Kuntilanak

Kuntilanak
Sebelas dua belas dengan iblis


__ADS_3

Di rumah bu Sinab.


Bu Sinab yang kepalanya di jahit gara-gara gangguan Sekar terus mengomel dan mengumpat Sekar yang bukan-bukan.


"Dasar wanita murahan dia, udah jadi hantu aja masih gangguin orang, apa yang dia inginkan coba, kalau aku gak bantuin dia dulu, dia gak mungkin bisa bertahan hidup, sekate-kate memang dia, seharusnya dia bersyukur karena masih ada orang yang mau bantu dia ketika dia kesulitan, tapi nyatanya dia malah gak bersyukur sama sekali, aku nyesel banget bantuin dia, sungguh-sungguh nyesel" ujar bu Sinab yang geram dengan Sekar.


"Aku sumpahin dia masuk neraka, aku sungguh tak terima dia bikin aku kayak gini, aku benci sama dia, kalau aku ketemu lagi sama dia aku akan hajar dia habis-habisan, enak aja dia bikin aku kayak gini"


Bu Sinab benar-benar geram, ia sangat benci pada Sekar yang telah membuatnya luka separah ini.


"Kemarin itu aku cuman belum siap aja, kalau aku udah siap, aku gak mungkin sampai cedera kayak gini" tutur bu Sinab.


tok


tok


tok


Segala omelan bu Sinab seakan-akan terhenti, bu Sinab menghela nafas berat.


"Siapa lagi itu, kenapa dia ganggu ketenangan aku, gak tau apa kalau orang lagi sibuk" omel bu Sinab yang benci dengan orang yang mengetuk pintu rumahnya.


tok


tok


tok


Suara ketukan itu kembali terdengar semakin keras.


"Sebentar" teriak bu Sinab dari dalam.


Bu Sinab dengan kesal berjalan menuju pintu rumahnya yang terus menerus di gedor-gedor oleh orang misterius.

__ADS_1


Bu Sinab membuka pintu, ia menatap sekelilingnya, namun tidak ada siapapun yang di temukan, halaman rumahnya kosong, seorangpun tak ada yang terlihat di matanya.


"Gak ada siapa-siapa, tapi kenapa kok kayak ada orang yang ngetuk pintu, apa iya ada orang iseng yang ngetuk pintu dan mau ganggu aku malam-malam begini" mulai suudzon bu Sinab.


"Benar-benar kurang ajar, dia memang benar-benar kurang ajar, awas aja kalau sampai aku ketemu sama dia, akan aku bikin dia menderita, enak aja kau mau mengganggu ketenangan ku" geram bu Sinab.


Semenjak di ganggu habis-habisan kemarin malam oleh Sekar bu Sinab menjadi marah-marah tanpa sebab, ia terus mengomel tak jelas.


"Awas aja sampai dia ganggu aku lagi, aku akan aku bikin kau menderita" tutur bu Sinab yang benci berat pada orang itu.


Bu Sinab masuk ke dalam, ia benar-benar geram, ia sangat tidak suka di ganggu seperti ini.


Bu Sinab kembali duduk di ruang tamu sendirian, ia memikirkan siapa sekiranya orang yang mencari gara-gara padanya.


"Siapa ya yang ngetuk pintu rumah ku, kenapa dia ingin mengganggu ku, apa salah ku, aku tidak pernah ganggu dia, tapi kenapa dia malah ingin ganggu aku" bu Sinab masih penasaran akan sosok yang sudah mengganggunya.


"Apa mungkin dia orang yang mau pinjam uang, kalau sampai benar aku gak akan mau pinjamin dia uang, udah ganggu hidup aku, sekarang dia malah mau pinjam uang ku, sampai kapanpun aku gak akan mau uang ku di pinjamkan sama dia" bu Sinab yang sudah terlanjur geram tak mau memberikan pinjaman untuk orang tersebut.


tok


tok


tok


"Siapa lagi yang ngetuk pintu rumah ku, kenapa dia kurang kerjaan banget, apa gak ada tempat lain yang bisa di jadikan untuk bahan candaan, kenapa harus di rumah ku" mulai geram bu Sinab, ia sangat tak suka di ganggu habis-habisan seperti ini.


"Aku gak akan keluar lagi, aku yakin pasti gak akan ada orang di luar, aku gak mau ketipu lagi, dia kira aku sebodoh itu, sehingga bisa dia perbudak" ujar bu Sinab.


Bu Sinab diam di tempat, ia tak bergerak sama sekali meskipun ada orang yang mengetuk-ngetuk pintu rumahnya, ia enggan untuk membuka pintu rumahnya, ia malas meladeni orang yang ingin mengganggunya.


tok


tok

__ADS_1


tok


Lama kelamaan suara ketukan itu semakin nyaring dan mengganggu ketenangannya.


Telinga bu Sinab rasanya panas karena suara ketukan itu yang tidak kunjung berhenti sejak tadi, ia muak mendengarnya, ia sungguh kesal di permainkan seperti ini terus menerus.


"Dia benar-benar keterlaluan, dia harus di kasih pelajaran, aku harus temui dia, enak aja dia main ganggu aku begini terus menerus, liat aja apa yang akan aku lakukan, kau sudah membuat ku terusik, maka aku akan buat kau menderita!" geram bu Sinab.


Bu Sinab yang geram melangkahkan kakinya, ia berjalan dan membuka pintu rumahnya dengan tatapan mata yang tajam.


"Apa mau mu!" dengan tatapan tajam dan mata melototnya bu sinab menatap seseorang yang berdiri di depannya dengan wajah takut.


"Bu Sinab saya datang kemari karena ada sesuatu yang ingin saya bilang sama ibu, saya mohon bantulah saya bu, saya mohon sekali sama ibu" bu Naima memohon pada bu Sinab dengan ketakutan, di tatap seperti itu oleh bu Sinab yang kejam benar-benar membuatnya ketakutan.


"Apa yang ingin kamu katakan, jangan bilang kamu mau minjam uang ya?" tebak bu Sinab yang seperti sudah tau maksud kedatangan bu Naima.


Dari tampang bu Naima yang ketakutan bu Sinab sudah bisa menebak apa yang akan dia lakukan sehingga mendatangi rumahnya.


"Saya ingin pinjam uang bu, anak saya masuk rumah sakit, saya butuh uang bu, saya gak tau mau bayar pengobatan anak saya dari apa kalau gak pinjam sama ibu, saya mohon bu tolong berilah saya pinjaman" mohon bu Naima dengan ketakutan khawatir bu Sinab tidak memberikannya.


"Kenapa malam-malam begini, ganggu orang tidur aja, gak bisakah besok aja kamu datang ke sini, saya itu juga pengen istirahat, bukan kamu aja" omel bu Sinab.


"Anak saya masuk ke rumah sakit sore tadi bu, saya langsung cepet-cepet datang kemari, saya gak punya uang sama sekali, saya mohon bu berilah saya pinjaman, saya tak tau harus pinjam sama siapa lagi selain sama ibu" mohon bu Naima, walaupun bu Sinab terus memarahinya ia akan terus memohon karena tak akan ada orang yang bisa membantunya saat ini.


Tatapan maut bu Sinab masih terus menatap tajam ke arah bu Naima yang semakin ketakutan, pinjam uang ke rumah bu Sinab sama halnya seperti mendatangi iblis yang kejam dan jahat, ia harus menguatkan mentalnya karena pasti akan ada kalimat menyakitkan yang keluar dari bibir bu Sunnah.


"Sebentar, kamu tunggu di sini dulu,u jangan kemana-mana" perintah bu Sinab.


Bu Naima mengangguk, ia tidak akan pergi kemana pun, ia akan tetap berada di sana, karena saat ini ia butuh sekali pinjaman.


Bu Sinqb masuk ke dalam rumahnya untuk mengambil uang."Apa yang aku prediksi memang benar kalau orang yang sedari tadi ngetuk-ngetuk rumah aku adalah orang yang ingin pinjam uang, untung aja aku masih baik, kalau enggak sudah aku usir dia dari sini"


Bu Sinab memang terkenal suka memberikan pinjaman pada warga-warga sekitar namun ada bunga yang harus di bayar setiao bulannya dan bunga itu cukup besar.

__ADS_1


Warga-warga yang memang sangat membutuhkan uang terpaksa menyetujui persyaratan itu, mereka dengan susah payah melunasi hutang mereka karena jika mereka telat membayar sekali saja, hutang mereka akan semakin bertambah..


__ADS_2