Kuntilanak

Kuntilanak
Sakitnya kehilangan


__ADS_3

"Karan kenapa bu Jamilah tega membunuh istri ku, apa dia sudah tidak punya hati nurani lagi, kenapa dia tidak melihat kalau istri ku akan segera lahiran, masihkan dia tega membunuhnya dengan cara yang sangat sadis itu" tak menyangka pak Anton kalau bu Jamilah setega itu.


"Sejak kemarin malam aku memang berpikir seperti itu, tapi maaf Anton, aku tidak bisa menyelamatkan istri mu, di sini aku hanya seorang bawahan, aku tidak akan bisa melawan atasan ku"


Pak Anton mengerti keadaan Karan, dia menyesali semuanya, andai dia membawa Sekar bersamanya, mungkin sampai detik ini dia bisa melihat tawa dan senyuman manis istrinya.


"Apa tidak ada satupun orang yang mengevakuasi jenazah Sekar?"


Karan menggeleng, semua orang takut dengan ancaman bu Jamilah, mereka tidak berani melakukan itu semua, mereka tidak mau mencari mati berhadapan langsung dengan bu Jamilah.


Pak Anton memukul tanah dengan kesal, dia marah besar, marah pada dirinya sendiri karena dia tidak bisa menolong Sekar yang di siksa habis-habisan oleh iblis jahanam.


"Anton tidak ada satupun warga yang berani mengeluarkan jenazah Sekar dari dalam sumur tua itu, mereka di ancam sama bu Jamilah, mereka tidak berani melakukannya meskipun di antara mereka semua banyak yang tidak tega ketika melihat Sekar yang di siksa habis-habisan sama bu Jamilah"


"Karan aku tidak berguna, istri ku di aniaya oleh iblis jahanam itu tapi aku tidak bisa membantunya, aku tidak pantas hidup, percuma aku hidup, hidup di dunia ini tidak ada gunanya" pak Anton merasa bersalah karena tidak bisa menolong Sekar yang kesusahan, ia merasa hidupnya sudah tidak ada gunanya lagi, orang-orang yang dia cintai semuanya sudah pergi.


"Anton kamu jangan ngomong seperti itu, aku tau kamu terluka tapi kamu tidak boleh ngomong kayak gitu!"


"Sekar, kenapa kamu ninggalin aku" lirih pak Anton yang membuat siapapun yang mendengarnya tak tega.


Karan menenangkan pak Anton yang terpukul atas kematian Sekar, dia bisa merasakan bagaimana menjadi pak Anton meskipun dia tidak mengalaminya.

__ADS_1


"Karan aku akan balas dendam, tidak akan aku biarkan orang yang sudah membunuh istri ku hidup tenang, dia harus merasakan pedih dan sakitnya menjadi Sekar yang dengan tega dia bunuh hingga sesadis itu, lihat saja sampai mati aku tidak akan berhenti sebelum semua dendam ku terbalaskan" pak Anton menyimpan dendam yang besar pada bu Jamilah.


"Aku akan mendukung mu, aku akan selalu mendukung mu, kamu tenangkan diri mu, Anton aku mohon keluarkan Sekar dari dalam sumur tua itu, di sini hanya kamu yang bisa melakukannya, satupun warga tidak akan ada yang berani, mereka pasti takut dengan bu Jamilah"


"Ayo antarkan aku ke sumur tua itu, aku akan mengeluarkan jenazah Sekar, akan aku makamkan dia dengan layak" titah pak Anton.


"Jangan Anton" larang Karan cepat.


"Kenapa?"


"Di sana masih ada anak buahnya bu Jamilah, bu Jamilah mengutus anak buahnya untuk menjaga sumur tua itu agar tidak ada satupun warga yang mengeluarkan jenazah Sekar dari dalam sumur tua"


"Terus bagaimana caranya aku mengeluarkan jenazah Sekar, aku tidak mungkin biarkan dia kedinginan di dalam sumur itu terus menerus!"


"Aku tidak bisa Karan, aku ingin mengeluarkan jenazah Sekar hari ini juga, aku tidak mau dia kedinginan di dalam sumur itu terus menerus"


"Anton aku mohon kali ini dengarkan apa kata ku, aku tau kamu ingin segera memakamkan jenazah Sekar, tetapi ini akan tambah rumit, jika kamu nekat mengeluarkan jenazah Sekar detik ini juga, bu Jamilah pasti akan marah besar sama kamu, urusan akan bertambah panjang!"


"Biarkan, biarkan dia marah, aku tidak peduli lagi sama dia, dia sudah buat istri ku meninggal, aku akan balas semua perbuatannya, sampai mati aku akan buat dia menderita!" pak Anton sudah dendam setengah mati pada bu Jamilah, orang yang sudah membuat istrinya tewas dengan cara yang paling sadis.


"Anton kamu bilang kamu mau balas dendam, cara balas dendam yang terbaik itu bukan dengan cara langsung mengumbar kebencian secara terang-terangan, tetapi berusaha mendekatinya, kamu harus bisa mendapatkan kepercayaannya, baru setelah itu kamu hancurkan dia secara perlahan-lahan, itu adalah cara terbaik untuk balas dendam, percuma kamu dengki pada bu Jamilah, karena kamu pasti akan kalah, dia itu orang kaya, dia bisa melakukan apa saja dengan uangnya!"

__ADS_1


Pak Anton merenungi kata-kata Karan dan semua perkataannya benar, tidak ada satupun yang salah.


"Kamu datang dan ambil kepercayaannya, baru setelah itu kamu hancurkan dia sedalam samudera, biar dia tau bagaimana rasanya menjadi Sekar!"


Pak Anton mengangguk, dia akan melakukan itu semua, dia akan menjadi musuh dalam selimut, tidak terlihat tapi berbisa.


"Hentikan tangisan mu, ayo ikut ke rumah ku, nanti malam baru aku akan antarkan kamu ke sumur tua itu lagi, aku akan bantu kamu mengevakusi jenazah Sekar"


Pak Anton mengikuti Karan pulang ke rumah, Karan membawa pak Anton ke rumahnya, dia tidak bisa membiarkan sahabatnya sendirian di saat dirinya tengah rapuh, dia takut pak Anton berbuat yang tidak-tidak karena frustasi akibat kehilangan Sekar.


Pak Anton duduk diam di salah satu kamar yang ada di rumah Karan, dia tidak merasa lapar meskipun jam kini sudah menunjukkan pukul 12 siang.


Pak Anton terus memikirkan Sekar, gadis itu selalu memberikan perhatian padanya, dia merasakan indahnya kehidupan ketika bersama Sekar, namun kini sosok gadis itu sudah tidak ada, dia pergi meninggalkannya di saat kurang beberapa hari lagi sang buah hati akan segera lahir, anak yang pak tunggu-tunggu selama ini ikut pergi bersama istrinya.


"Sekar maafkan aku, maaf aku tidak bisa menolong mu, maafkan aku sayang, aku tidak bisa berbuat apa-apa, aku mohon maafkan aku"


Pak Anton merasa bersalah atas kematian Sekar, dia terus memikirkan mendiang istrinya yang di kabarkan sudah meninggal dunia.


Ingatan di mana momen awal pak Anton bertemu dengan Sekar, hari-harinya yang terlewati bersama Sekar, susah senang dan sedih yang terlalu bersama terus berputar-putar di benak pak Anton, dia ingin rasanya memeluk erat tubuh Sekar yang sudah sangat ia rindukan.


"Sekar maafin aku, maaf aku tidak bisa nolong kamu"

__ADS_1


Karan yang mendengar ucapan pak Anton merasa sangat prihatin, dia tau bagaimana hancur dan terlukanya sahabatnya ketika mendengar sang istri yang dia cintai selama ini telah meninggal.


"Kasihan Anton, setelah bertahun-tahun akhirnya dia menikah dan punya keluarga lagi, tapi apa ini, takdir kembali membuatnya hancur, kenapa hidup Anton sehancur ini, mengapa takdir tidak berpihak sama sekali padanya" pelan Karan yang merasa prihatin dengan kehidupan pak Anton yang penuh luka.


__ADS_2