Kuntilanak

Kuntilanak
Akhir hidup Sekar


__ADS_3

Sekar panik, rasa tegang menyelimuti tubuh Sekar, Sekar berlari dengan memegangi perutnya yang terus terasa sakit, sesekali ia menoleh ke belakang tiba-tiba.


Brukk!


Sekar jatuh tersandung tanaman-tanaman merambat.


"Aaaaah" teriak Sekar yang perutnya bertambah sakit, Sekar memegangi perutnya yang sakit, dia meringis, rasa sakit itu dua kali lipat dari rasa sakit yang tadi.


"Auuw sakit" ringis Sekar, air mata mengalir bagaikan air hujan, Sekar menyadarkan punggungnya pada pohon yang ada di sana.


Mereka semua berhenti di dekat Sekar, mereka mengelilingi tubuh Sekar agar Sekar tidak lari lagi.


Sekar menatap takut ke arah mereka semua, dia terus menangis dengan harapan ada orang baik yang mau membantunya.


Seorang iblis jahanam keluar dan mendekati Sekar, matanya berkobar dendam yang sangat membara Sekar menangis histeris melihat iblis itu, Sekar takut bu Jamilah melakukan hal yang tidak-tidak pada anaknya.


"Kamu mau lari kemana lagi hah, saya tidak akan biarkan kamu pergi kemana pun!" tegas bu Jamilah yang hatinya sudah tidak memiliki hati nurani.


"Hiks hiks hiks maafkan saya bu, saya minta maaf, tolong ampuni saya, biarkan saya hidup, saya tidak akan ganggu hidup ibu lagi, saya mohon lepaskan saya" mohon Sekar yang kesakitan, tenaganya juga sudah berkurang, untuk bangun dari duduknya dia sudah tidak mampu, apalagi berlari dari mereka semua.


"Maaf kamu bilang? sampai mati saya tidak akan pernah mau maafin kamu, kamu sudah berani macam-macam sama saya, kamu belum tau siapa saya hah, saya akan perlihatkan siapa saya sebenarnya biar kamu dan semua orang yang ada di sini tau!" dengan tatapan kejam bu Jamilah berteriak ke arah Sekar yang kesakitan.


Sekar hanya terus menangis, dia berdoa semoga ada orang yang membantunya dalam keadaannya terpuruk seperti saat ini.


Bu Jamilah mengambil cambuk, Sekar langsung histeris melihat cambuk itu, dia seperti tau apa yang akan bu Jamilah lakukan padanya.


"Tolong maafin saya bu, saya mohon maafkan saya, biarkan saya melahirkan anak yang saya kandung, saya mohon bu berikan saya hidup" mohon Sekar, ia ketakutan hebat ketika melihat bu Jamilah memegang cambuk.


"Tidak, saya tidak akan biarkan orang seperti kamu hidup, kamu itu adalah wanita hina yang tak pantas untuk hidup, kalau saya biarkan kamu hidup, banyak ibu-ibu yang akan kehilangan suaminya, jadi lebih baik kamu mati saja!"


Sekar menggeleng dengan terus menangis, air mata bagaikan sungai, dia tidak menjadi wanita sehina itu sehingga mau mengambil suami orang, seandainya dia punya cara lain maka dia tidak akan melakukan itu semua.


Bu Jamilah yang di penuhi amarah mencambuk Sekar dengan sangat keras.


"Aaaaahh sakit, ibu tolong hentikan, sakit hiks hiks hiks" tangis Sekar yang kembali merasakan sakitnya di cambuk.

__ADS_1


"Ini adalah pelajaran buat kamu karena kamu sudah berani mengambil suami saya!" teriak bi Jamilah.


Bugh


Bugh


Bugh


Sekar menangis histeris, dia kembali merasakan sakit yang luar biasa, rasa sakit di perutnya dan rasa sakit dari cambukan itu menyatu, Sekar menangis kejer, Sekar terus memohon agar bu Jamilah menghentikannya.


Bu Jamilah tanpa henti mencambuk tubuh Sekar, dia menyiksa Sekar tanpa ampun.


Sekar terus menangis, dia terus memohon untuk di lepaskan tetapi bu Jamilah tidak mendengar sama sekali.


Orang-orang yah ada di sana diam, mereka tidak melakukan apapun, orang-orang yang benci pada Sekar full senyum ketika melihat Sekar yang di siksa habis-habisan sama bu Jamilah, namun tidak dengan orang yang tau dan mengenal baik Sekar selama ini, mereka sungguh kasihan sama Sekar, tetapi mereka tidak bisa berbuat apa-apa karena bu Jamilah adalah orang terpandang di desa ini.


Hari berganti menjadi gelap, kini waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam, namun sampai selama itu bu Jamilah belum berhenti yang menyiksa Sekar.


Sekar kini sudah lemas, matanya terpejam kuat, dia bisa mendengar apa yang mereka semua bicarakan, namun dia tidak bisa mengeluarkan suara walau sedikitpun.


Di kaki Sekar mengalir darah, anak yang ada di dalam kandungan Sekar ingin keluar namun tak ada satupun orang yang mau membantu Sekar, mereka hanya bisa menonton tak bisa membatu menyelamatkan anak yang ada di dalam kandungan Sekar.


Bu Jamilah berhenti mencambuk Sekar setelah melihat Sekar tidak bergerak, dia melihat sekelilingnya, sesuatu menarik perhatiannya.


"Kalian bawa ****** ini dan masukkan dia ke dalam sumur itu!" perintah bu Jamilah pada anak buahnya.


Mereka berdua yang merupakan anak buah bu Jamilah diam di tempat, mereka tak tega melakukan sesuatu yang sangat kejam itu pada Sekar meskipun atasannya menyuruhnya.


"Cepat kalian masukkan wanita hina itu ke dalam sumur, apa kalian mau juga bernasib sama seperti dia!" ancam bu Jamilah yang melihat anak buahnya tidak ada yang menurutinya.


Mereka dengan ragu-ragu mengangkat tubuh Sekar yang lemas tak bertulang, setetes air mata mengalir di pipi Sekar saat mereka mengangkat tubuhnya.


"Pak Anton datanglah, Sekar mohon datang dan tolongin Sekar" batin Sekar yang sudah tidak bertenaga lagi.


Mereka dengan tidak tega menceburkan Sekar ke dalam sumur tua itu.

__ADS_1


Semua orang menatap ke arah bu Jamilah, sungguh bu Jamilah benar-benar tega, dia tidak punya hati nurani sama sekali sehingga menghukum Sekar sampai separah dan sesadis itu.


Bu Jamilah menatap ke arah mereka semua yang berada di sana dan menyaksikan apa yang sudah dia lakukan pada Sekar.


"Kalian semua, jangan berani-beraninya nolongin wanita pelacur itu jika kalian tidak mau saya kubur hidup-hidup!" ancam bu Jamilah pada mereka semua yang berada di sana.


Mereka sontak menundukkan kepalanya takut, bu Jamilah benar-benar berubah menjadi iblis yang sangat kejam sehingga tanpa tega melakukan hal itu.


"Ingat jika sampai saya dengar di antara kalian semua menolong wanita pelacur itu, saya akan beri kalian hukuman yang lebih berat lagi!"


Tidak ada satupun di antara mereka yang berani menjawab, baik laki-laki maupun perempuan semuanya takut pada bu Jamilah.


"Sekarang kalian pergi dari sini, jangan berusaha menolong wanita hina itu, biarkan dia mati di sana!" usir bu Jamilah.


Mereka langsung membubarkan diri dari sana, mereka tidak berani berada di sana lebih lama lagi, mereka pulang ke rumah masing-masing, sesekali mereka membicarakan kejadian tragis yang menimpa Sekar hari ini.


Bu Jamilah mendekati juragan Doni yang diam tanpa mengatakan apapun, dia hanya melihat tak membela Sekar sama sekali.


"Ayo kita pulang" ajak bu Jamilah dengan sensi.


Juragan Doni pulang bersama istri dan juga anak buah bu Jamilah.


Di dalam sumur Sekar menangis tanpa suara, rasa sakit di tubuhnya semakin menjadi-jadi saat terkena air.


"Pak Anton tolongin Sekar, bawa Sekar keluar dari sini, di sini dingin" batin Sekar yang terus berharap pak Anton datang dan membawanya keluar dari sana meskipun dia tau itu tidak akan mungkin.


Sekar kedinginan di dalam sumur itu, dia terus berdoa semoga suaminya datang dan menyelamatkannya, setidaknya jika dia tidak berhasil selama yang penting anak yang ada di dalam kandungannya yang selamat.


Di saat keadaan Sekar yang terpuruk dia terus menyebut nama orang yang tak lain adalah pak Anton di bibirnya, dia merindukan sosok laki-laki yang melindunginya dan kini laki-laki itu tengah meninggalkannya, seandainya dia ada di sini, dia pasti akan menyelamatkannya.


Sekar menangis tanpa suara, tubuhnya semakin lama semakin lemah, dia takut tidak bisa melihat wajah tampan suaminya lagi, dia sungguh tidak ingin berpisah dengan orang yang dia cinta.


"Pak Anton tolong Sekar, bawa saya keluar dari sini" batin Sekar yang lemas.


Pelan-pelan Sekar kehilangan kesadarannya, dia sudah tidak bisa melihat indahnya dunia lagi.

__ADS_1


__ADS_2