
Di sisi lain bu Jamilah berada di dalam rumahnya, ia menatap sekeliling kamarnya, lagi-lagi ia tidur sendirian di kamarnya, juragan Doni menjaga ladang, ia tidak bisa tidur di ladang karena banyak nyamuk, alhasil mau tidak mau dia harus tidur di kamar sendirian.
Mata bu Jamilah terus menatap sekitarnya, ia menjadi tidak tenang, ketika di malam hari ia merasa takut yang berlebihan, ulahnya berhasil membuatnya tertekan, sedikit menyesal karena apa yang telah dia lakukan membuatnya menderita.
"Aman gak ya aku tidur, tapi gimana kalau tiba-tiba Sekar datang dan gangguin aku, aku gak mau di ganggu lagi sama dia, gimana caranya aku terlepas dari dia, kenapa dia terus menerus ganggu aku, apa mungkin karena aku yang udah bunuh dia?"
Bu Jamilah merasa takut karena hal itu yang membuat Sekar mengganggunya tanpa henti, dari awal Sekar tewas, dia yang pertama kali di datangin dan di ganggu habis-habisan sampai detik ini.
"Aku udah minta maaf sama dia, tapi dia gak mau maafin aku, bagaimana caranya aku berdamai sama dia, aku gak mau berada di keadaan kayak gini terus, aku gak sanggup begini terus" ujar bu Jamilah yang ketakutan tiada tanding.
"Apa yang harus aku lakukan buat usir dia, aku harus gunain cara apa agar dia bisa pergi dari sini, aku gak bisa diemin dia pergi, aku gak akan bisa hidup tenang kalau dia masih berkeliaran bebas di tempat ini" tambah bu Jamilah yang memutar akal untuk bisa terlepas dari jerat si kuntilanak.
Bu Jamilah resah, ia sungguh tidak bisa tenang kalau di malam hari seperti ini.
tik
tok
tik
tok
Suara jam yang terdenting terdengar di telinga bu Jamilah, suara apapun akan terdengar di keadaan takut.
trak
Dari dalam bu Jamilah mendengar suara daun yang jatuh ke tanah, entah mengapa ia merasa takut yang luar biasa, belum apa-apa saja ia sudah di bikin takut oleh keadaan yang semakin lama semakin menakutkan.
__ADS_1
Keringat-keringat dingin bercucuran di dahi bu Jamilah, ia merasakan takut yang luar biasa malam ini, karena malam-malam sebelumnya ia sudah di hajar habis-habisan oleh Sekar, ia terbilang trauma dengan gangguan itu.
"Aku gak bisa gini terus, aku akan mati kutu kalau aku gini terus, aku harus keluar dari kamar ini, aku harus minta satpam buat jangan tidur, biar yang bergadang agar aku gak di ganggu sama hantu"
Bu Jamilah beranjak dari tempat tidur, dengan secepat kilat ia keluar dari dalam kamarnya, ia seperti di kejar-kejar oleh hantu saking takutnya padahal tidak ada gangguan sama sekali yang mendatanginya.
Bu Jamilah berjalan dengan langkah cepat, ia terus menoleh ke belakang, ia khawatir ada makhluk halus yang mengikutinya keluar.
Bugh!
Bu Jamilah tak sengaja menabrak seseorang akibat ulahnya, karena sakit paniknya ia sampai menabrak orang.
"Kamu kalau jalan pake mata!" hardik bu Jamilah yang melototkan matanya ke arah orang yang berdiri di depannya.
Di sini dia yang salah, namun sebagai bos besar ia tidak mau di salahkan, apapun yang terjadi ia tidak mau di cap salah.
"M-maaf bu, saya gak sengaja, sungguh saya gak sengaja bu" Mala terbata-bata, ia tau bahwa di sini bu Jamilah yang salah karena bu Jamilah yang menabraknya, namun lantaran dirinya adalah bawahan, ia tidak bisa memarahi bosnya karena itu akan mengancam pekerjaannya.
"Kamu mau kemana, kenapa kamu habis dari gudang?"
Tatapan maut bu Jamilah tertuju pada Mala, di hatinya terbesit rasa kecurigaan yang mendalam, semenjak suaminya ketahuan selingkuh ia menjadi sinis dan lebih kritis.
"Saya habis narok barang bekas yang gak di pake di sana bu, tadi siang juragan Doni suruh saya letakin barang-barang itu di gudang, tapi saya baru sempat naroknga sekarang" jawab Mala dengan menunduk, ia takut sekali bu Jamilah marah, ia takut bu Jamilah memecatnya.
Dari dulu bu Jamilah memang di kenal garang dan tidak punya hati, ia semena-mena terhadap karyawan, ia tidak memikirkan hati karyawan sama sekali.
"Owh, kalau begitu sekarang kamu ikut saya" ajak bu Jamilah dengan wajah yang biasa, ia tidak mau menunjukkan bahwa dirinya sedang ketakutan, ia tak ingin Mala meledekinya.
__ADS_1
"K-ke mana bu, ibu akan bawa saya kemana?" penasaran Mala dengan tujuan bu Jamilah mengajaknya.
"Udah kamu ikut aja, nanti kamu juga akan tau" jawab bu Jamilah lalu berjalan di depan duluan.
Mala sebagai bawahan pasrah, ia berjalan mengikuti bu Jamilah dari belakang, dalam hati dirinya ketar-ketir karena takut bu Jamilah melakukan hal yang tidak-tidak padanya, apalagi sekarang ini waktunya ia istirahat, namun waktu istirahatnya terganggu gara-gara bu Jamilah.
Bu Jamilah membawa Mala ke ruang tamu, Mala mengerutkan alis, ia bingung apa yang akan bu Jamilah lakukan sehingga membawanya kemari.
"Ibu ngapain bawa saya kemari, apakah akan ada tamu yang datang?" dengan takut Mala bertanya pada bu Jamilah.
"Gak ada tamu yang akan datang, saya ajak kamu kemari biar kamu gak tidur di jam segini, ini masih belum larut loh, lebih kamu temani saya di sini" suruh bu Jamilah.
Sontak Mala pun terkejut, tidak biasanya bu Jamilah seperti ini, ia bingung mengapa majikannya memintanya untuk menemaninya di ruang tamu tanpa ada tujuan apapun.
"Kok tumben ibu kayak gini, biasanya dia paling gak suka ada orang yang berada di dekatnya, kenapa tiba-tiba dia minta aku buat nemenin dia di ruang tamu, apa yang terjadi padanya, kenapa tiba-tiba dia berubah draktis kayak gini" batin Mala bertanya-tanya, ia menaruh rasa curiga pada bu Jamilah.
Mala keheranan dengan perintah bu Jamilah yang benar-benar tak masuk akal.
Mala melirik ke jam yang terpampang di dinding yang kini menunjukkan pukul 1 malam.
"Bu Jamilah bilang kalau ini masih belum larut, ini udah jam 1 kenapa ibu bilang masih belum larut" batin Mala yang tak habis pikir.
Dengan sangat heran Mala pun bersedia menemani bu Jamilah di ruang tamu malam ini meskipun ia mulai merasa di serang sama yang namanya rasa kantuk.
Mereka berdua sama-sama diam, tidak ada percakapan yang terjadi, Mala mulai bosan dengan keadaan ini, ia menjadi tertekan di buat bu Jamilah, ia ingin pergi namun ia tidak punya nyali untuk melakukannya.
Yang Mala lakukan sejak tadi hanya bolak balik menatap jam yang sepertinya tidak berputar.
__ADS_1
"Kapan habisnya ini, aku gak bisa diem begini terus, aku udah capek kerja seharian, aku pengen istirahat, tapi kenapa bu Jamilah malah nyiksa aku kayak gini" batin Mala yang hanya bisa mengumpat tak berani mengutarakan secara langsung pada orang yang bersangkutan.
"Kalau begini terus sampai pagi aku tetap diam di sini, aku harus cari cara agar bisa pergi dari sini, aku gak bisa begadang hanya karena nemanin bu Jamilah" batin Mala yang mulai memutar akalnya untuk pergi dari sini dan terlepas dari bu Jamilah.