" juragan Doni masih fokus pada berkas yang dia pegang.
"Tapi juragan saya harus kerja, saya belum kerja sama sekali"
"Saya bilang di sini ya di sini!"
Seketika Sekar langsung diam, perwatakan juragan Doni berubah-ubah membuat Sekar bingung.
"Di sini itu saya bos kamu, kamu hanya turuti perintah saya saja, tidak usah pikirin yang lain!''
Sekar mengangguk, ia diam di sana dengan terus menemani juragan Doni yang lagi sibuk memeriksa berkas yang bertumpukan itu.
Setelah berkas-berkas itu juragan Doni selesaikan, juragan Doni langsung memegang tangan Sekar.
Sekar langsung mengambil tangannya, ia tidak mau di pegang-pegang oleh juragan Doni.
"Saya sudah bayar hutang kamu sampai ke akar-akarnya, masa kamu masih tidak mau berterima kasih?" tak habis pikir juragan Doni dengan menatap ke arah Sekar yang gugup.
"T-tadi kan sudah"
"Itu cuman dp saja, kamu harus jadi wanita simpanan saya selama 1 bulan, setelah 1 bulan kamu akan bebas"
Sekar ternganga, kesepakatan yang tadi ia dan juragan Doni bicarakan kini berubah total.
"Kok berubah juragan, tadi pagi kan gak kayak gini?"
__ADS_1
"Terserah saya dong, saya bisa saja berubah pikiran, kalau kamu gak terima, ya sudah ganti semua uang yang tadi saya kasih ke bu Sinab!"