
"Hiks hiks hiks hiks hiks"
Suara tangisan seorang anak kecil terdengar di telinga bu Nining yang hendak tidur.
"Kok kayak ada suara anak kecil nangis, tapi anak siapa yang nangis di jam segini" rasa penasaran menghantui bu Nining.
Malam-malam sebelumnya tak pernah ada suara tangisan anak kecil, tetangga-tetangga yang rumahnya dekat dengan bu Nining tidak ada yang memiliki anak kecil, tapi mengapa malam ini terdengar suara anak kecil yang menangis tersedu-sedu.
"Hiks hiks hiks hiks hiks"
Suara tangisan anak kecil itu terdengar lirih, namun terdengar dengan jelas di telinga bu Nining.
"Suara anak siapa yang nangis malam-malam begini, mana ibunya, kenapa anaknya dia biarkan dia nangis gitu aja" hati bu Nining bergerak mencari tau anak siapa yang menangis itu.
Bu Nining membuka pintu rumahnya dan melihat halaman rumah yang ia curigai.
"Hiks hiks hiks hiks hiks"
Pandangan bu Nining jatuh pada seorang anak kecil berjenis kelamin perempuan yang menangis tersedu-sedu di dekat pohon besar yang tumbuh di pinggir pagar rumah bu Nining.
"Hiks hiks hiks ibu aku takut" tangis anak kecil itu memeluk tubuhnya sendiri.
Bu Nining mendekati anak kecil yang tak henti-hentinya menangis sejak tadi, bu Nining merasa tidak asing dengan sosok anak kecil yang tengah menangis itu.
"Mia, kamu Mia anaknya bu Naima kan?" gadis kecil itu mengangguk dengan air mata yang berjatuhan.
"Mia kamu ngapain di sini, ini udah malam, kenapa kamu keluyuran di jam segini, mana ibu kamu, kenapa ibu kamu biarin kamu keluar rumah" terkejut bu Nining.
Desa yang mulai angker setiap harinya begini masih aja ada orang yang lalai menjaga anaknya dan membiarkan anaknya keluaran rumah padahal keadaan desa sudah mulai tak aman.
"Ibu gak ada bi, dia pergi, Mia takut di rumah sendirian" ujar Mia.
"Kemana ibu kamu, kok kamu di biarkan sendirian di rumah?" heran bu Nining.
__ADS_1
"Gak tau bi, ibu gak bilang mau pergi kemana hiks hiks hiks" tangis Mia menyayat hati siapa saja yang mendengarnya.
"Terus bapak kamu kemana Mia, apa bapak kamu pergi juga?" Mia menganggukkan kepalanya cepat.
"Bapak belum pulang, di rumah gak ada orang, cuman Mia seorang, Mia takut di rumah sendirian bi" jelas Mia.
Hati bu Nining tak tega saat anak sekecil Mia di biarkan ketakutan tanpa pengawasan bapak dan ibunya.
"Mia kamu jangan nangis, ayo masuk ke dalam rumah bibi, kamu sementara nginap aja di sini, besok pagi-pagi bibi akan anterin kamu pulang" ajak bu Nining yang tak tega membiarkan Mia berada di sana sendirian.
Mia yang ketakutan mau mengikuti bu Nining masuk ke dalam rumahnya, ia takut untuk berada di rumahnya sendirian.
Bu Nining menutup pintu rapat-rapat biar tidak ada maling yang masuk ke dalam rumahnya.
"Mia kamu duduk di sini dulu ya, bibi mau ke belakang dulu" kepala Mia mengangguk patuh, ia duduk dengan tenang di ruang tamu rumah bu Nining.
Bu Nining meninggalkan Mia di sana sendirian, ia mendekati dapur dan membuat susu hangat untuk Mia yang pastinya kedinginan berada di luar.
Setelah siap bu Nining membawa secangkir susu dan biskuit itu ke depan.
"Apa jangan-jangan Mia udah pulang ke rumahnya kembali?" feeling bu Nining.
"Tapi gak mungkin Mia pulang sendirian ke rumahnya, dia pasti takut"
"Lalu kalau Mia gak pulang ke rumahnya, pergi kemana dia?" bertanya-tanya bu Nining.
Dalam sekejap anak kecil yang tadi ia bawa masuk ke dalam rumahnya mendadak hilang tak berbekas dan itu semua berhasil membuat bu Nining merasa aneh dan heran.
Wussshhhh
Kelebat bayangan anak kecil yang tubuhnya hitam keluar dari dalam gorden.
Craaaaanggg!
__ADS_1
Nampan yang bu Nining pegang terjatuh ke bawah lantaran terkejut.
Mulut bu Nining terperangah, ia menutup mulut tak percaya dengan apa yang barusan ia lihat.
"K-kenapa di dalam rumah ku ada makhluk halus, jangan bilang anak kecil yang tadi aku bawa masuk ke dalam adalah makhluk halus" tercekat bu Nining kala menyadari hal itu.
"Gak salah lagi, dia memang makhluk halus, aku memang membawanya masuk ke dalam rumah, pantesan aja dia menghilang dalam waktu yang sangat singkat"
Tubuh tubuh Nining gemetar, bulu kuduknya berdiri semua, ketegangan terasa di dalam dirinya.
Wussshhhh
Sosok makhluk halus kecil yang bertubuh hitam itu melesat dengan cepat di dekat bu Nining.
Bu Nining yang takut sontak langsung berlari keluar dari rumahnya, ia merasa tak aman berada di dalam rumah sendirian.
"Ibu" kaget pak Bardi yang melihat istrinya keluar dalam keadaan ketakutan.
"Pak, di dalam ada hantu, ibu bawa hantu ke dalam rumah" jelas bu Nining dengan wajah paniknya.
"Hantu?" pak Bardi mengernyitkan dahi tanda tak mengerti.
Bu Nining mengangguk cepat."Iya pak, di dalam ada hantu, dia serem pak, dia lagi berkeliaran di rumah kita, gimana ini pak, ibu gak mau tinggal di dalam rumah ini, ibu takut"
"Tunggu-tunggu ibu tadi bilang ibu bawa hantu ke dalam rumah, ngapain ibu bawa hantu segala ke dalam rumah kalau memang ibu takut" heran pak Bardi.
"Mana ibu tau pak, tadi itu yang ibu bawa masuk Mia anaknya bu Naima, ibu pikir dia memang Mia yang asli tapi ternyata dia adalah hantu yang menyerupai Mia dan sekarang dia lagi berkeliaran bebas di rumah kita, gimana ini pak, ibu gak mau dia menempati rumah kita, dia harus di hempaskan dari sini, kita gak bisa biarkan dia terus menerus ada di sini, dia akan mengganggu ketenangan kita"
Bu Nining gelisah, satu kesalahan yang ia perbuat begitu fatal, kini ia tidak bisa tenang dalam keadaannya yang seperti ini.
"Ibu tenang dulu, semuanya akan baik-baik saja, ibu jangan takut, bapak tidak akan biarkan dia menguasai rumah kita, percayalah dia akan pergi habis ini" pak Bardi menenangkan istrinya yang terus menerus gelisah dan ketakutan.
"Gimana ibu bisa tenang pak, di dalam rumah kita ada hantu, rumah kita di masuki sama hantu, dia pasti gak bakal mau pergi dari sini, dia palingan ingin menjadikan rumah kita sebagai tempat tinggalnya, gimana nasib kita kalau rumah kita di ambil sama dia" tak bisa diam bu Nining.
__ADS_1
Pikiran-pikiran buruk berdatangan menyerang bu Nining.