Kuntilanak

Kuntilanak
Ide cemerlang bu Hamiddeh


__ADS_3

Keesokan harinya, berita-berita tentang gangguan demi gangguan yang terjadi di desa ini telah sampai ke bermacam telinga manusia yang menghuni desa anggrek.


Para warga di hebohkan dengan adanya berita gangguan yang telah terjadi tadi malam.


"Ya ampun kok banyak banget tadi malam yang di ganggu sama hantu, kok saya jadi takut ya bu kalau mau keluar rumah" ujar bu Lela.


"Keadaan desa lagi keruh-keruhnya bu, Sekar makin kebangetan, dia gak bisa di biarin lagi, dia harus di hempaskan kalau enggak dia akan terus bikin kita semua takut" sahut bu Rohani.


"Tapi kita mau hempaskan Sekar dengan cara apa, di antara kita semua gak ada yang berani nyingkirin Sekar, dia itu hantu bukan manusia, saya gak ada nyali buat berurusan sama dia" timpal bu Nining.


"Ibu-ibu kalian tau gak" bu Maimun yang baru datang langsung heboh, dari kejauhan dia sudah terlihat heboh dan dengan cepat mendekati mereka semua yang sedang merumpi.


"Ada apa bu?" penasaran mereka semua.


"Dengar-dengar bu Sinab tadi malam di datangin sama Sekar, dia sampai di buat pingsan sama Sekar, kepalanya berdarah, sekarang ini bu Sinab di bawa ke bidan, dengar-dengar kepalanya di jahit, jahit 4 kalau gak salah, biayanya sekitar 350-an gitu" jelas bu Maimun.


Mereka semua menutup mulut tak percaya, ternyata ada yang lebih parah lagi selain bu Nilem yang di ganggu oleh Sekar.


"Ya ampun sampai segitunya Sekar ganggu bu Sinab" tercekat bu Naima kala mendengar hal itu.


"Iya lah Sekar ganggu bu Sinab separah itu, bu Sinab itu kejam saat Sekar masih hidup, kalian dengar kan kalau Sekar sempat pinjam uang ke bu Sinab untuk biaya kematiannya kedua orang tuanya" sahut bu Maimun.


Mereka semua mengangguk, berita itu sudah tersebar luaskan ke desa ini, tidak ada satupun orang yang tidak tau mengenai hal itu.


"Nah Sekar pasti dendam sama bu Sinab, orang perlakuan bu Sinab ke Sekar jahatnya nauzubillah saat nagih hutang, orang mana yang gak akan dendam" sambung bu Maimun.


"Sekarang bu Sinab itu tau rasa, dia jahat banget saat nagih hutang, ngambil uang seenaknya aja, gak mikir apa kalau kita ini orang gak punya" jengkel bu Nining.

__ADS_1


"Ada apa ini ibu-ibu, kenapa pada ngerumpi di sini, apa yang ibu-ibu semua bicarain?" bu Salamah mampir ke gazebo setelah habis pulang dari masjid, tempat teraman untuknya berlindung.


"Ini loh bu tadi malam para ibu-ibu banyak yang di ganggu sama Sekar, mereka sampai ketakutan, Sekar udah semakin keterlaluan bu, dia sudah makin ngelunjak aja" jelas bu Naima.


"Jangankan mereka saya tadi malam di kejar-kejar sama Sekar bu, sampai-sampai saya berlindung di masjid, baru tuh gak ada gangguan apapun" tutur bu Salamah yang berhasil membuat mereka semua tercekat.


"Sampe segitunya Sekar ganggu ibu?" tak menyangka bu Rohani.


"Iya bu, Sekar memang selalu ganggu saya, dia benar-benar keterlaluan, saya gak habis pikir lagi kenapa dia terus-menerus ganggu kita-kita, seharusnya dia itu balik aja ke tempat selanjutnya, jangan gentayangan di mari" jengkel bu Salamah yang sudah tak tahan dengan tindakan Sekar yang semakin lama semakin membuatnya merasa tak tenang.


"Gimana lagi bu, kita semua gak ada yang berani usir Sekar dari sini, ya sampai sekarang Sekar gak pergi-pergi, kita mau minta bantuan sama siapa lagi, satupun orang gak ada yang bisa kita harapkan" timpal bu Maimun.


"Iya juga, gak ada satupun orang yang bisa kita mintai tolong" sambung bu Salamah.


"Oh ya gimana kabarnya bu Nilem ya, dia udah pulih apa gimana kok jarang keliatan sekarang?" penasaran bu Rohani.


"Jahat banget Sekar itu, kalau mau gangguin orang ganggu aja, tapi jangan di celakai juga, kita semua ini bisa merasakan sakit, dia gak mikir apa" geram bu Maimun.


"Nanti malam kita jangan pada ada yang keluyuran, biar gak di ganggu sama Sekar" ujar bu Lela.


"Walaupun gak keluyuran bu, Sekar tetap ganggu kita, saya tadi malam di ganggu di dalam rumah, sampai-sampai saya lari terbirit-birit ke masjid, untung Sekar berhenti gak jadi ganggu saya yang lagi ada di masjid kalau enggak saya akan kabur kemana lagi" jelas bu Salamah dengan hebohnya.


"Makin keterlaluan aja Sekar itu, gimana kalau kita laporin masalah ini ke pak RT biar pak RT yang urus masalah ini sampai tuntas" saran bu Hamiddeh yang memiliki ide cemerlang.


"Ide bagus itu, ayo kita ke sana, kita jangan repot-repot usir Sekar sendiri, masih ada pak RT yang bisa kita perintahkan" setuju bu Maimun yang baru terpikir ke arah sana.


"Ayo-ayo ibu-ibu kita ke rumah pak RT, kita lapor sama pak RT, biar pak RT yang selesain, kalau pak RT gak bisa selesain masalah ini, kita demo minta ganti RT baru" ajak bu Salamah sedikit mengancam, ia sudah tidak tahan dengan perkara ini yang membuat hidupnya menjadi tak tenang.

__ADS_1


"Setuju itu, setuju!" para ibu-ibu lainnya setuju, mereka berbondong-bondong berangkat menghadap pak RT yang kebetulan rumahnya tak terlalu jauh dari sana.


"Saya yakin bu pak RT pasti bisa usir Sekar, dia pasti punya caranya" ujar bu Hamiddeh.


"Semoga saja pak RT bisa usir Sekar, saya sudah gak tahan dengan suasana desa yang seperti desa hantu, saya ingin arwah Sekar yang gentayangan segera pergi dan gak ganggu warga-warga lagi" bu Rohani memiliki harapan besar pada pak RT, ia berharap bahwa pak RT bisa menyelesaikan masalahnya.


"Iya, semoga saja pak RT bisa mengurus kasus ini sampai tuntas" sahut bu Lela.


"Ayo ibu-ibu, lebih cepat lagi, kita harus temui pak RT sebelum pak RT keluar" ajak bu Nining yang sudah tak sabaran.


Mereka semua mempercepat langkah, mereka ingin mengadukan masalah ini pada pak RT yang mereka anggap orang terbaik yang bisa menyelesaikan permasalah yang terjadi di desa.


Tak lama dari itu mereka semua tiba di rumah pak RT yang lumayan besar, namun tak sebesar rumah juragan Doni.


"Pak RT, pak RT keluar!"


"Keluar pak, jangan sembunyi"


"Cepat pak keluar, kami perlu bantuan bapak!"


"Pak RT keluar"


"Pak keluarlah"


"Kami mohon keluarlah pak"


Suara teriakan ibu-ibu itu memenuhi telinga penghuni rumah yang tengah berada di dalam.

__ADS_1


__ADS_2