Kuntilanak

Kuntilanak
Misteri suara tangisan di tengah malam


__ADS_3

Di rumah bu Jamilah.


Bu Jamilah terjaga dari tidur lelapnya, ia keluar dari dalam kamarnya karena merasakan haus yang menyerang tenggorokannya.


Bu Jamilah mengambil gelas dan mengisinya dengan air, kemudian ia menegaknya hingga tandas, tenggorokannya langsung lega kembali.


Bu Jamilah melirik jam yang menunjukkan pukul 12 malam."Mas Doni kok masih belum pulang jam segini, apa mungkin dia nginap di sana, ku rasa memang iya"


Yang tadi menelpon juragan Doni dan menyuruhnya pulang bukanlah bu Jamilah melainkan Sekar, Sekar memang sengaja ingin juragan Doni keluar dari dalam kantor dan akan membuatnya di serang rasa takut.


Bu Jamilah berjalan kembali ke kamarnya untuk kembali melanjutkan tidurnya yang terjeda.


"Hiks hiks hiks hiks hiks" suara tangisan seorang anak kecil terdengar lirih di tengah gelapnya malam.


Langkah bu Jamilah tiba-tiba langsung terhenti, mata bu Jamilah mencari-cari asal suara tangisan yang lirih namun terdengar dengan jelas di telinganya.


"Di mana suara itu berasal, kok kayaknya ada di sekitar sini" bu Jamilah mencari-cari keberadaan asal suara tangisan yang berhasil membuat dunianya teralihkan.


"Di mana suara itu, kenapa udah gak ada" sejak tadi bu Jamilah mencari namun tak kunjung menemukan suara tangisan yang begitu misterius itu.


"Aneh, kenapa pas di cari gak ada, apa jangan-jangan ini cuma perasaan aku aja, lagian di rumah ini gak ada anak kecil, mana mungkin ada suara anak kecil di sini, kayaknya memang iya deh aku yang salah dengar" pikir bu Jamilah.


Karena tidak menemukan keberadaan pemilik suara tangisan itu bu Jamilah pun melangkahkan kakinya menuju kamarnya kembali.


"Hiks hiks hiks hiks hiks"


Suara tangisan itu kembali, suaranya terdengar lirih, namun jelas masuk ke dalam indera pendengaran.


Sekali lagi langkah bu Jamilah di hentikan, ia menatap setiap inci ruangan dengan saksama.

__ADS_1


"Gak ada, orangnya gak ada tapi suaranya ada, ini aneh!" tutur bu Jamilah terus mencari keberadaan pemilik suara tangisan yang tak kunjung berhenti itu.


"Hiks hiks hiks ibu huhuhu"


Lama kelamaan suara tangisan itu tambah keras dan semakin jelas saja, bu Jamilah masih amat penasaran dengan suara tangisan itu yang tidak tau di mana asalnya.


"Makin lama kok makin keras aja, kayaknya ini suara orang deh bukan hantu" dugaan bu Jamilah.


"Tapi kalau beneran orang di mana orangnya, kenapa hanya ada suaranya saja?" bu Jamilah butuh bukti untuk mempercayai ini semua, kalau ia tidak melihat langsung dengan mata kepalanya ia tidak akan pernah percaya..


"Hiks hiks hiks ibu takut, ibu di sini dingin hiks hiks" tangisan itu terdengar menyayat hati.


Hati bu Jamilah bergerak mencari keberadaannya, ia tidak akan tidur sebelum melihat siapa anak kecil yang menangis di tengah malam seperti ini.


"Kayaknya suara tangisan itu berasal dari luar rumah, apa benar itu suara anak kecil, bagaimana kalau itu bukan manusia?" kini bu Jamilah di ambang kebingungan, antara percaya atau tidak namun telinganya jelas mendengar dengan baik suara tangisan itu.


Lantaran rasa penasaran semakin menjadi-jadi bu Jamilah nekat meriksa kebenaran dari misteri suara tangisan di tengah malam tersebut.


Tangan bu Jamilah memegang gagang pintu dan membukanya, ia menatap sekeliling halaman rumahnya, tatapannya jatuh pada seorang anak perempuan yang usianya sekitar 5 tahun yang menangis di dekat gerbang.


"Hiks hiks hiks ibu, ibu di mana, ibu takut, di sini gelap" isakan tangis gadis mungil itu yang berteriak mencari ibunya.


"Siapa itu, kenapa ada di sana?" bu Jamilah merasa asing dengan seorang anak kecil yang menangis di dekat gerbang rumahnya.


Kaki bu Jamilah melangkah mendekatinya, ia penasaran anak siapa yang menangis malam-malam di depan rumahnya.


"Kamu siapa?" anak kecil itu langsung menghentikan tangisnya, ia terlihat ketakutan saat menatap bu Jamilah.


"Kenapa kamu ada di sini, di mana ibu kamu?" tak ada tanggapan dari diri anak itu, ia masih diam dengan tubuh yang gemetaran.

__ADS_1


"I-ibu pergi, tolong jemput ibu, aku mau ibu ku kembali" titah anak kecil itu dengan tangisan yang mengiringi.


"Ibu kamu pergi kemana biar tante jemput?"


"Di sana, ibu ada di sana, tolong bawa ibu ku kembali, dia gak mau kembali" tunjuk anak kecil itu ke arah jalan yang gelap karena tidak ada lampu yang menjadi penerangnya.


"Ayo anterin tante ke sana, tante akan bujuk ibu kamu buat pulang lagi" titah bu Jamilah.


Anak kecil itu langsung berdiri dengan semangat, ia pun berjalan ke tempat di mana ibunya berada dengan di ikuti bu Jamilah dari belakang.


"Ibu kamu ngapain di sana, kenapa dia gak mau pulang?" penasaran bu Jamilah.


"Aku gak tau tante, aku udah bujuk ibu tapi ibu gak mau pulang juga, dia juga gak mau bicara lagi sama aku" jelas bocah cilik itu dengan air mata yang membasahi wajahnya.


"Nanti tante akan bujuk ibu kamu, dia pasti mau pulang dan bicara lagi sama kamu" seulas senyuman terukir di wajah gadis cilik itu.


Gadis itu terus berjalan di jalanan yang gelap dan sepi, bu Jamilah masih terus mengikutinya dari belakang.


Sepanjang perjalanan tak ada satupun orang yang di tangkap oleh mata bu Jamilah, tetapi bu Jamilah tidak merasakan ketakutan sama sekali.


"Kok sepi banget jalanan ini ya, biasanya gak kayak gini, kenapa malam ini gak ada satupun warga yang terlihat, apa jangan-jangan warga-warga pada takut sama Sekar dan gak mau keluaran rumah" batin bu Jamilah menduga faktor sepinya jalanan karena warga yang takut pada hantu yang sedang menjadi tranding topik di kalangan masyarakat.


Kaki bu Jamilah terus melangkah mengikuti gadis kecil iti sambil sesekali menatap ke kanan dan kirinya yang bertambah gelap dan sepi, hanya terdengar suara hewan saja yang memecah keheningan.


"Apa tempat ibu kamu berada masih jauh?" bu Jamilah di serang rasa merinding, ia takut berada di luar malam-malam begini, di hatinya terbesit rasa penyesalan karena mau keluar mengikuti gadis itu.


"Udah enggak kok tante, sebentar lagi kita akan sampai di sana" jawab gadis mungil itu dengan terus berjalan.


Bu Jamilah pun tak bisa berbuat banyak selain mengikutinya dari belakang, di sepanjang perjalanan bu Jamilah bergidik ngeri dengan suasana desa yang berubah total, ia berjaga-jaga supaya tidak ada sesuatu yang tidak di inginkan terjadi, gadis mungil itu melangkah mendekati jalanan suram.

__ADS_1


__ADS_2