Kuntilanak

Kuntilanak
Kematian Tono


__ADS_3

Sekar menyesali semuanya yang terjadi padanya hari ini, namun nasi sudah menjadi bubur, semuanya tidak akan bisa di perbaiki.


Matahari telah terbenam dengan sempurna, Sekar mencoba bangun dari tidurnya, ia langsung kembali menangis karena merasakan sakit di **** *************.


"Ibu aku hancur, dia menghancurkan aku ibu, pria keji itu menghancurkan ku ibu" lirih Sekar tak terima saat juragan Doni mengambil sesuatu yang menjadi mahkotanya.


Sekar dengan sisa tenaga yang dia punya memunguti baju-bajunya yang berserakan di mana-mana, ia mengenakan kembali pakaiannya dengan air mata yang terus mengalir.


Sekar menghapus air matanya."Sekar kamu jangan nangis, jangan sampai orang tua mu curiga kalau kamu pulang dengan mata yang sembab, kamu harus sembunyikan ini semua, ini semua agar orang tua mu tidak di hina oleh orang-orang karena punya anak yang sudah tidak suci seperti mu"


Sekar berusaha untuk terlihat biasa saja, meskipun separuh hidupnya sudah hancur berkeping-keping.


Sekar berjalan keluar dari dalam kamar itu dengan tertatih-tatih, ia menjadi sulit untuk melangkah.


Juragan Doni duduk di kursi kebesarannya, ia hanya melihat Sekar yang keluar dari kantornya tanpa melakukan apa-apa, hari ini ia benar-benar puas saat wanita yang ia incar berhasil ia dapatkan meskipun dengan cara yang hina.


Sekar dengan air mata yang sesekali mengalir pulang ke rumahnya, suasana malam yang gelap dan sekeliling yang sepi membuat Sekar merasa sedikit lega karena tidak akan ada orang yang melihatnya yang di rundung kesedihan.


Dengan tertatih-tatih Sekar berjalan, saat keluar dari area perkebunan juragan Doni, Sekar melangkah menuju rumahnya yang sudah tidak seberapa jauh.


Jalanan desa tiba-tiba sepi, tidak ada orang satupun yang Sekar lihat, Sekar merasa beruntung karena tidak akan ada orang yang curiga karena ia pulang malam-malam begini ke rumahnya dalam keadaan dirinya yang sudah hancur.


Setelah sampai di rumahnya Sekar langsung menuju kamar mandi, ia mengguyur tubuhnya dengan air, sesekali air mata ikut mengalir saat teringat kejadian di mata si tua bangka itu menghancurkannya dengan cara yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.


"Ibu tolong Sekar, Sekar tidak terima dia mengambil apa yang Sekar jaga, tapi Sekar tidak bisa bilang sama ibu, itu semua akan percuma, juragan Doni tidak akan kalah, dia pasti akan membuat hidup Sekar semakin hancur hiks hiks hiks" tangis Sekar di malam yang gelap.


"Ibu maafin Sekar karena Sekar gak jujur sama ibu" lirih Sekar.

__ADS_1


Sekar tak peduli berapa banyak air mata yang mengalir, hari ini ia benar-benar hancur, segalanya hancur hari ini.


Setelah puas menangis Sekar keluar dari kamar mandi, ia langsung menuju kamarnya, membentangkan sajadah dan sholat magrib dengan air mata yang terus mengalir di sepanjang sholat.


Ketika sholat itu usai Sekar mengangkat kedua tangannya.


"Ya Allah ampunilah dosa hamba, ampunilah dosa hamba ya Allah, hamba minta ampunan mu ya Allah, hari ini hamba di nodai oleh orang jahat ya Allah, tolong kuatkanlah hamba mendapatkan cobaan ini" Sekar dengan air mata yang mengalir menceritakan semua yang terjadi dengannya pada Allah, tuhan semesta alam.


Lama sekali Sekar berdoa, ia tidak menyadari kalau ada perubahan di dalam rumah ini.


Setelah selesai sholat isya' Sekar membaringkan tubuhnya di kasur, ia tidur dalam perut kosong, tak ada rasa lapar sama sekali yang menyerang Sekar, saat ini yang ada hanya kesedihan karena aset berharganya di ambil oleh orang yang saat ini paling ia benci di dunia.


Sesekali air mata mengalir di wajah Sekar, ia menangis tanpa suara takut bapak dan ibunya mendengar tangisannya, ia tidak akan bisa menjawab kalau ibu dan bapaknya bertanya mengapa dia menangis.


Lama-kelamaan mata Sekar tertutup rapat, ia masuk ke dalam alam mimpi setelah lelah menitihkan air mata.


Sekar yang baru memejamkan mata terkejut ketika mendengar suara ambulance.


"Suara ambulance, siapa yang meninggal, kenapa suara seperti mendekati rumah ini" panik Sekar ketika suara ambulans semakin nyaring saja.


Dengan paniknya Sekar keluar dari kamarnya, ia ingin tau siapa yang meninggal dunia di desa malam ini.


Mobil ambulance berwarna putih berhenti tepat di depan rumah Sekar, Sekar mematung saat melihat ibunya keluar dari dalam ambulance dengan air mata yang terus mengalir.


Sekar masih tidak mengerti apa yang sudah terjadi sehingga ada banyak orang yang mendatangi rumahnya dan mengapa ada mobil ambulance yang berhenti di depan rumahnya.


Dengan rasa penasaran yang menjadi-jadi Sekar mendekati ibunya yang menangis histeris.

__ADS_1


"Ibu ada apa, kenapa ada ambulance datang ke sini, siapa yang sebenarnya meninggal?"


"Sekar, Sekar bapak kamu meninggal" jawab Mirna dengan air mata yang terus berjatuhan.


Setetes air mata mengalir di wajah Sekar, ia terkejut saat tau kalau bapaknya meninggal dunia.


"Gak mungkin, bapak gak mungkin meninggal, ibu bilang sama Sekar, kalau bapak gak meninggal" Sekar menolak fakta, ia tidak percaya saat ibunya bilang kalau bapaknya meninggal dunia.


Mirna tidak menjawab, ia terus menangis tersedu-sedu di teras rumah, ia juga sama-sama tidak menyangka akan kehilangan suaminya padahal tadi pagi suaminya baik-baik saja.


"Ibu jawab pertanyaan Sekar, bapak gak mungkin meninggalkan!"


Mirna tutup mulut, ia hanya terus menangis, rasanya tak sanggup ia bilang semuanya pada Sekar.


"Sekar bapak kamu meninggal, dia meninggal di rumah sakit" jelas bu Robi'ah yang berada di dekat Sekar.


"Kenapa bapak bisa meninggal bik, apa yang sudah terjadi sama bapak hiks hiks hiks" tangis Sekar, di hari kehancuran ia semakin di buat hancur saat mendengar kalau bapaknya meninggal dunia.


"Bapak kamu di tabrak sama orang yang tidak bertanggung jawab saat pergi mulung, bapak kamu di temukan sama pak RT dalam keadaan yang sudah lemas di tengah jalan" jelas bu Robi'ah.


Tangis Sekar semakin keras, tak pernah ia duga bahwa bapaknya akan pergi secepat ini, ia tidak pernah berpikir kalau kehilangan tokoh terbaik dalam hidupnya di hari di mana ia di hancurkan oleh laki-laki yang bejat seperti juragan Doni.


Di tengah keramaian Sekar terus menitihkan air mata, ia tidak mempedulikan siapa saja yang datang ke rumahnya setelah tau kalau bapaknya meninggal dunia.


Para petugas ambulance membawa masuk jenazah Tono yang sudah tidak bernyawa.


Warga-warga laki-laki berangkat ke kuburan karena malam ini jenazah Tono akan di makamkan, pak RT meminta jenazah Tono di makamkan malam ini juga, karena kasihan kalau jenazah di biarkan menunggu sampai esok pagi.

__ADS_1


__ADS_2