Kuntilanak

Kuntilanak
Sial


__ADS_3

"Ibu jangan mikir macem-macem, semuanya akan aman terkendali, ibu jangan khawatir berlebihan terlebih dahulu, di sini masih ada bapak, bapak akan berusaha usir dia dari dalam rumah kita, gak akan bapak biarkan dia menempati rumah kita" pak Bardi kembali menenangkan istrinya yang tak bisa diam sama sekali.


Walaupun pak Bardi telah berusaha untuk menenangkan bu Nining tetapi bu Nining tetap saja tidak tenang, ia masih khawatir berlebihan.


"Cepat bapak usir dia dari sini, jangan biarkan dia terus menerus berada di sini, dia gak boleh berdiam diri terlalu lama di sini" titah bu Nining yang ingin rumahnya kembali seperti dulu yang tidak ada hantu.


Pak Bardi membuka pintu dengan hati-hati, ia akan berusaha untuk mengusir hantu yang telah menepati kediamannya, tak akan ia biarkan hantu itu menjadikan tempat naungannya selama ini angker.


"Hati-hati pak, dia hantu bukan maling" peringatan bu Nining yang mengikuti suaminya dari belakang dengan ketakutan.


Pak Bardi mengangguk, ia dengan pelan-pelan melangkah memasuki rumahnya.


Brak


Suara meja yang di gebrak dengan keras berhasil membuat mereka berdua menjerit.


"Pak" takut bu Nining berlindung di belakang suaminya dengan memegang erat tangan suaminya sebagai penguat.


"Ibu jangan takut, semuanya akan baik-baik saja" pak Bardi berusaha untuk menenangkan istrinya meskipun dirinya sendiri takut tapi ia berusaha untuk tegar.


"Pak ibu takut, ayo kita keluar aja, kita jangan masuk dalam rumah malam ini" ajak bu Nining yang tidak tahan berada di dalam rumahnya sendiri.


"Kita mau kemana lagi bu kalau gak berada di dalam rumah, di luar dingin dan rawan terjadi penampakan, ibu mau berada di luar rumah sendiri hah" kepala bu Nining menggeleng, ia tak mau berada di luar rumah yang pastinya lebih rawan untuk di ganggu sama hantu.


"Gak mau pak" jawab bu Nining.


"Ya udah bu diam aja, biar bapak yang akan urus, bapak gak akan berhenti sebelum dia pergi, ibu tenang aja" bu Nining menyerahkan semuanya pada suaminya, ia hanya bisa berdoa semua usaha suaminya untuk mengusir hantu dapat di laksanakan dengan baik dan lancar.


Niat pak Bardi yang akan berusaha untuk mengusir hantu yang menempati rumahnya masih berkobar dengan jelas, ia pelan-pelan melangkah memasuki rumahnya, pandangannya terus menatap setiap inci rumah dengan seksama.

__ADS_1


Brakkk!


Jantung pak Bardi dan bu Nining meloncat saat pintu rumah tiba-tiba tertutup dengan rapat, jeritan keduanya tak dapat di hindarkan lagi.


Tubuh mereka menegang, hantu yang tengah mereka hadapi bukanlah hantu receh yang bisa dengan mudah minggat dari rumah ini.


"Pak, ibu takut"


Pak Bardi tak mengeluarkan sepatah katapun, ia tetap diam, lama-lama pendiriannya mulai goyah, ia menjadi tak tenang dengan keadaannya yang seperti ini.


"Kita keluar aja yuk pak, kita jangan cari masalah, kita minta tolong sama siapa gitu yang sekiranya bisa ngusir hantu di rumah ini" ajak bu Nining yang sudah tak tahan berada di rumahnya sendiri.


"Kita mau nyuruh siapa bu, di desa ini gak ada yang bisa usir hantu, kita mau minta bantuan sama siapa, gak ada yang bisa kita mintai tolong, mau gak mau kita sendiri yang harus bergerak ngusir dia, kita jangan takut sama dia biar dia gak terus-menerus ganggu kita" jawab pak Bardi.


Bu Nining bungkam, ia memang ingin hantu itu keluar dari rumahnya, namun ia takut untuk mengusirnya.


"Udah ibu diam aja, biar bapak yang akan urus, yakinlah kita pasti akan bisa usir dia dari sini" bu Nining mengangguk cepat dengan harapan penuh bahwa suaminya bisa membuat hantu yang berkeliaran bebas di rumahnya pergi.


Semua ruangan di rumah itu kosong, tidak ada siapapun yang mereka temukan, namun entah mengapa hawa di rumah ini menjadi begitu merinding, mereka yakin hantu itu masih berada di dalam rumah ini, hanya saja dia tidak mau menunjukkan dirinya saat ini.


Pak Bardi yang merasa keadaan sedikit aman melesat mendekati dapur.


"Paaakkk!" teriak bu Nining berlari mengikuti suaminya dari belakang.


"Bapak mau ngapain ke sini, di sini gak ada apapun, ngapain bapak malah ke sini, bukannya bapak tadi bilang mau ngusir hantu" heran bu Nining dengan tindakan suaminya yang malah mengambil satu toples garam di dapur.


"Udah ibu diam aja" pak Bardi memegang erat toples garam itu, entah apa yang akan ia perbuat dengan garam sebanyak itu.


"Ayo kita kembali ke depan" bu Nining mengangguk patuh, ia pun kembali ke depan bersama suaminya dalam keadaan tubuh yang masih saja di serang rasa takut.

__ADS_1


Pak Bardi melihat penjuru ruangan yang kosong, tak ada satupun orang yang ia temukan namun ia masih yakin bahwa hantu itu belum meninggalkan rumahnya.


Pak Badri dengan waspada menaburkan garam itu ke seluruh ruangan dengan sembarangan, ia berharap dengan garam itu hantu yang tengah menduduki rumahnya bisa minggat.


"Pergi, jangan tempati rumah ku, kalau kau tidak mau pergi, aku akan bikin kau semakin menderita, aku akan buat kau tidak bisa tenang di dalam desa ini" usir pak Bardi dengan tegas sambil menaburkan garam asin itu.


Bu Nining berlindung di belakang tubuh pak Badri, ia menatap takut sekelilingnya.


Wussshhhh


Kelebat bayangan hitam melesat keluar dari dalam rumah bu Nining.


Sosok seram itu tertangkap di mata keduanya, pak Bardi berhenti menaburkan garam itu.


"Dia sudah pergi bu, kita berhasil membuatnya pergi" ujar pak Badri dengan gembira.


"Yang benar aja pak, masa dia udah pergi?" setengah tak percaya bu Nining.


"Iya bu dia sudah pergi, apa bapak bilang dia gak akan betah tinggal di sini, bapak gak akan biarkan dia menempati rumah kita" jawab pak Bardi.


Bu Nining tersenyum bahagia, hatinya sekarang sudah lega sebab hantu yang tadi menempati rumahnya sudah pergi jauh-jauh dari sini.


"Lain kali ibu jangan bawa orang masuk ke dalam kalau malem-malem, karena bisa aja itu bukan manusia walaupun dia adalah orang yang kita kenal, bapak gak mau kejadian serupa kembali terjadi" perintah pak Bardi.


"Iya pak, ibu gak akan gitu lagi, ibu gak akan tertipu lagi" jawab bu Nining.


"Ayo ibu kita ke kamar, waktunya kita istirahat, ibu jangan khawatir lagi, dia sekarang sudah gak tinggal di sini" bu Nining mengangguk, ia masuk ke dalam kamar bersama suaminya.


Di luar rumah sosok kuntilanak menatap tajam ke arah rumah bu Nining.

__ADS_1


"Sialan dia berhasil mengusir ku, kali ini kau memang membuat ku pergi, tapi besok kau tidak akan bisa apa-apa" tatapan tajam Kiki terus tertuju pada rumah bu Nining.


Kiki mengusap wajahnya yang di penuhi garam, garam itu membuat luka di tubuhnya perih dan pedih sehingga ia memutuskan untuk minggat dari rumah itu.


__ADS_2